Rabu, 18 Juni 2014

21

Semula angka itu begitu berarti. Mengingat kembali bagaimana suatu peristiwa tak terlupakan itu terjadi dibalik angka 21. Pertemuan yang sudah biasa itu berujung menjadi sebuah ikatan yang kian akrab antara seorang wanita dan pria muda. Menluruskan segala yang bengkok dan membenarkan yang salah. Ketika sudah di butakan oleh api asmara, semua pun terasa indah. Tak lagi mendengar perkataan dan cibiran orang, hanya perasaaan lah yang berkutat tanpa memperdulikan idealisme. Semua berjalan dengan baik, dengan ulasan senyuman dan dengan kemauan hati dan penuh perjuangan yang tak semua orang bisa melihat bagaimana perjuangan itu berjalan seiring dengan waktu. Angan dan mimpi untuk hidup bersama dan meraih semua mimpi-mimpi melambung dengan tinggi ke angkasa, ditiup angina dan makin tinggi menuju langit ke tujuh dan taka da yang dapat merengkuhnya lagi. Hari-hari bersama begitu sangat dinantikan, untuk bercerita, saling memandang dan saling memeluk. Manis. Semua manis dan berharap akan tetap berjuang demi sebuah cinta yang terkadang terdengar klise. Saling memperhatikan, memanjakan diri dan semua hanya untuk kebaikan berdua.
          Semakin mengenal, semakin tau bagaiman sisi-sisi baik-buruk antara satu dengan yang lain,semakin tak dapat dipahami dan samakin tak ada jalan keluar yang didapat di setiap permasalahan itu. Tak ada lagi arti peringatan di balik angka 21. Yang ada hanya kebencian, bentakan dan celotehan yang membuat teloinga yang mendengarnya tak nyaman.
          Kejenuhan setelah bersama dalam kurun waktu empat tahun menjadi penyebab utama. Kualitas dan kwantitas kebersamaan justru tak menjamin suatu hubungan akan menjadi baik dan langgeng. Semakin lama,akan semakin terlihat,mana yang baik dan buruk. Mata mulai terbuka lebar,pandangan semakin jauh dan mulai membenarkan diri bahwa berkutat disini akan semakin menyiksa. Anggapan yang salah pun menjadi benar,tanpa mencari akar permasalaha. Sebab rasa jenuh,muak dan akal sehat sudah terpengaruh oleh keburukan satu dengan yang lain. Saling mengekang satu dengan yang lain dan membuat keduanya makin tak merasakan kenyaman dan tak ada lagi chemistry yang terjadi. Tak ada lagi gandengan mesra. Menyibukkan diri masing-masing dan melupakan semua perjuangan yang telah dilalui. Semua sirna, saling ungkit kebaikan masing-masing. Membuat makin terpuruk dan selalu mengungkit untuk berpisah. Amarah yang kian berkobar makin kuat dan membakar tali kasih yang telah terjalin. Tak ada kenyamanan, tak ada kebersamaan, tinggal menanti waktu untuk menjadi abu.
          Meski demikian, sudah mulai goyah dan mendekati ambang kehancuran, tapi di permukaan mereka tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Membiarkan senyum penuh arti itu di umbar kepada setiap orang yang mereka kenal. Hanya untuk menunjukan bahwa “Kami baik-baik saja” meski didalam hati kami sesungguhnya dalam keadaan hancur dan Tidak Baik. Kebahagiaan semu itu mampu dibuat sebagai sandiwara yang berjalan cukup lama tanpa terendus siapapun,namun menyiksa sang actor dan aktris yang menjalaninya. Klise yang mampu membuat orang terkagum itu adalah palsu. Tinggal menanti waktu yang tepat untuk berbisah dan semuanya akan menjadi angin lalu.
          Rasanya sakit…bahkan teramat sakit..bila setiap bertemu yang ada hanyalah permasalahan,amarah,bentakan dan sumpah serapah. Saling memperolok dan mengungkit kebaikan. Tak ada yang bisa mengalah dan semua ingin menang sendiri. Ketika wanita ingin didengarkan, maka ia berarti ingin diperhatikan, ingin dipertahankan. Tapi ternyata Pria tak pernah mau tau dan selalu mempertahaankan ideology dan merasa selalu benar. Pria justru tak mau tau. Itu yang membuat wanita menjadi egois,menjadi wanita yang salah. Karena kaum prialah penyebabnya. Pernahkah pria mengalah? Mengalah karena merasa dijajah, bukan mengalah untuk menaklukan hati. Lagi-lagi, wanita menjadi kerban dalam setiap permasalahan. Wanita ingin dipertahankan, bukan dicampakan. Bukan diberi pilihan dengan kalimat “terserah” karena wanita itu ingin diutamakan. Untuk apa sang wanita yang selalu ingin mempertahankan suatu hubungan bila sang pria memberi pilihan dengan kalimat “terserah”
          Kenangan yang terukir dan tercipta dalam sebuah gambar dan foto tak lagi bisa menyatukan mereka,tak lagi bisa di ingat,tak ada lagi kenangan indah untuk di banggakan.Karena itu semua sudah menjadi sampah yang seharusnya dibuang. Karena sudah tak ada gunanya lagi. Isakan air mata penyesalan mulai mengalir dan tak aka nada artinya. Karena semua sudah terjadi, taka da lagi yang bisa terselamatkan. Ketika mereka sudah saling memunggungi dan mulai berjalan maju kedepan. Melangkah untuk melanjutkan hidup yang sempat terhenti sejenak. Inilah jalan yang terbaik sebelum akan lebih banyak lagi yang tersakiti.
          Kini, angka yang penuh makna itu berakhir dalam sebuah kisah yang menyedihkan. Rasanya tak ingin untuk melihatnya, ingin membuang setiap hal yang berhubungan dengan angka itu. Semakin dibuang jauh,maka semua akan semakin baik. Meski sang wanita akan menjadi korban,merasa sakit dan meradang. Tapi ia tak mampu berkata dan hanya bisa menangis sendu tanpa bisa berontak dan meminta Tuhan untuk membuat semua baik seperti dahulu. Tapi itu sia-sia saja. Dengan tertatih,ia berdiri dengan terseok-seok. Nafas yang tersengal-sengal itu mulai ia stabilkan. Berpasrah dan mencari pegangan yang selama ini ia acuhkan. Membaikkan diri dan menginstropeksi diri. Melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang baik,tak ada lagi dendam yang merongrong di dada. Menjadikan iklas dan belajar dari sesuatu yang buruk, meski semua itu tak mudah seperti membalikan telapak tangan dan tak semudah bernafas.
          Akhir dari sebuah angka dan akhir dari sebuah kisah. Tuhan tidak jahat, Tuhan memberikan cobaan ini untuk melatih. Melatih menjadi seorang wanita yang super. Dan siap untuk ke level selanjutnya. Karena Tuhan punya kado disetiap level yang mampu kita lalui.

          Karena Tuhan tidak akan memberikan apa yang kita minta, tapi apa yang kita butuhkan. 


When All Is Over….






Tidak ada komentar:

Posting Komentar