Semula angka itu begitu berarti.
Mengingat kembali bagaimana suatu peristiwa tak terlupakan itu terjadi dibalik
angka 21. Pertemuan yang sudah biasa itu berujung menjadi sebuah ikatan yang
kian akrab antara seorang wanita dan pria muda. Menluruskan segala yang bengkok
dan membenarkan yang salah. Ketika sudah di butakan oleh api asmara, semua pun
terasa indah. Tak lagi mendengar perkataan dan cibiran orang, hanya perasaaan
lah yang berkutat tanpa memperdulikan idealisme. Semua berjalan dengan baik,
dengan ulasan senyuman dan dengan kemauan hati dan penuh perjuangan yang tak
semua orang bisa melihat bagaimana perjuangan itu berjalan seiring dengan
waktu. Angan dan mimpi untuk hidup bersama dan meraih semua mimpi-mimpi
melambung dengan tinggi ke angkasa, ditiup angina dan makin tinggi menuju
langit ke tujuh dan taka da yang dapat merengkuhnya lagi. Hari-hari bersama
begitu sangat dinantikan, untuk bercerita, saling memandang dan saling memeluk.
Manis. Semua manis dan berharap akan tetap berjuang demi sebuah cinta yang
terkadang terdengar klise. Saling memperhatikan, memanjakan diri dan semua
hanya untuk kebaikan berdua.
Semakin mengenal,
semakin tau bagaiman sisi-sisi baik-buruk antara satu dengan yang lain,semakin
tak dapat dipahami dan samakin tak ada jalan keluar yang didapat di setiap
permasalahan itu. Tak ada lagi arti peringatan di balik angka 21. Yang ada
hanya kebencian, bentakan dan celotehan yang membuat teloinga yang mendengarnya
tak nyaman.
Kejenuhan setelah
bersama dalam kurun waktu empat tahun menjadi penyebab utama. Kualitas dan
kwantitas kebersamaan justru tak menjamin suatu hubungan akan menjadi baik dan
langgeng. Semakin lama,akan semakin terlihat,mana yang baik dan buruk. Mata
mulai terbuka lebar,pandangan semakin jauh dan mulai membenarkan diri bahwa
berkutat disini akan semakin menyiksa. Anggapan yang salah pun menjadi
benar,tanpa mencari akar permasalaha. Sebab rasa jenuh,muak dan akal sehat
sudah terpengaruh oleh keburukan satu dengan yang lain. Saling mengekang satu
dengan yang lain dan membuat keduanya makin tak merasakan kenyaman dan tak ada lagi
chemistry yang terjadi. Tak ada lagi gandengan mesra. Menyibukkan diri
masing-masing dan melupakan semua perjuangan yang telah dilalui. Semua sirna,
saling ungkit kebaikan masing-masing. Membuat makin terpuruk dan selalu
mengungkit untuk berpisah. Amarah yang kian berkobar makin kuat dan membakar
tali kasih yang telah terjalin. Tak ada kenyamanan, tak ada kebersamaan, tinggal
menanti waktu untuk menjadi abu.
Meski demikian,
sudah mulai goyah dan mendekati ambang kehancuran, tapi di permukaan mereka
tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Membiarkan senyum penuh arti itu di
umbar kepada setiap orang yang mereka kenal. Hanya untuk menunjukan bahwa “Kami baik-baik saja” meski didalam hati
kami sesungguhnya dalam keadaan hancur dan Tidak Baik. Kebahagiaan semu itu
mampu dibuat sebagai sandiwara yang berjalan cukup lama tanpa terendus
siapapun,namun menyiksa sang actor dan aktris yang menjalaninya. Klise yang
mampu membuat orang terkagum itu adalah palsu. Tinggal menanti waktu yang tepat
untuk berbisah dan semuanya akan menjadi angin lalu.
Rasanya sakit…bahkan
teramat sakit..bila setiap bertemu yang ada hanyalah
permasalahan,amarah,bentakan dan sumpah serapah. Saling memperolok dan
mengungkit kebaikan. Tak ada yang bisa mengalah dan semua ingin menang sendiri.
Ketika wanita ingin didengarkan, maka ia berarti ingin diperhatikan, ingin
dipertahankan. Tapi ternyata Pria tak pernah mau tau dan selalu mempertahaankan
ideology dan merasa selalu benar. Pria justru tak mau tau. Itu yang membuat
wanita menjadi egois,menjadi wanita yang salah. Karena kaum prialah
penyebabnya. Pernahkah pria mengalah? Mengalah karena merasa dijajah, bukan
mengalah untuk menaklukan hati. Lagi-lagi, wanita menjadi kerban dalam setiap
permasalahan. Wanita ingin dipertahankan, bukan dicampakan. Bukan diberi
pilihan dengan kalimat “terserah” karena wanita itu ingin diutamakan. Untuk apa
sang wanita yang selalu ingin mempertahankan suatu hubungan bila sang pria memberi
pilihan dengan kalimat “terserah”
Kenangan yang
terukir dan tercipta dalam sebuah gambar dan foto tak lagi bisa menyatukan
mereka,tak lagi bisa di ingat,tak ada lagi kenangan indah untuk di
banggakan.Karena itu semua sudah menjadi sampah yang seharusnya dibuang. Karena
sudah tak ada gunanya lagi. Isakan air mata penyesalan mulai mengalir dan tak aka
nada artinya. Karena semua sudah terjadi, taka da lagi yang bisa terselamatkan.
Ketika mereka sudah saling memunggungi dan mulai berjalan maju kedepan.
Melangkah untuk melanjutkan hidup yang sempat terhenti sejenak. Inilah jalan
yang terbaik sebelum akan lebih banyak lagi yang tersakiti.
Kini, angka yang
penuh makna itu berakhir dalam sebuah kisah yang menyedihkan. Rasanya tak ingin
untuk melihatnya, ingin membuang setiap hal yang berhubungan dengan angka itu.
Semakin dibuang jauh,maka semua akan semakin baik. Meski sang wanita akan
menjadi korban,merasa sakit dan meradang. Tapi ia tak mampu berkata dan hanya
bisa menangis sendu tanpa bisa berontak dan meminta Tuhan untuk membuat semua
baik seperti dahulu. Tapi itu sia-sia saja. Dengan tertatih,ia berdiri dengan
terseok-seok. Nafas yang tersengal-sengal itu mulai ia stabilkan. Berpasrah dan
mencari pegangan yang selama ini ia acuhkan. Membaikkan diri dan
menginstropeksi diri. Melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang baik,tak
ada lagi dendam yang merongrong di dada. Menjadikan iklas dan belajar dari
sesuatu yang buruk, meski semua itu tak mudah seperti membalikan telapak tangan
dan tak semudah bernafas.
Akhir dari sebuah
angka dan akhir dari sebuah kisah. Tuhan tidak jahat, Tuhan memberikan cobaan
ini untuk melatih. Melatih menjadi seorang wanita yang super. Dan siap untuk ke
level selanjutnya. Karena Tuhan punya kado disetiap level yang mampu kita
lalui.
Karena Tuhan tidak
akan memberikan apa yang kita minta, tapi apa yang kita butuhkan.
When All Is Over…. L



Tidak ada komentar:
Posting Komentar