Cinta Takkan Salah

‘’Cinta....hari ini tamu atas nama Lexi Zamir  tiba di bandara  jam tiga sore, mungkin sampai di villa jam setengah limaan..selagi aku pergi, tolong handle sebentar...’’ ucap Caroline sambil membereskan mejanya, dan aku hanya terdiam mendengar celotehannya tanpa mampu untuk berkomentar apapun.  “ Cinta..please !!! “ ucapnya sambil memandang wajah bete ku. “ Cinta..” dia memanggilku lagi. “ Yesss Madam.........” aku menyaut. “Please honey....” ucapnya lagi. “ Ok..” aku menjawab singkat sambil meninggalkannya.
    Hmsss,,,,bekerja disini harus multi talenta...Aku sudah 2 tahun bekerja sebagai seorang Accounting di sebuah Management Privat Villa yang memiliki 5 Villa di daerah canggu, Bali. Terlebih di management Villa ini , owner kami tidak berada di Indonesia melainkan Di Jerman, sedangkan yang bertanggung jawab disini adalah Ibu Surya, si manager yang pengertian sekali dan merakyat.  Namun kadang kala aku juga harus siap menerima tugas-tugas lain yang tak terduga, sebagai penyambut tamu seperti ini bila Caroline si calon Ibu bagian reservasi itu sibuk seperti saat ini, ia ingin pulang cepat karena akan check up kandunganya. Yach meski jadi reservasi dadakan tak begitu sulit. Hanya say hello, apa kabar, persilahkan masuk dan selanjutnya biarkan para mbak-mbak waitris yang menemaninya kemudian. Tidak sulit, namun... saat ini aku sedang tidak memiliki mood yang baik untuk menjadi pagar ayu di depan Villa. Selain itu model Villa di tempatku adalah model sebuah rumah yang memiliki banyak fasilitas tidak seerti villa-villa lainnya yang merupakan suatu bangunan dengan banyak kamar. Yaaaach namanya juga privat villa... namun tidak menutup kemungkinan dalam satu villa ada dua penghuni yang tidak saling mengenal, dan itu pun terjadi apavbila sedang full booking. Terlebih villa macam seperti inilah yang sering di cari banyak orang-orang bule yang ingin relax di tempat yang sepi, sejuk dan pemandangan yang natural sekali. Di daerah Canggu ini, tepatnya di pantai seseh merupakan salah satu tempat favorite bule-bule itu. Jauh dari keramaian, masih banyak sawah- sawah hijau dangan terasering yang memukau, selai itu dekat pantai dengan deburan ombak yang menarik hati. Itu sebabnya, villa lu sangat di gemari banyak bule, mereka rela mengeluarkan banyak uang ribuan dolar untuk sekedar refresing beberapa malam saja. Aku bersyukur sekali bisa berada di sini, selain itu rekan-rekan kerjaku juga teramat sangat pengertian. Segala sesuatu yang bisa di selesaikan akan di selesaikan secara kekeluargaan sebelum sampai di telingan bos. Dan bos hanya menerima laporan beres dari Ibu Surya, kecuali masalah yang tidak dapat terselesaikan.
    “ Namanya Lexi Zamir,dia datang sendiri tanpa teman, asli India tapi dia seorang excutif muda yang tinggal di Singapore dan akan berlibur di Bali selama 10 hari..” jelas Caroline padaku.” Ok, terus???? “  “Siapa tau aja dia datang ke Bali untuk mencari jodoh sekalian,kan lumayan tuh buat kamu “ candanya di iringi gelak tawa mengejek.  Aku menghela nafas panjang sambil melihatnya tertawa seperti setan. ´´Oke,, nona manis...aku pergi dan selamat berjuang demi nusa dan bangsa...´´ katanya lebai dengan tidak bersalah sama sekali. Aku segera berpamitan dengan Mas Anton, si Head Accounting di kantorku untuk segera ke Villa Cantik, salah satu nama Villa dari ke lima Villa milik owner ku untuk bersiap-siap menyambut kedatangan si tamu. Setelah Mas Anton mengganguk setuju, aku pun segera pergi meninggalkannya di ruangan seorang diri. Cukup berjalan kaki saja, karena letak antara kantorku dengan bangunan ke lima Villa tidak begitu jauh.
    Penyambutan di villa ku ini adalah, setiap tamu datang si pagar  ayu yang menyambut harus berpakaian kebaya khas bali untuk menunjukan citra bali di mata mereka. Meskipun owner ku adalah orang Jerman, tapi masih ada darah Bali nya. Oleh karena itu dia menjunjung Bali banget. Setelah mengganti bajuku, aku duduk-duduk sebentar di living room yang menghadap ke arah kolam dan sawah. Sejuk sekali rasanya, di iringi semilir angin yang membuat aku merasa agak ngantuk sampai akhirnya aku pun sedikit merilexkan mataku, meski hanya beberapa detik.
    ´´ Hello......How are you????´´ Sapaan itu mengagetkan aku, tersentak aku terbangun dengan wajah pucat setelah melihat seseorang di hadapannku. Aku cepat- cepat terbangun dari duduk ku dan meraikan pakaianku di hadapannya, sambil melihat di sekelilingku yang sudah gelap. Aku memandangnya masih dengan samar-samar karena mataku yang masih redup beberapa watt. Aku celingukan di depannya, sambil mencari-cari kemana si sopir dan mbak-mbak waitris yang harus stand by disini.
‘’ Maaaaafff....´´ bisikku dengan bahasa Inggris , dia tersenyum kecil sambil memandangku lucu, yang membuat ku salah tingkah dan tak mampu memandangnya, aduuuuuhhhh aku ketiduran nech, malu-maluin aja......!!!!!!! Dia pun berbalik badan menghadap ke arah sawah dan mendengarkan para jangkrik yang bernyanyi, sedangkan aku cepat-cepat merapikan pakaianku sambil terus memandanginya penuh dengan kegelisahan berharap ia tak mengadukan perbuatanku ini ke pada Ibu Surya dan yang paling parah adalah sampai ke Ownerku yang lagi duduk manis itu.. Tidaaaaaaaaakkkkkk,,,,, semoga tidak terjadi.  ´´Hmsssss...maaf, apa anda sudah datang dari tadi? ´´aku mencoba untuk mendekatinya. ´´ Tidak...Pesawat saya dilayed 2 jam, maaf sudah membuat kamu menunggu agak lama sampai kamu ketiduran´´ jawabnya dengan senyum yang mengejek. Yang membuat aku semakin malu. ´´ Ohhh begitu, lalu dimana Wayan, si sopir  yang menjemput anda?´´           ´´ Dia sedang membawa koper-koper saya ke kamar´´ jawabnya singkat. ´´ Ohhhhhh...´´ aku hanya mampu mendesis saja. Aku melirik jam tangan ku dan waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. ´´´Tempat yang indah ya..´´ pujinya yang masih menikmati memandangan malam di sawah-sawah dan samar-samar terdengar nyanian ombak yang hanya berjarak 200 meter dari villa. Aku mendekatinya untuk segera berpamitan untuk pulang, karena sudah malam dan hal ini sudah masuk overtime ku meskipun aku sempat tertidur sejenak. ´´Permisi, Pak...!´´ ucapku sopan. Dia membalikan badannya yang agak tinggi itu dan kini aku bisa melihat wajahnya yang tertimpa sinar remang-remang living room. Aku terhenyak sesaat, sepertinya aku pernah melihat wajahnya, dan sangat familiar sekali. Dia memandangku lekat-lekat, sedangkan aku terdiam bukan karena pandangannya tapi aku sedang mengingat-ingat dimana aku pernah melihatnya.  ´´Heloooooo...........´´ Sapanya yang melihatku terbenggong. Aku terkaget, gilaaaaa..... kurang ajar amat ceh nie orang, bathinku kesal dan seketika aku teringat sesuatu.....                                                                        “Lexi Zamiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrr..............!!!!!!!!!!!!´´ aku berteriak seakan tak percaya dengan hal ini. Ia terkaget dan melihatku lagi. Tiba- tiba saja aku ingin menangis kencang sekali.   ´´Heiiiii...... ada apa, Nona????´´ dia terkaget.  Ternyata dia, adalah Lexi Zamir yang  ku kenal lewat chatting yahoo massanger dan selama chatting, aku pura-pura menggodanya dengan rayuan mautku. Hanya untuk membuatnya ge-er saja tidak lebih dari itu. Setiap kita chatting aku selalu menyanyikan lagunya The Corss yang judulnya What can i do. What can i do to make you love me? What can io do to make u care? Hahahahahaha,,,, dia pun terpesona dengan rayuan mautku. Tapi ujung-ujungnya dia menolak dengan tegas bahwa ia sudah memiliki kekasih. Duaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr meledak lah,, karena seoarng Cinta si Malaikat Penggoda tidak mampu mengalahkan si Lexi Zamir itu. Malulah aku seketika. Yang ku kenal selama 2 tahun kemarin, dia memang seorang executif muda yang sibuk dan padat di sebuah Agen investor yang memberikan banyak modal usaha di beberapa negara-negara besar seperti New York, London dan dia bilang, akan merambah ke Indonesia setelah mensurveynya. Dan ada 3 kota kandidat, yakni Jakarta, Surabaya dan Bali, entah benar atau tidak, tapi kini setelah melihatnya dengan begitu nyata, aku baru percaya bahwa dia tidak sedang membual. Bahkan ia pernah menawari aku untuk menjadi salah satu karyawannya, dan aku meminta salary USD $ 1.000  perbulan. Hahahahaha.....aku hanya asal menjawab dan dia menerimanya. Sampai akhirnya aku membual dengan cinta-cintaan ku yang membuat aku malu sendiri. Dan sudah 6 bulan aku tidak mau lagi chatt dengannya karena malu, terlebih ia sudah menolakku. Kalau saja ia menerimaku, aku tak akan malu seperti ini. Kalau udah seperti ini, mau di taruh mana lagi muka ku? Dan kok bisa-bisanya dia menginap disini??? Ahhhhh.... Sialan!!! ´´Hei..........kenapa kamu nangis????? j.angan seperti anak kecil, nanti semua orang akan datang dan mereka akan menghajarku karena telah membuat kamu menagis dan aku tidak mau disalahkan...Sssssttttttttt.........diamlah.....´´ ucapnya panik. ´´Aku nggak mau diam kalau kamu nggak check out sekarang !!!!!´´ teriak ku. ´´Gilaaa aja !!!!! aku sudah bayar full, dan sekarang kamu mau menyuruhku check out....!!! ´´ jawabnya dengan galak. “ Terus kamu ngapain kesini? Kamu nggak usah mengikuti aku lagi donk.....” katanku dengan air mata yang sudah banjir kemana-mana. Bukan karena apa-apa tapi aku bingung mau di taruh mana muka ku??? Lexi mendekatiku dan mengelus kepala ku. Aku memberontak dengan tangan yang masih menutupi wajahku. “ nggak usah malu....aku datang kesini untuk menepati janjiku untuk memberikan $ 1.000 US padamu..” katanya yang makin menggodaku. “ Aku udah nggak mau lagi...kamu pergi aja sana!!!!! “ usirku. “ Ok....ok aku akan ke kamar, dan kamu boleh pulang. Ini sudah malam, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu...” ucapnya lagi. Aku mengintip dari celah-celah tanganku, untuk melihatnya ia sudah pergi atau tidak, dan ketika ia sudah benar-benar masuk ke kamarnya di lantai atas, aku segera berlari keluar dari Villa Cantik. Dan aku berjanji aku tak akan mengunjunginya lagi selama ia ada di sini. 
                        ***
    “ Tumben telat, Cin...” Sapa Caroline yang udah nongkrong di depan Laptopnya dari pagi. Aku Cuma tersenyum kecil dengan sapaannya. Aku segera duduk di tempatku yang kebetulan, mejaku terletak di depan meja Caroline. “ Ada berita apa pagi ini?”tanyaku membuka pembicaraan.  “ Ow ya,, makasih sekali loh ya, si Lexi Zamir itu suka dengan penyambutanmu semalam. Dia bilang terpesona sekali sama kamu....”cerita Caroline panjang lebar. Dan aku hanya memandanginya dengan melongo tak berdaya. “ Kok wajahmu kayak gitu ceh? Kenapa sich? Ada yang salah ya?” Caroline bertanya curiga. Aku Cuma menghela nafas panjang, berharap pria itu tidak mengatakan pada semua orang bahwa aku tertidur di living room semalam. “ Cinta...” panggil Caroline lagi. “ Haaaahh????? Iya, apa?” aku gelagepan. “ Something problem?” Caroline menatapku. Aku tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. Tapi aku masih jantungan jika saja tiba-tiba si Lexi buka kartu maka, surat peringatan lah yang akan ku terima. Huuuuuuuuuhhhh........lagian kenapa harus Lexi Zamir itu sich yang menjadi penghuninya?? Anehnya lagi kenapa bisa dia dating kesini?Atau jangan-jangan dia melacakku. Ohhh Tuhaaannnn………
    Aku tediam sejenak, ketika ada seorang pria mengetuk pintu kantor ku. Dan di balik pintu antik itu berdirilah seorang Lexi dengan senyum tak berdosa. “ Permisi..” sapanya ramah. “ Yaaaaa... Silahkan masuk!!” jawab mas Anton. Kemudian Caroline mendatanginya, baru setelah itu mempersilahkan Lexi masuk. Ia memandangku sekilas, setelah itu mengacuhkan aku. Sedangkan aku disini sudah was-was kalau – kalau nanti ia akan  mengadukan semuanya kepada Caroline. Tidaaaaaaaaakkkkkkkk........... Mereka ngobrol di ruang tamu yang yang tak dapat kudengar karena ada bilik yang menghalangi. Aku hanya mendengar mereka tertawa cekikikan. Dan perasaan ku mulai nggak enak nie. Aku memandangi mas Anton yang tampak tenang di depan laptopnya. Sedangkan aku seperti orang yang lagi nahan-nahan pipis, gelisah dan keringat dingin. Tak lama kemudian Caroline keluar dengan senyum yang merekah, ia mendekati aku. “ Mas Anton, hari ini mas sibuk nggak??” “ Nggak juga, kenapa?” “ Yach kalau tidak sibuk, berarti bisa pinjem Cinta sebentar donk?” “ Oh gitu, iya.. nggak papa sich. Tapi buat apa?” “ Lexi Zamir, meminta Cinta untuk menemaninya keluar sebentar....” jawab Caroline manja sambil memandangku nakal. Aku melotot.  “Nggggggaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!” tolakku mentah-mentah. “ Kenapa??Lexi menyukai servicemu semalam!!!!!!!Dia terpesona dengan sikapmu. Penyambutanmu dan semuanya..Apa kamu mau menolaknya? Dia juga sudah bicara sama Owner dan Ibu Surya. Kalau kamu nggak percaya bisa baca emailnya....” jawab Caroline panjang lebar. Mas Anton terdiam sambil memandangku lucu. “ Nah, sekarang terserah Cinta aja, kalau Cinta nggak mau silahkan bilang aja...” Mas Anton mencoba mencari solusi. Aku terdiam, binggung. Aku malu sekali dengan Lexi, tapi dia adalah kunci ku supaya aib ku tidur  tidak ketauan. Ahhhhh aku mesti gimana ini?? “ Yach udah dech kalau begitu, tapi hanya untuk hari ini saja ya..” jawabku dengan menghela nafas panjang. Mereka berdua tersenyum lebar. “ Janji yaaa....!!!Hanya satu hari..Karena aku bukan guide...!!!!!!! “ aku kembali menegaskan. “ Iya.., Sayang!!!” ucap Caroline dengan senyum yang mencurigakan. Aku segera beranjak dan membereskan mejaku dan bersiap menemuinya, yang sudah duduk manis dalam mobil.  “ Hai.... selamat pagi “ sapa Lexi ceria ketika aku baru saja membuka pintu mobil. Aku membuang muka dan segera naik mobil tanpa banyak basa-basi lagi. Semula aku ingin duduk di depan tapi, dengan tidak bersalah lagi-lagi  Lexi memintaku untuk duduk di dekatnya yang membuatku makin nggak sabar untuk menghadarnya.  “ Heiii...Nona Guide...kenapa kamu tidak bicara sepanjang perjalanan?” tanya Lexi menggoda. “ Aku tidak bisa berkata-kata dengan baik. Dan aku tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Kamu bisa tanya Wayan, dia sopir dan guide juga...” jawabku ketus. Lexi hanya tersenyum kecil. “ Aku makin tergoda dengan mu..” bisiknya. Aku memandanginya dan melotot ke arahnya. “ What can I do to make You love me?? What can I do to make You care?? What can I say to make You feel this? What can I do to get You there....” Lexi menyanyikan beberapa potong dari lagu milik The Corss yang dulu sering ku nyanyikan itu, sambil memandangku dengan pandangan mengejekku.  “Bisakah kamu diam?? ” tanyaku sewot. “ Kenapa? Lagu itu bagus kan???” Lexi tersenyum menggoda ke arahku.  Sebenarnya.... dulu aku sempat menyukainya karena dia itu keren dan memiliki kharisma yang bagus di depan mataku. Selain mengerjainya, aku sebenarnya berharap juga kalau dia menyukaiku. Tapi...aku harus kecewa karena dia hanya menganggapku teman. Kecewa sekali sich, dan karena itulah kini aku malu sekali  karena dia pasti berfikiran aku adalah gadis bodoh yang teramat sangat mengharapkannya.  Adeeeeeeeeehhhh.......Kesalahanku juga sie. Ya sudah biar lah...
                        ***
    Tidak terasa sudah hampir 1 minggu Lexi disini dan dengan be-te nya aku terus yang diminta untuk menemaninya, meskipun sudah ada si Sopir Wayan. Makin lama, Lexi makin ngelunjak sama aku. Belum lagi dia sempat mengancamku, kalau aku tidak mau menemaninya pergi di sore hari setelah aku pulang kantor, maka ia akan mengadukanku keada Ibu Surya dan Ownerku, dan semua perlakuan buruk dan ketusku kepadanya. Hmmmmssss,,,,jadi senjata makan tuan nech jadinya...membuat aku jengkel. Namun sejujurnya aku juga senang berada di dekat Lexi. Dia orangnya asyik untuk dia jak bertengkar dan berteman. Makanya, meskipun aku sewot tapi aku tetap datang menemuinya. Entahlah....bisa-bisa aku jatuh cinta lagi padanya, tapi dia tetap teguh pada kekasihnya itu. Dan aku tak akan banyak berharap lagi. Karena dia hanya menganggapku sebagai seorang teman dan tidak lebih.
    Aku tidak segera pulang meskipun sudah jam pulang kantor. Tapi aku masih berkutat dengan laptopku. Karena aku harus menyelesaikan laporan pajakku yang harus ku setorkan besok pagi. Sedangkan kantorku sudah sepi sekali tanpa ada seorang teman. Mau tak mau aku tetap mengerjakan gara-gara kemarin aku diminta Lexi untuk menemenaninya seharian dan tugasku yang sebenarnya itu jadi sedikit terabaikan. Sekarang aku baru tau kenapa Ownerku mengijinkan aku untuk Lexi kapanpun ia memintaku, sebab Lexi lah yang membantu mereka untuk meloloskan investor di perusahaan mereka di Singapore. Maka dari itu Lexi menjadi special guest disini. Meskipun pertama aku marah karena aku dianggap sebagai kambing congek untuk di buat mainan oleh Lexi, tapi aku senang juga. Karena aku berkesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan Lexi. Tapi meskipun begitu, Lexi adalah orang yang sopan sekali padaku, tidak seperti kebanyakan excutif muda lainnya yang bisa mempermainkan wanita sesuka hatinya hanya karena mereka memiliki uang yang banyak. Itu yang aku sukai dari Lexi. Tapi tetap saja, ia pun tak mau menggubris godaan dari kerlingan mataku. Semua dianggapnya teman. Walau bagaimanapun, cinta takkan salah karena dia ada di hati setiap manusia. Lexi memiliki iman yang kuat dalam hal percintaan. Aku salut padanya. Karena itulah, aku tak ingin buat dia sedih.
    “ Cintaa........” teriak seseorang dari arah luar yang membuatku sedikit kaget. “Yaaaaaa “  jawabku lantang tanpa bangun dari duduk ku, karena aku kenal suara itu, siapa lagi kalau bukan Lexi. “ Kenapa masih berada di sini Cinta? Sudah jam berapa ini?? Mereka menyuruhmu untuk lembur seorang diri, tanpa ada teman  “ ujar Lexi yang mengomel sambil berjalan ke mendekeati pintu masuk kemudian berdiri dengan senyum yang menggoda ke arahku. Aku menoleh sesat, dan ikut tersenyum kecil. Tanpa bicara lagi, aku melanjutkan pekerjaanku. Namun dalam hati aku tertegun melihatnya, malam ini ia terlihat begitu tampan, meskipun ia orang India, namun ia terlihat tampan dengan lesung pipi yang membuat ia semakin manis. “ Yaaaa ada apa Lexi? “ tanyaku lagi.  “ Aku tak habis pikir, dengan semua orang disini.. Mengapa meninggalkanmu seorang diri...Apakah mereka tidak berfikir bila sesuatu terjadi padamu, apa mereka mau bertanggung jawab?” Lexi menggulangi komentarnya. “ Yaaaa ini adalah pekerjaanku dan tugasku belum selesai karena menjadi guide dadakan Mr. Lexi Zamir....” ucapku dengan pura-pura jutek. “Aaaahhhhh bilang saja kamu juga menyukainya....” goda Lexi. Aku melotot ke arahnya yang tersenyum kecil.  “ So... sampai jam berapa kamu akan ada disini?”  “Hmsssss.......mungkin 10 menit lagi...” jawabku sambil melirik jam tangan ku yang telah menunjukan pukul 8 malam. “ Kamu masih sibuk sekali, Nona?? “  “ Tidak juga, ini sudah selesai hanya perlu menyimpan semua file-file nya saja...kenapa? “ aku balik bertanya. “Ya...aku butuh bantuanmu sedikit....” ucapnya pelan. “ Apa itu ? “ “ Bila tidak merepotkanmu...” ucapnya basa-basi. “ Iya apa? “ aku mengulangi pertanyaaanku kembali. “ Bisakah membantuku untuk keluar keswalayan untuk membeli ini...” ucapnya sambil memberikanku secarik kertas dengan beberapa item barang. “ Bukankah ada mbak-mbak waitris dan house keeping di villa “ ucapku agak kesal. “ Mereka semua seudah pulang, dan aku lupa meminta mereka untuk membeli semua ini. Tidak banyak kan?? Aku mohon, Cinta...” pintanya memelas. Aku memandangnya jengkel dan penuh kekesalan. “Berarti kamu datang hanya untukku menjadi pembantu kamu? Begitu? “ omelku. “Tidaaakk, aku datang kesini berharap tidak bertemu denganmu tapi karena hanya kamu satu-satunya orang disini, maka aku minta tolong padamu....” ucapnya terus saja memelas. “ Kamu memang menyusahkan aku saja...” omelku sambil merampas kertas yang ada disana. Setelah membereskan meja kerja ku dan menutup pintunya, baru aku keluar menuju ke Swalayan yang jaraknya 5 km dari lingkungan pantai seseh. Akupun mau di suruh Lexi bukan karena aku pernah menyukainya dan bersedia menjadi pembantunya kapanpun ia mau, tapi karena Guest Service  aja sich. Aku pun harus realistis dalam menghadapi semuanya. Sebab daerah panti Seseh ini  memang jauh dari keramaian dan di villa kami aturannya, setiap tamu yang menginap hanya free untuk sarapan saja, bila makan siang dan makan malam akan di kenakan biaya lagi, atau mereka sendiri yang membelinya. Selain itu warung dan mini market juga agak jauh dan bila sudah malam semua pun sudah tutup.
    Aku segera masuk ke dalam villa yang memang sepi sekali bila terlihat dari luar, tanpa permisi dahulu. Aku masuk lewat pintu samping dan segera nyelonong ke living room untuk mencarinya yang ternyata dia sedang asyik di depan comuputernya sambil menghadap ke arah kolam dan sawah diantara remang-remangnya living room. “ Sorry Lexi....”  panggilku yang tak ingin membuatnya merasa terganngu dengan kedatanganku.  “Yuuupp....” sahut Lexi yang kemudian melirikku. Ia pun beranjak dari duduknya sambil tersenyum lebar. “ Good Girl...” ucapnya yang mendekati aku, tersenyum kecil. Setelah dekat ia mengacak-acak rambutku. Aku terdiam sambil melihatnya. “ What are you doing?” aku melotot. Lexi hanya tertawa. “ Aku hanya memujimu sebagai good girl..” tawanya tanpa merasa bersalah. Meskipun aku pura-pura marah tapi aku suka kok dengan perlakuannya itu. Siapa tau selama disini dengan melihat tingkah olahku dan sikapku, ia mulai menyukaiku, meskipun aku tidak mengharapkan hal itu lagi. “ Ok, taruh semua itu di dapur dan tolong ambilkan roti untuk makan malamku dan taruh di meja living room. Aku agak sibuk untuk saat ini “ perintahnya yang kemudian meninggalkan aku dengan acuh yang membuat aku kembali jengkel. Kadang ia begitu baik, namun kemudian menyuruhku seperti seorang pembantu, yang membuatku makin penasaran padanya. “Helloooo.......aku bukan pembantumu “ bantahku. Lexi menoleh, dan ia kembali ketempatku, dan kembali mengacak-acak rambutku. “ Be Nice, ok!! “ ucapnya dengan tersenyum kecil yang membuatku semakin kesal padanya. Dengan jengkel aku ke dapur dan mempersiapkan makan malam untuk tuan besar yang tak pernah ku mengerti itu.
    Dari dapur aku mendengar ada suara seseorang, terdengar agak ribut dengan sedikit teriakan yang membuat living room terdengar agak ramai. Tapi aku tak tau siapa dia, yang ku tau itu suara seorang wanita namun aku tak tau siapa dia. Aku berjalan ke living room dengan membawa sandwich dan secangkir kopi untuk Lexi, ini pertama kalinya aku membuatkan makan malam untuknya. Aku terkejut melihat Lexi sedang memeluk seorang wanita, yang baru datang dengan membawa beberapa koper. Mereka berpelukan begitu erat dan nyaman sekali, aku hanya mampu melihat wajah Lexi yang menghadap ke arahku. Ia tersenyum kecil, sedangkan aku mulai gemetaran tak sanggu melihat mereka berdua seperti itu, ada rasa sakit yang begitu mendalam yang ku rasakan saat ini. Cepat-cepat aku menaruh nampan yang berisikan menu dinner Lexi di meja dekat mereka berpelukan dan ingin sekali aku segera pergi menjauh dan tak mau lagi aku melihat mereka yang tertawa bahagia diatas tangisku. “ Lexi, makanannya sudah siap” aku berbisik agar tidak menggangu mereka lebih lama lagi, selain itu aku juga sudah tidak tahan ingin menumpahkan segala sesak ini. Entah cemburukah aku pada wanita itu atau..... aaahh terserahlah yang jelas aku tidak suka melihat mereka berdua. Aku benci!
    Aku memandang wajah Lexi dengan banyak pertanyaan ketika ia menarik tanganku, sedangkan ia masih memeluk gadis itu.  Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak ku, apa maksud Lexi dengan seperti ini? Aku mencoba meronta dengan halus agar suaraku tidak terdengar oleh perempuan dalam pelukannya. Namun tangan Lexi lebih kuat dari aku. Yang membuatku semakin kesal. Sungguh aku tidak tahan lagi dengan semua ini, bila ini adalah caranya untuk menyakiti aku, dia sudah berhasil dengan sempurna. Aku melotot kearahnya agar ia melepaskan tangannya dan membiarkan aku pergi, namun ia mengacuhkan isyarat yang ku berikan. “ Let me goo!!!!!!!!!!!!” Aku memekik. Dia hanya mengedipkan matanya dan tak membiarkan aku pergi. Yang membuatku kian kesal, sampai tak terasa aku meneteskan air mataku. Jujur aku malu menangis di hadapanya, aku seperti orang bodoh yang mengharapkan cinta padanya. Aku membuang muka agar  tak terlihat derasnya air mata yang mengucur karena nya.
    Aku tersentak ketika gadis itu menoleh kearahku dan melihatku menangis. Ia telah melepaskan pelukannya dari Lexi namun tangan Lexi tetap menggengam tanganku,kini  aku melihatnya mereka berdua seperti monster yang akan memakanku saja. Dan kejamnya lagi Lexi hanya tersenyum saja dan  aku tetap berusaha dan mencoba menarik tanganku  namun tangan Lexi semakin kuat. Ingin saja aku berteriak padanya. Gadis itu kemudian  mendekatiku, namun aku membuang muka agar ia tak melihatku yang menangis. “ Hi...kamu siapa? “ Dia bertanya sambil memperhatikanku. “ Tidak penting “ aku berbisik sambil  mencoba menyembunyikan wajahku sebisa mungkin dan menarik tanganku kuat-kuat. “ Dia Cinta yang pernah aku ceritakan padaku” ucap Lexi tenang ke arah wanita itu. “ Lexi, Please !!!!!!!!!!! “pintaku agar ia segera melepaskan tanganku.  “Oww...kamu yang pernah jatuh cinta pada Cinta pada Lexi?”  “Itu nggak penting dan itu sudah lama” jawabku acuh. Dia tersenyum kecil sambil melirik Lexi. “Cinta itu buta ya!!” ucapnya yang membuat ku semakin benci padanya, aku kian tak mengerti apa maksud Lexi? Apakah ia ingin mempermainkan aku di depan kekasihmya dan mengejek-ejekku karena gagal merayu Lexi. Kali ini dia menang. Dia sudah menghancurkan reputasiku sebagai seorang wanita dan kini aku muolai membencinya. Benar-benar membencinya. “ Lexi…lepaskan aku!!” bentakku yang tak kuasa menahan emosiku dipermalukan seperti ini. “Aku muak denganmu!! Apa maksudmu seperti ini? Ingin mempermalukanku di depan kekasih kamu? Selamat Mr.Lezi Zamir, anda telah berhasil..Dan kini aku benar-benar sudah muak sekali denganmu, Paham!!” Aku membentaknya diiringi senyum sinis kearah keduanya. “ Nooo!!!!! Kamu salah Cinta, Aku justru ingin mengenalkanmu dengan sahabatku!!!” ucap Lexi dengan wajah yang mulai ketakutan mendengar bentakanku. Kini tanganya sudah mulai merenggang. Aku melotot dengan emosi yang tak tertahankan lagi. “ Sahabat??” aku memekik. “ Kamu piker aku percaya begitu saja?? Terimakasih atas semuanya, tapi maaf aku tak ingin lagi untuk mendengarkan penjelasan apapun dari kalian berdua…” ujarku yang masih marah dan segera menarik tanganku untuk segera pergi. “ Cinta…tunggu!! Please dengarkan aku dulu” Lexi mengejarku dan menarik tanganku lagi. Begitu pula dengan wanita itu. “ Ok..maafkan kami Cinta!!Aku hanya ingin mengetesmu saja, apakah kamu masih mencintaiku atau tidak. Karena……. sebenarnya aku mulai menyukaimu, meski semula ku pikir kau adalah gadis yang aneh, tapi aku baru tersadar ketika berada di dekatmu dan cinta takkan pernah salah. Aku benar-benar merasakannya darimu cinta. Dan sebenarnya aku ingin mengatakannya besok saat kita pergi bersama Silvy pula…” ucapnya penuh senyum tipis dengan wajah yang mulai ketakutan aku tak mau mendengarkannya. “ Apa itu penting??” ucapku sinis. “Penting sekali, aku ingin tau bagaimana perasaanmu padaku. Apakah kamu sudah berubah atau tidak, dan satuy-satunya jalan aku pakai Silvy, dan kejadian ini benar-benar di luiar dugaanku…Jujur ku tidak ingin menyakitimu sampai seperti ini.Aku minta maaf,Cinta!!!!” Cerita Lexi panjang lebar. Aku terdiam melihat wajahnya yang ketakutan, dan sesekali melirik Silvy yang berada di sampingnya. Seperti mimpi,tapi aku tak tau.Aku tidak paham kenapa dia lakukan semua ini hanya untuk mengetes seberapa sayangnya aku padanya. Ingin rasanya memukulnya sekuat tenaga dan berteriak betapa bodohnya dia. Dan aku tak kuasa lagi dengan semua ini yang membuatku menangis keras sekeras-kerasnya, yang membuat Lexi dan Silvy terbenggong heran. Lexi memelukku dan mencoba mendiamkanku. “Cinta,kamu kenapa?sudahlah sayang…aku tau bahwa cintamu benar-benar tulus untukku...dan maukah kamu menjadi kekasihku??” ucap Lexis ok puitis. Aku mengangis semakin keras di bahunya di iringi dengan anggukan. Lexi tersenyum kecil.Meski aku tak melihatnya tapi aku bias merasakan kebahagiaanya melalui degupan jantungnya. Dan ku pastikan kedua tangan Lexi berada di punggungku dan tidak sedang menggengam tangan orang lain, karena aku merasakan kedua tangannya yang hangat itu. 


                             The End


 By Ochi Saraswati
11 November 2011, Denpasar (Bali)