“ Aku Marcel “ katanya mengenalkan
dirinya padaku saat kita baru masuk ke sebuah butik yang berjejer di
disepanjang koridor Mall Bali Galeria. “ Aku Cherry“ kataku imut dan dia hanya
tersenyum kecil. TAk lama setelah masuk kesebuah butik, dan memilih sebuah
dress yang menurut Marcel cocok untukku,kami segera keluar dari butik tersebut.
“Terimakasih ya, sudah membelikan aku dress semanis ini” ucapku basa-basi. “
nggak papa sudah sepantasnya, karena aku sudah membuat bajumu kotor. Terus kamu
mau kemana sekarang??? Mau aku antar pulang??” tawarnya. Aku menggeleng pelan.
"Sepupuku menungguku di JCO, jadi aku harus kesana. KAmu mau ikut
sekalian?? Sambil minum-minum dulu “ aku menawarkan balik. Dia tersenyum
lagi,lebih manis dari yang sebelum-sebelumnya dan menggangguk pelan. Akhirnya
aku melangkah kearah JCO Bersamanya,beriringan untuk menemui Vivie yang sudah
menantiku sedari tadi.
Sejak
saat itu, aku dan Marcel mulai sering untuk bertemu. Entah hanya untuk minum
secangkir kopi atau nonton bioskop di Beachwalk diantara waktu luang yang kami
miliki. Dan aku mulai mengenal Marcel lebih dalam lagi, dia seorang arsitektur
yang mulai beranjak naik. Ada lebih dari 10 villa,resort dan hotel ternama yang
ia bangun di Bali. Semula ia berdomisili di Jakarta, nggak salah dari stylenya
aja keliantan dia seorang pria metropolitan berdarah india-jawa. Dan aku tidak
munafik bahwa aku mulai mengaguminya.Kini, waktuku makin banyak untuk Marcel
ketimbang Devdan yang sedang sibuk-sibuknya dalam karir bisnis property dan
jual-beli villa warisan keluarga besarnya bersama kedua kakaknya. Kadang aku
merasa bersalah pada Devdan yang notabene adalah calon suamiku,namun disisi
lain aku takut untuk kehilangan Marcel. Umurku tidak muda lagi, 28 tahun bagiku
sudah cukup umur untuk berumah tangga. Dan semula aku menetapkan hatiku untuk
seorang Devdan, Pria berdarah Belanda-Bali. Begitu pula dengan keluarga kami
yang sudah sama-sama mengenal satu sama lain. Bahkan karna Devdan Von
Dismarck-lah,aku bisa melanjutkan studi ke Singapore sebagai spesialis dokter
anak. Aku banyak berhutang pada Devdan dan disamping itu aku memiliki cinta
yang aneh terhadapnya. Mungkin lebih tepatnya lagi adalah cinta balas budi.
Akan tetapi,sejak datangnya Marcel beberapa bulan ini, entah kenapa perasaanku
mulai berubah. Dan itulah yang ku takutkan! Aku mencintai Marcel dan tak ingin
kehilangan Devdan.
“ Dokter Cherry… dimohon segera ke
UGD “ pinta seorang perawat yang langsun masuk ke ruangan praktekku. Tanpa
banyak kata aku segera beranjak dan mengikuti perawat ke ruang UGD. Setiap sore
sampai jam 10 malam atau lebih aku praktek di RS Bersalin Ibu dan Anak.
Sedangkan Pagi hari aku bertugas di Rumah Sakit Umum. Sesampai di UGD aku
segera bertindak, gadis mungil yang ku tangani mengalami keracunan susu, dia
pingsan karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit,mual dan muntahan yang
terus menerus. Aku segera memasang infus dan menyuruh para perawat memindahkan
ke ruangan, si mungil harus dirawat beberapa hari sampai ia pulih. Aku segera
keluar untuk menemui orang tua si anak. Aku melepas maskerku,ketika membuka
pintu UGD dan melihat seorang pria yang duduk di ruang tunggu dengan wajah
menunduk cemas. Aku terdiam sesaat,aku merasa mengenalnya,dia mirip seperti
seseorang yang dekat denganku. Tapi aku segera membuang jauh-jauh semua
perasaan itu,ini karena aku terlalu berhalusinasi. “ Selamat Malam,Bapak “
sapaku. Pria itu tengadah ketika mendengar ucapanku. Aku mundur dan terkejut
ketika melihatnya. Begitu pula dengannya yang pelan-pelan beranjak dari
duduknya. “ Cherry….” Bisiknya, “ Marcel…kamu…ayah anak itu?” tanyaku terbata.
“ ahh…hmss..ak..aku…” dia kikuk dan akhirnya mengangguk pelan. “ Bagaimana
keadaan Queen?” “Oh.. dia.. dia..baik-baik saja,aku sudah menanganinya,hanya
saja dia perlu di rawat inap,mungkin besok sore ia sudah boleh pulang,hanya
tunggu ia pulih saja” aku menjawab dengan gugup. “ Oh.. syukur!!” bisiknya.
“Ok,kalau begitu aku pamit,dan anda,Pak Marcel bisa menemui putri anda di
kamar. Semoga lekas sembuh “ kataku dengan cepat-cepat dan segera pergi meninggalkannya.
Beberapa kali Marcel memanggilku namun tak ku ubris. Aku sudah terlanjur kaget
dan sakit. Ternyata,dia sudah berkeluarga dan aku tidak mungkin masuk kedalam
rumah tangganya sebagai orang ketiga. Bagaimana dengan istrinya nanti? Bila aku
diposisi istrinya dan Devdan ternyata memiliki wanita lain selain aku..apa yang
harus aku lakukan? Dia adalah kepala keluarga dan ayah dari anak-anakku dan aku
akan tetap mempertahankan demi keutuhan rumah tanggaku. Dan aku bertekad untuk
menjauhinya, selain itu aku tak berhak marah,sebab ia hanya menganggapku sebagi
seorang teman dan tidak lebih. Kini aku akan memusatkan seluruh perhatianku
pada Devdan yang akhir-akhir ini mulai ku jauhi.
Aku
duduk di ruanganku dengan lemas.Tak lama ada sebuah bbm masuk,dan itu dari
Marcel. Terimakasih karena telah menolong hartaku satu-satunya. Itu kalimat
yang tertulis di bbm. Aku tidak berkomentar,hanya membalasnya dengan
mengirimkan emotikon smile :) kurasa
itu cukup. Setelah aku kecewa melihat kenyataan yang ku hadapi hari ini.
Sejak kejadian di Rumah Sakit itu,dan sejak
aku tau kebeneran akan jati diri Marcel yang sebenarnya,aku mulai mengabaikan
Marcel. Dan memberikan perhatian lebih kepada Devdan dan lebih menyibukan
diriku pada RSU dan RSIA.. Aku tak mengubris lagi bbm dari Marcel ataupun sms dan
telpon-telponnya padaku setiap saat. Dia mulai mengubah foto profil bbmnya
dengan menggunakan fotoku dan status galau yang ia tampilkan namun hal itu
tidak membuatku berubah. Pada intinya aku tidak ingin merusak hubungan Rumah
Tangganya. Karena aku juga seorang wanita yang tidak mau disakiti oleh pria
manapun juga.
“Pasien nomor urut sepuluh, dipersilahkan “
panggil perawat yang menjadi assistenku di Kilnik Bersalin Ibu dan Anak.
Sedangkan aku yang sudah kelelahan menerima pasien mencoba untuk tetap santai.
Hari ini tumben banyak anak-anak yang sakit akibat perubahan cuaca dari musim
panas ke hujan,belom lagi memasuki bulan Januari ini intensitas hujan dan angin
kian beradu. Meski aku sudah letih,tapi aku tetap melayani pasien terakhirku
ini,dan berharap segera cepat melayani dan bisa cepat pulang,aku kembali duduk
di meja kerjaku,ketika seorang Bapak dan putrinya masuk yang membuat aku
sedikit terkejut dengan kedatangannya. Aku bersikap profesional dan menghadapi
mereka dengan sebuah senyuman yang ramah. " Selamat Malam Pak
Marcel..." Sapaku dengan kesabaran hati. "Cherry... Tolong!!! Jangan
bersikap seperti itu,ada kesalah pahaman diantara kita " Ia sedikit
berbisik agar assistenku tak mendengarnya. Aku diam mendengar kata-katanya,tapi
hatiku terkikis saat melihat gadis kecil berumur 4 tahun itu di pelukan sang
ayah. " Ada keluhan apa,Pak?" Tanyaku tanpa mengubris kata-kata
Marcel,namun sebenarnya aku ingin sekali menangis keras dan
sekencang-kencangnya. "Aku nggak sakit doktel,tapi ayah ngajak aku ke sini
katanya aku mau dikasi' pelmen doktel..." Kata si mungil nan lugu itu yang
belum lancar dalam berkata-kata. Aku terhenyak,tak tega rasanya melihat Queen
yang mengharapkan sebungkus permen. Aku merogoh tasku dan mengambil sebuah
coklat yang selalu stand by dalam tasku sebagai pancingan untuk anak-anak yang
aku hadapi seperti model Queen saat ini. "Telimakasih doktel "
katanya kegirangan. Aku bersenyum kecil tanpa menjawab apa-apa. Kemudian aku
menyuruh suster untuk memeriksa Queen di tempat tidur. Dan kini aku duduk tepat
dihadapan sang ayah. "Cherry,dengar! Queen tidak sakit.Aku hanya ingin
kamu bisa mengenalnya dan aku ingin menjelaskan sesuatu padamu" jelas
Marcel tapi aku tetap tak mengubrisnya dan segera beranjak untuk memeriksa
Queen. " Queen sayang, badannya ada yang sakit??" "Nggak
doktel,Queen nggak sakit kok"jawabnya polos. "Terus kenapa mau
kesini?" "Diajak Ayah" " Ohh gitu,terus mama kemana?"
Aku mulai menyelidk. "Kata Ayah,Bunda udah kelumahnya Tuhan
diatas..." Ucapnya dengan lugu. Aku terdiam sambil memandang langit-langin
mengikuti telunjuk mungil itu.Aku tak tau harus berkata apa lagi? Aku binggung.
Aku
duduk dicafetaria RSIA bersama Marcel dan Queen dalam pelukan Marcel telah
tertidur dengan lelapnya. Rasa lelah yang menderaku kini seakan lenyap sudah.
Kini aku tahu kenyataan yang terjadi pada keluarga kecil Marcel. Istrinya
meninggal saat melahirkan Queen akibat pendarahan hebat,dan selama ini Queen di
besarkan oleh kedua Orang tua Marcel di Jakarta,dan baru sebulan terakhir ini
Queen bersamanya dengan diasuh oleh seorang baby sitter dirumahnya yang
terletak di bilangan Renon yang hanya beberapa blok saja dari RSIA ini. Kini
aku berubah pikiran dan menjadi terharu atas kisah hidupnya. Tak pernah
kusangka ia menjadi duda secepat ini dimana ia masih terlalu muda untuk menjadi
seorang single parent bagi Queen. "Cherry...." Bisiknya.. Aku
mendahem. "Aku hanya ingin minta maaf..." "Buat apa???"
Tanyaku pura-pura bodoh. “Buat semuanya. AKu sudah tidak jujur padamu,bahwa
sebenarnya aku seorang duda beranak satu “ Jawabnya yang kian pelan. Aku diam
sambil menunduk. “ Tak masalah buatku…” “ Lalu kenapa kamu menghindari aku
sejak kamu tahu Queen adalah putriku?Kamu marah padaku kan?” Aku menggeleng.
“Jawab Cherry…aku tau kamu marah padaku!!!” Marcel Mendesakku. “ Enggak..aku
nggak marah,Cel. Ketika aku tau bahwa Queen adalah putrimu,aku hanya berfikir
aku tidak mau terlalu dekat denganmu agar orang tak mengganggapku sebagai
perusak rumah tangga orang. Itu saja!” bantahku dengan beralibi,aku tak mau
Marcel mengetahui bahwa aku marah padanya. “ Yakin hanya itu?” Marcel lagi-lagi
mendesakku. Aku Cuma mengangguk pelan,kemudian kembali terdiam. “ Kalau begitu
aku minta maaf,Cher..kamu bukan perusak rumah tangga orang. Dan saat ini aku
seorang pria yang bebas perteman dangan siapapun,termasuk kamu….” Ucapnya
meyakinkan aku. Aku mengangguk,kemudian tersenyum kecil kearahnya. Lalu kami
kembali terdiam,bahkan yang saat ini cukup lama kami terdiam. Sedangkan aku
menunduk sambil memainkan handphoneku,sambil melihat-lihat pesan yang ada di
blackberry massangerku dan aku melihat status Marcel. Harta berhargaku saat ini
adalah my Little Queen dan Dokternya. Aku tersenyum membacanya kemudian
memandang Marcel dengan senyuman yang lebih lebar lagi.
Sejak aku dan Marcel baikan,kini kami
kembali akrab. Bahkan entah kenapa aku mulai menyayangi Queen. Aku lebih sering
menghabiskan waktuku bersama Queen di rumah Marcel. Dia gadis mungil yang
lucu,yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Meski aku nggak bisa memberikan
kasih sayang yang ia harapkan paling tidak bisa mengobati kerinduan itu. Dan
tak terasa sudah 6 bulan aku menjalani pertemanan aneh bersama Marcel dan
putrinya. Tanpa sedikitpun meninggalkan Devdan yang terkadang sibuk dengan
dunia kerjanya sendiri. Dan sampai detik ini pun,aku tetap merasakan hal yang
sama terhadap Marcel. Aku takut kehilangan dia. Mungkin aku sayang padanya dan
terlebih adanya Queen yang membuat ku semakin iba. Namun disisi lain Marcel
tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang perasaanya ,meski begitu aku
berkeyakinan kalau Marcel sebenarnya juga menyukaiku. Hal inilah yang justru
membuatku makin bimbang,jujur aku tak bisa memilih antara Devdan dan Marcel
dimana kini aku sama-sama takut akan kehilangan mereka berdua. Dan sampai detik
ini juga,Marcel tidak pernah tahu akan statusku dan arti cincin yang ku pakai
di jari manisku.
Sudah seminggu ini aku tidak kerumah
Marcel untuk menengok Queen,begitu pula dengan ayahnya,Marcel. Karena aku
sedang disibukkan oleh kerjaanku di dua tempat dan sedikit membantu keluarga
Devdan yang sedang sibuk melakukan
ceremony Grand Opening kantor baru yang terletak di daerah Kuta. Dengan
mengundang investor yang mereka kenal dan beberapa teman juga kerabat keluarga
besar Devdan yang rata-rata para bule dan beberapa arsitektur dan kontraktor
besar. Saat ini Devdan sedang menapaki puncak karir yang gemilang. Sekalian
hari ini dia akan mengenalkanku pada seorang arsitek yang akan menangani villa
pribadi yang akan kami tinggali nanti setelah kami menikah tahun depan nanti,itu
rencana kami semula. Dalam materi,aku menemukan kesempurnaan dalam diri
Devdan,tapi dalam bathinku entah darimana rasa cinta itu mulai pudar terbawa
asa yang membuatku merasa kian jauh dari hati Devdan,namun apa yang bisa ku
perbuat?selain diam dan menerima segala sesuatunya,dan hanya mampu berteriak di
belakangnya dengan pelampiasan kepada seorang Marcel.
Ceremony Grand Opening kantor baru
Devdan menurutku malah terkesan separti party-party orang-orang bule pada
umumnya. Mereka berdiri dengan gelas champigne atau coctail ditangan mereka
masingi-masing. Saling bercengkrama, menawarkan dagangan mereka kepada sesama
atau promosi,sebab rata-rata orang bule ini ke Bali mereka berbisnis juga.
Selain properti seperti Villa dan Resort,mereka pengusaha restoran dan garment.
Aku pun telah terbisa dengan kondisi ini,selama 4tahun kami menjalin hubungan,
Devdan selalu mengajakku keacara-acara seperti ini. Jadi,rata-rata aku sudah
mengenal teman-teman Devdan.
" Sayang,aku ingin mengenalkanmu pada seorang teman baruku"
bisik Devdan saat aku sedang berbincang dengan teman Devdan yang berprofesi
sebagai seorang Psikiater. Aku tersenym dan segera pamit padanya,dan mengikuti
Devdan yang mengandengku erat. " Sayang, Ini Pak Marcel,arsitektur yang
akan membuat villa pribadi untuk kita" ucap Devdan enteng. Aku terdiam
saat dikenalkan pada arsitektur kebanggaanya yang notabene adalah orang yang
diam-diam ku sukai. Seketika saja tubuhku berkeringat,aku tak tau apa yang
harus aku lakukan,selain tersenyum getir dan kaku. " Pak Marcel,ini adalah
Cherry. Calon istri saya. Dia seorang Dokter spesialis Anak yang hebat..."
Ucap Devdan lagi membanggakan diriku dihadapan Marcel yang juga terbenggong
kaget. Namun Marcel masih bisa menyembunyikan segala rasa yang ada didalam
dirinya dengan menyalami aku. Aku menyambut tanganya dengan lemas. "Senang
bertemu anda dokter Cherry" katanya pelan.Aku tak menjawab.Hanya tersenyum
kecil. " Pak Devdan...anda beruntung sekali mendapatkan seorang pendamping
seperti Dokter Cherry...." Marcel memuji. Devdan tertawa lebar.
"Bukan hanya beruntung,Pak Marcel.Tapi sempurna. Apalagi yang mau saya
cari?Karir,pendamping semua sudah disiapkan oleh Tuhan.Hanya kini tinggal
menata masa depan bersama anak-anak kami,bukan begitu sayang?"Devdan berbangga
diri sambil meminta pendapatku.Aku yang dari tadi terdiam lagi-lagi tersenyum
kecil tanpa mampu berkata-kata. " Ok,sayang...nanti kamu bisa
berkomunikasi dengan pak marcel untuk design rumah kita.." "Iya
Dev,masalah itu bisa diatur,bukan begitu pak Marcel?"
"Ahh...hmsss...iyaa Dokter Cherry" marcel menanggapi dengan kaku.
" Yaaa,inilah salah satu kelebihan Cherry,Pak Marcel...dia ingin mendesign
sendri rumah idaman kami..." "Iya itu bagus,Pak Devdan jadi anda akan
selalu betah dirumah..karena rumah adalah tempat berkumpulnya sebuah
keluarga" jawab Marcel. " Boleh saya tahu style rumah idaman
anda,dokter Cherry??" Lagi-lagi Marcel menanyaiku sambil menatap mataku.
Sebenarnya aku sudah ingin mengakhiri pembicaraan ini,tapi kenapa dengan mereka
berdua ini?? Dihadapanku kini berdiri dua
orang yang sama-sama ku sayangi...Momok yang kutakuti selama ini terjadi
juga,seandainya aku disuruh memilih diantara mereka... Jujur aku nggak sanggup
dan tak dapat memilih karena mereka berdua sama-sama kucintai. Lagi-lagi aku
tersenyum dengan getir kearah Marcel dan mencoba menyembunyikan segala
sesuatunya dari Devdan. " Saya suka rumah minimalis dan style korea
modern. Apa anda sanggup membuatkannya,Pak Marcel?" "Tenang saja,Saya
sanggup dokter Cherry,asal anda memberi tahu kepada saya tetang
pemikiran-pemikiran hebat anda" jawab marcel yang mulai sinis. " Ok
Pak Marcel,kita akan meeting kembali pada waktu yang sudah ditentukan
Devdan,bukan begitu sayang?" "Iya Pak Marcel,mungkin seminggu lagi
kita akan meeting masalah sketsa dan IMBnya" Devdan memperjelas.
"
Ok, kalau begitu sukses buat anda Pak Marcel" ucapku mengakhiri
pembicaraan ini. " Sukses juga buat anda Dokter Cherry Von Dismarck"
jawab Marcel sambil menyalamiku dan Devdan. Dan dengan segera aku pergi dari
hadapan Marcel yang membuatku makin sesak.
Kini aku tak tau apa yang harus aku
lakukan. Masih bisakah aku bertemu dengannya dan Queen yang sudah ku sayangi
seperti putriku sendiri.Aku binggung. Aku berusaha untuk melepaskan Marcel dan
mulai meyakinkan hatiku bahwa Marcel bukanlah untukku. Selain itu mungkin dia
tidak sepanik aku yang terkesan hiperbola dengan keadaaan ini. Toch selama ini
Marcel hanya menganggapku sebagai seorang teman biasa dan tidak lebih. Jadi
untuk apa aku seperti ini? Semua ini malah menyiksaku dan aku tak berdaya. Ayooo Cherry,bangun dari mimpi dan lihatlah
kenyataan!! Ada seorang pria yang sangat menyayangimu dengan seluruh jiwa
raganya yaitu Devdan.Apa lagi yang kurang dari Devdan? Dan Kau sudah banyak berhutang
budi padanya,apakah kau tega meninggalkannya demi seorang Marcel yang baru kau
kenal 6 bulan ini,sehingga melupakan kebaikan Devdan? Selain itu Dia adalah
pria sempurna,dan tahun depan kalian akan segera menikah,membentuk keluarga
yang bahagia jadi buanglah seluruh pikiranmu tentang Marcel. Marcel hanya
numpang lewat dihatimu ketika Devdan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan ini
sudah kesekian kalinya aku menyakinkan diriku sendiri tentang Marcel. Jadi
untuk apa aku memikirkan dia? Semakin ku lupakan,semakin bayang-bayang Marcel
selalu muncul.
Aku delete semua kontak yang berhubungan dengan Marcel. Tapi semakin aku
merindukannya,bahkan tak tertahankan,begitu pula dengan Queen. Dan Marcel pun
diam,saat aku menghapus kontak blackberry massangernya,itu sama saja bahwa aku
tak berarti buat dia. Kalau memang ia merasakan hal yang sama,tentu dia akan
menelpon ku,namun kenyataanya tidak. Artinya aku harus benar-benar
melupakannya,dan mengangapnya bahwa ia adalah selingan semata tanpa arti
apa-apa.
Hujan deras mengguyur kota Denpasar dan
sekitarnya. Macet pun merajalela dimana-mana akibat banjir dari aliran-aliran
selokan. Aku pun pasrah yang terjebak macet diantara puluhan kendaraan ibu
kota. Aku menyalakan radio untuk menemani kesendirianku didalam mobil. Aku
mulai tenang mendengarkan beberapa lagu yang telah diputar dan merasa sedikit
rilex diantara kejenuhanku sepulang dari Rumah Sakit dan menangani banyak
pasien hari ini. “ Oke Lovers,ini ada sms selanjutnya dari Marcel di Renon….”
Kata si penyiar yang membuiatku sensitive sekali apabila mendengar nama Marcel.
Aku mulai membesarkan volume radioku. “ Marcel request lagunya Maudy dengan
Perahu Kertasnya…lagu ini special buat si Dokter Cantik di RSIA daerah Renon…
Kau telah menghidupkan lagi cita-cita yang telah musnah,tapi kenapa sekarang
kau padamkan lagi cita-cita itu?Hmmmsss so sweet and mystherius ya..” celoteh
si penyiar. Deg!!! Aku terdiam sejenak. Mungkinkah itu aku?? Bathinku. “ Oke
Lovers,kita dengarkan saja satu lagu dari Maudy dengan Perahu Kertas.. special
buat Marcel dan sang Dokter Cantik” lanjut sang penyiar dan terdengarlah alunan
lagu Perahu Kertas yang pernah kami tonton bersama. Hatiku makin bergejolak
dangan semua ini,tak terasa titik-titik air mata mengalir pelan. Aku mulai
bertanya-tanya lagi,apakah saat ini cintaku pada Devdan terkesan
dipaksakan?Hanya karena aku ingin membalas budi atas kebaikannya yang telah
membantuku hingga akhirnya aku bisa menjadi seperti ini. Aku tak tau dan aku
tak mau menanggung ini sendirian,paling tidak aku ingin kejelasan dari Marcel.
Aku segera membelokkan mobilku kearah Renon,kerumah Marcel.
“ Tante dokteeeeelllll……….” Queen
segea berhamburan ketika melihatku datang. Aku tak kuasa dan segera memeluknya
dengan erat. “ Tante doktel kemana aja?Queen kangen sama tante doktel…”Tanya
Queen manja. “ Maafin tante ya sayang,tante sibuk kerja..banyak temen-temen
Queen yang sakit,makanya Queen jangan hujan-hujanan ya biar nggak sakit…” “ Iya
tante,Queen janji…” katanya lucu yang membuatku gemas. Ternyata pemandangan ini
disaksikan oleh Marcel. “ Hai Cherr…” sapanya. “ Hai Cel..kamu nggak kerja?”
tanyaku basa-basi. “ Tadi siang aku pulang,Queen beberapa hari ini Queen agak
rewel,nggak mau makan kalau nggak aku temani. Katanya dia kangen sama kamu…”
jelasnya. Aku memandang Queen,seolah mataku menayakan kebenaran perkataan sang
Ayah. “Queen pengen sama tante doktel…tante doktel jangan pelgi lagi ya…Queen
janji nggak akan nakal lagi..tapi tante doktel temenin Queen yaaa..”rengeknya.
Aku hanya bisa menggangguk dan tersenyum getir. “ Queen udah maem?” “Udah
tapi,Queen mau maem sama tante lagi..” rengeknya. Aku pun mengabulkan
permintaan si gadis kecil dengan ketulusanku untuk mengobati kerinduanku juga
padanya dan sang Ayah.
Aku bergegas pamit ketika waktu
sudah menunjukan pukul setengah lima sore,yang artinya aku harus segera
berangkat ke Klinik yang terletak beberapa blok dari rumah Marcel. Akupun harus
mengumbar janji pada sikecil yang memelas agar aku tidak pergi. Setelah kepeluk
dengan hangat,iapun masuk kekamar dengan si baby sitter,seddangkan ayahnya
mengantarkanku sampai didepan. “ Terimakasih sudah mau datang untuk menjenguk
Queen,Cherr..” Aku tersenyum kearahnya. “ Terimakasih juga sudah mengirimkan
sebuah lagu untukku.Karena itulah aku datang…” “Ku harap tunangan mu tak
mendengarkanya” jawabnya sinis dengan tetap tersenyum. Aku menoleh
kearahnya,memandangnya sejenak dengan perasaan jengkel kenapa dia tidak mau
mengungkapkan perasaanya itu padaku. “Berhentilah dalam kemunafikan,Cel” ucapku
penuh emosi dan segera masuk kedalam mobil.Aku sangat berharap dia mengejarku
dan mengetuk-ketuk kaca mobilku,tapi yang kuharapkan ternyata tidak terjadi.Dan
aku pergi dengan perasaan kecewa terhadapnya,atas ketidak gentle-annya pada
perasaannya sendiri. Aku tau dan paham,kami memiliki perasaan yang sama hanya
saja ia tak mau mengungkapkan itu,begitu pula denganku yang masih angkuh dengan
embel-embel gelar ‘tunangan Devdan Von Dismarc’ yang ku sandang.
Hujan
tidak mau bersahabat barang sejenak saja.Aku keluar dari ruang pratekku yang
sepi pengunjung,hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dengan kegelisahan
untuk menanti kelahiran anggota keluarga mereka yang baru saja dilahirkan.Aku
tidak segera pulang,namun membelokkan langkahku kearah cafeteria yang
berdampingan dengan apotek. Paling tidak segelas coklat hangat bisa
menghangatkan badanku. Aku duduk disebuah meja sambil mengaduk-aduk coklat
hangatku. “Selamat Malam Dokter
Cherry…” sapa seeorang yang tiba-tiba
muncul dihadapanku. Aku menoleh dengan agak terkejut,lalu memandangnya sejenak.
“ Mau apa kamu kesini “ tanyaku jutek pada pria yang kini telah duduk
dihadapanku yang tak lain adalah Marcel. “ Aku menunggumu di parkiran mobil
sejak 2 jam yang lalu berharap kamu akan segera pulang dan aku akan
mencegatmu..tapi ternyata kamu malah duduk disini…” katanya basa-basi. “Untuk
apa datang menemuiku? bukankah kita sudah bertemu tadi sore” aku berbalik sinis
padanya. Dia diam sejenak dan menghela nafas panjang. “Aku tidak tau harus
mengatakannya darimana?” katanya pelan. Aku memandangnya dengan penuh selidik.
Dia menghela nafas lagi. “Semula aku berharap padamu…” bisiknya lirih sambil
menopang dagu. Aku agak terkejut,namun dalam hati aku bersorak.Karena ia
akhirnya mengakui juga. “Tapi ternyata aku harus menelan kepahitan setelah
mengetahui bahwa kau adalah tunangan sang bos besar… dan akupun sadar
diri,bahwa aku tidak bisa merebutmu
dengan statusmu itu….” Katanya dengan pasrah. “Sejak kapan kau menyukaiku?”aku
meliriknya. “Sejak pertama melihatmu,dan ketika aku melihat Queen begitu dekat
denganmu,aku semakin berharap kau akan menjadi pengganti ibu Queen..Tapi
ternyata itu hanya sebuah keinginan tanpa kenyataan…”katanya pelan. Kini
kamipun saling berpandangan,aku memahami semuanya.Posisiku makin sulit saja,aku
dilema sekali dalam hal ini. Disatu sisi
aku bahagia dengan kejujuran Marcel dan kenyataanyapun aku juga
menyukainya,namun disisi yang lain aku tidak bisa berkutik dengan status yang
ku sandang ini. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan Devdan yang sangat
mencintaiku, tapi rasa cintaku mulai pudar bersamaan dengan hadirnya Marcel
yang mulai menanamkan benih-benih cintanya dihatiku. Aku dalam keadaan
dilema,tapi sudah jelas cintaku pada Marcel tak tersampaikan. Walau
bagaimanapun dan seingin apapun,aku tetap tidak bisa memilihnya. “ Cherr….”
Bisik Marcel,ia memegangi jemariku dan tersenyum kecil. Aku hanya menghela
nafas panjang. “Aku juga menyukaimu,Cel.. hanya saja keadaan yang membuatku
tidak bisa memilihmu…”ucapku pelan.Marcel kembali diam. “Andai saja kita
bertemu lebih awal mungkin keadaanya tidak akan seperti ini. Aku menunggu
pengakuanmu sudah sejak lama,kadang aku berfikir aku akan pergi dari hidup
Devdan,kemudian menjalani kehidupan yang baru bersamamu..tapi itu tak mungkin!”
aku kian sedih,bulir-bulir air matapun mulai mengalir deras. Marcel terdiam
lagi,tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan lagi,semua sudah jelas. Aku tidak
mungkin meninggalkan Devdan,dan harapannya memiliki akupun musnah. “ Maaf…”
bisikku diantara isak tangisku dan kian derasnya hujan diluar sana yang seakan
tau bagaimana Dilemanya hatiku. Marcel kian erat memegangi jemariku.
"Entahlah,Cher..!!! Sejak di rumah tadi aku optimis bahwa kamu akan
memilihku,tapi aku juga sadar bahwa kamu adalah milik orang lain.."
Kata-kata Marcel makin berat saja. Sedang aku mulai menghapus sisa-sisa air mataku. “Cel…aku rasa mungkin ini hari terakhir kita
bertemu..” kataku pelan,lalu diam memikirkan apa yang baru aku katakan yang aku
sendiri tidak tau dari mana muncul pemekiran seperti itu. Marcel tercengang dan
menatapku lebih dalam. Aku tak menjawab mimik muka yang tak setuju itu. “ Aku
tak mau kita sama-sama terluka,dan yang lebih tersakiti adalah
Devdan..Terkadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan kenyataan yang ada”
ujarku yang mencoba tegar. “ Apa kata-kata ini datang dari lubuk hatimu, Cherr?
Atau karena keadaaan yang membuatmu tak bisa memilih?aku tau bahwa hatimu
untukku…”Marcel tetap mempertahankan. “Sudah Cel..Cukup!!”aku makin tak kuasa
menahan isak tangis ini. “Mulai detik ini,anggap saja aku tak pernah mengenalmu..tak
selamanya cinta harus memiliki,Cel…dan itu terjadi pada kita..” kataku pelan
dengan air mata yang masih deras,lalu meninggalkan Marcel sendirian. Aku
berjalan keruanganku dengan agak tergesa-gesa agar taka da seorangpun yang
melihatku seperti ini. Kekalutan dan kegalauan lini memenuhi relung hatiku.
Seandainya aku bisa memilih,seandainya aku boleh jujur…Marcel-lah yang akan ku
pilih. Aku tak peduli statusnya,aku terlanjur sayang pada anaknya. Tapi aku tak
bisa memilih,aku tetap hidup dalam kepura-puraan. Semula cintaku pada Devdan hanya sekedar ucapan terimakasih saja, kami
dipertemukan di sebuah universitas ternama di Denpasar,hanya saja kami beda
jurusan. Dia menjadi Dewa penolongku ketika aku tidak dapat melanjutkan
kuliahku karena keterbatasan biaya,sajak ayah meninggal dunia beberapa tahun
silam,mau tak mau aku harus menyimpan dalam-dalam cita-citaku menjadi seorang
dokter,tapi Devdan datang menawarkan bantuan.Dia yang sudah sejak lama
menaksirku mempunyai peluang besar untuk menjadi seorang pahlawan untukku.
Sehingga akhirnya aku diwisuda dengan gelar dokter umum. Bahkan Devdan
menyekolahkanku di fakultas specialis dokter anak di Singapore,sampai aku bisa
bekerja seperti saat ini. Devdanlah yang banyak turun tangan,dan sudah
sepantasnya aku tak mengecewakannya,hanya inilah yang bisa ku lakukan untuk
mengucapkan terimakasih pada Devdan. Selain itu kedua orang tua kamipun sudah
saling mengenal,dan sudah tau satu sama lain. Jadi pantaskah aku untuk
meninggalkan Devdan dengan kebaikan yang tak terhingga itu. Bahkan bundaku selalu
mewanti-wantiku untuk tetap menjaga hatiku hanya untuk Devdan.Karena mama
takut,jika aku benar-benar jatuh cinta dengan orang pilihanku yang ku sayangi
dengan sepenuh hati,bukan seperti Devdan. Bunda tau semua perasaanku,tapi aku
diam dan tak pernah mengeluh. Meski kadang aku lelah,seperti boneka yang harus
terpaksa mencintai Devdan.Itu karena aku pasrah,tapi sejak bertemu dengan
Marcel,aku seakan memiliki kekuatan untuk memberontak pada kepasrahan itu.
Dering ponselku memcah kesunyian
diruangan praktekku. Ada satu panggilan dari nomor baru yang terlihat di LCD
ponselku,tapi aku kenal betul nomor. “Hallo…”sapaku datar. “Tante doktel…ini
tante doktell…” suara itu menyejukan hatiku laksana padang gurun yang gersang
disirami hujan setetes. “ I..iyaaa sayang…” bisikku bahagia. “Tante dokteeell
Queen kangen sama tante…” :iya sayang,tante juga kangen sama Queen. Queen apa
kabar?” “ Iya Queen sehat kok,maemnya banyak. Tapi Queen nggak mau maem kalau
nggak ada Ayah. Kemalin Queen sakit,soalnya Queen kangen sama tante,tapi Ayah
bilang tante lagi kelja…” celoteh Queen panjang lebar membuat ku gemas dan
ingin memeluknya,mencium pipinya yang tembem itu dan melihatnya ia berlarian ke
pelukanku. “Tante doktel sekalang dimana?” “ tante lagi kerja,sayang. Emang
kenapa?” “Tante doktel kapan pulangnya?”Tanya gadis mungil itu hati-hati.
“Emang kenapa,sayang?”aku makin penasaran aja. “ Tante inget ngak ya..besok
hali apa?” Queen memulai tebak-tebakannya. “ Besok hari sabtu tanggal 16 maret
2013 sayang…emang ada apa sich?bikin tante penasaran aja..” “ Queen ulang tahun
yang ke 4 tante…”teriaknya ceria. “Ohhhh iyaa..maaf sayang,tante lupa…” “iya
tante,besok tante pulang kelja jam belapa?bial bisa temenin Queen pelgi. Ayah
udah janji sama Queen mau ngajak Queen jalan-jalan,maem es klim dan main-main
di timezone..tante bisa ikut kan?” Queen berceloteh tak henti-hentinya dan
berharap. Aku terdiam sejenak. Aku sudah terlalu lama tak bertemu Queen,aku
sangat merindukannya dan ingin membahagiakannya dihari jadinya itu,tapi disisi
lain sanggupkah aku untuk bertemu dengan Ayahnya. Untuk bercengkrama dan
metapnya. “Tante…hallo tante doktell…” Queen mengagetkanku dan menanti
jawabanku. “ Iyaa..Sayang..tante dengar kok..” “telus tante bisa ngak datang?”
“Iya sayang,tante pasti datang…tante akan datang besok jam 1 siang ya…”
“holeeeeeee iya tante Queen tunggu dilumah ya…Ayah pasti seneng tante mau
datang…ya udah tante…Queen mau bobok dulu yaa..dadaaaa tante…” “Iya
sayang…dadaaa..” Ucapku sambil menutup ponselku. Dan kini aku menghela nafas
panjang. Ada kebahagian dalam relung hatiku,aku tak mau berfikir terlalu jauh
dan aku akan menikmati satu hari yang menyenangkan itu bersama dengan si gadis
kecilku yang telah ku anggap anakku sendiri.
Aku duduk kembali di sofa,saat ponselku
bordering. Ku batalkan langkahku untuk berjalan keluar dan duduk di sofa untuk
mengangkat ponsel. “ Hai Dev…” sapaku datar. “Hallo sayang..apa kabar pagi
ini??” tanyanya ramah. “Hmss..baik..everything Ok”jawabku singkat. “Ada
apa?”aku bertanya menyelidik. “ Hmss…hari ini aku mau mengajakmu
keluar..special date gitu…” “Hari ini?”
aku mengulangnya. “Iya sayang..hari inikan malam minggu kebetulan ada
perpisahan kecil-kecilan untuk temanku yang akan pindah ke Eropa..jadi nanti
akan ku jemput jam 6 sore…” ucap Devdan begitu bangganya. Aku terdiam..mulailah
si Dilematik ini muncul lagi. Aku enggan menerima ajakan Devdan,terlebih aku
sudah janji akan merayakan hari ulang tahun Queen,dan aku tak ingin
mengecewakan gadis itu. “ Sorry Dev,aku tak bisa. Hari ini aku ada meeting
dengan IDI..” kataku berbohong. “Ohhhhh…..” suaranya terdengar begitu kecewa.
“Dev…maafkan aku…. “ ulangku. “Ok..no problem,kalau begitu akan ku jemput kau
esok pagi untuk ke Gereja…” katanya penuh dengan kekecewaan. Setelah mengucap
selamat tinggal,aku segera beranjak dari dudukku dan melangkahkan kakiku
keluar. Setiap sabtu dan minggu,aku libur di RSU jadi aku akan memanfaatkannya
untuk bersenang-senang dengan gadis kecilku. Siang ini begitu cerah dan
terik,namun tak jadi masalah buatku. Sepertinya rasa rinduku ini telah
meluap-luap dan tak menghiraukan segala keadaan yang ada. Dan entah
kenapa,dadaku berdetak tak biasanya,aku akan menemui Queen beserta sang Ayah.
Aku tak tau apa yang harus ku katakan nanti?Tiba-tiba saja aku gugup sendiri dan
otakku mulai berfikir topic apa yang akan ku bicarakan?? Huuuufft..kenapa aku
bisa segugup ini? Seperti seorang gadis ABG yang akan bertemu sang kekasih. Oh
Tuhan,bantu aku. Bisikku sambil tersenyum-senyum sendiri.
Malam minggu ini benar-benar special
buatku. Aku bepergian bersama Queen dan sang Ayah tentunya. Kami seperti sebuah
keluarga kecil yang bahagia. Bahkan ada beberapa pasang mata yang terlihat iri
dengan kebersamaan kami. Aku dan Marcel menggenggam tangan kecil Queen yang
berada di tengah. Tapi, ada satuhal yang membuatku teriris perih dengan
kata-kata Queen. “ Kenapa tante doktel ngak jadi bundanya Queen aja?kan kita
bisa pelgi kayak gini tiap hali…” Aku hanya diam tanpa mampu menjawab. Sang
ayahlah yang menjelaskan kepada si putri kecilnya bahwa apa yang kita ingikan
kadang tak sejalan dengan kenyataan. Aku hanya menggigit bibir sambil memandang
Marcel.
“ Stooooppp disini….” Bisikku pada Marcel saat sudah
mendekati rumah kecilku. Marcel mengerem mendadak. “ Kenapa,Cherr??aku akan
menurunkanmu sampai didepan rumah….” “Hmsss..tak usah,Cell..kasihan Queen” aku
mengelak. Namun sesungguhnya aku tak ingin Marcel melihat mobil Devdan yang
telah terparkir duluan,selain itu aku tak tau kenapa tiba-tiba Devdan datang tanpa
memberitahuku terlebih dahulu. Aku segera keluar dari mobil Marcel dan
memindahkan Queen yang tertidur dalam pangkuanku menuju ke jok belakang.
“Terimakasih Cherr…” bisik Marcel sebelum aku meninggalkannya. Aku tersenyum
dan mulai berat saat melepas Marcel pergi.Tapi aku memaksa langkahku untuk
beranjak, sebelum Devdan melihat Marcel.
Aku
berjalan pelan-pelan sambil mengendap-endap masuk kedalam,tapi ternyata Devdan
menantiku diluar. Dia duduk di teras dengan wajah yang melas. Mulai timbul rasa
bersalahku pada Devdan. “ Dev…” aku memanggilnya pelan. “Kenapa jalan???siapa
yang mengantarmu??” Aku mulai dicecar oleh pertanyaan darinya. Aku diam sampai
berada didekatnya,setelah itu duduk didekatnya. “Aku diantar-jemput sama
Renata…” jawabku mulai berbohong. “ Ohhh……” suaranya. “Lalu kamu
sendiri??kenapa datang tapi tak menungguku didalam??” “Bunda sudah tidur dan
aku tak ingin mengganggunya maka itu Aku ingin menunggumu disini,semula aku
ingin menjemputmu tapi lebih baik tidak….”katanya panjang lebar. Aku diam,tak
menyahut apa-pun. Devdan mendekatiku,lalu memulukku erat sekali. “Cherr…aku tak
tau apa yang terjadi padamu?? tapi aku merasa ada sedikit perubahan pada
dirimu…aku takut Cherr..aku takut kehilanganmu…” bisiknya penuh kemelasan. Aku
diam dan mengelus punggungnya. “Aku tak akan meninggalkanmu,Sayang…” bisikku
sambil menenangkan hatinya yang mulai Galau. Memang akhir-akhir ini aku sempat
agak menghindarinya,aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang agak kalut dan
hatiku mulai berontak. Tapi sedikitpun aku tak berniat untuk meninggalkannya.
Hanya butuh sedikit waktu saja.
Entah apa yang dimaukan hatiku?
Sejak pertemuan kembali bersama Marcel saat ulang tahun Queen,aku jauh lebih
susah untuk melupakan Marcel. Dadaku makin meletup-letup menahan perasaan yang
terpendam dan tak tersalurkan ini. Tapi aku tetap bersabar dan mencoba untuk
memadamkan rasa cinta yang sesungguhnya kepada Marcel,bukan cinta karena balas
budi. Semakin melupakan Marcel,semakin aku tersiksa bathin. Aku mulai
memimpikan sosoknya,dan masih terkenang dengan sikap-sikapnya yang sabar dan
kebapakan, membayangkan desahan nafasnya saat ia berfikir sesuatu. Semua
tentang dia tak dapat kumusnahkan begitu saja. Aku bahkan menangis terisak
dalam pelukan bunda karena sudah tak tahan lagi menahan rasa cintaku. Aku
berharap bunda akan mendukungku memperoleh cinta sejatiku,namun yang kurapkan
tak kesampaian. Bunda hanya diam saja,dan menenangkanku sesaat. “ Devdan adalah
pria terbaik yang pernah ada. Tak ada yang lebih baik darinya..” hanya itu yang
selalu diucapkannya yang membuatku semakin sakit. Aku pun memendam perasaanku
dalam angan dan mimpiku. Aku seakan tersiksa dalam keadaan ini,aku ingin
membaginya pada Marcel namun rasa gengsiku mengalahkan segalanya.
“ Sayang… hari ini aku akan
menjemputmu untuk melihat villa baru kita. Sudah 80% jadi,aku butuh
tangan-tangan kreatifmu untuk memperindahnya…” ceroscos Devdan panjang lebar
tanpa dapat ku bantah lagi. “Hmmmss… oke aku tunggu” jawabku singkat. Setelah
menutup handphoneku,aku menghela nafas panjang. Rasanya enggan sekali bepergian
dengan Devdan akhir-akhir ini dan sedikit menghindar darinya,namun kali ini aku
tak dapat menolak lagi. Aku segera keluar kamar setelah merapikan pakaianku dan
duduk di sofa menanti kedatangan Devdan. “ Mau pergi,Cher?” Tanya Bunda yang
datang dari dapur. Aku menghela nafas kearah bunda dan mengangguk saja. “Sama
Devdan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk lagi. Bunda mendekatiku dan duduk
disampingku. “Kamu kenapa,Cher?akhir-akhir ini kamu aneh sekali. Aku tak banyak
bicara,seakan-akan kamu marah sama bunda?memangnya bunda salah apa?”bunda mulai
nyeroscos. Aku memandang bunda sejenak. Rasanya malas sekali berdebat dengan
bunda. Aku hanya ingin diam dan memendam semuanya. “Apa ini karena Marcel?”
bunda menebak-nebak terus. “Bunda cukup!!! Aku hanya ingin sendiri,aku ingin
menenangkan semuanya. Kalaupun ini tentang Marcel toch bunda tak dapat
membantuku..” “Cher,bilang sama
bunda..apa kurangnya Devdan?Apa yang tak bisa diberikan Devdan untukmu?” Tanya
bunda yang terpancing emosi. Aku memandang bunda dengan kesal. “ Hanya satu
bunda!! Aku tak mencintai Devdan. Taukah bunda,apa rasanya bila dekat dengan
pria yang tak ku cintai?dan apa pula rasanya bila aku dekat dengan pria yang ku
cintai?” “Bukankah kamu mencintai Devdan
dari dulu?”bunda mencoba membela devdan. “Aku mencintai Devdan karena aku
berhutang budi padanya. Dan tidak lebih dari itu. Sedangkan dengan Marcel,aku
menemukan cinta yang sebenarnya. Itu yang bunda tak pernah tau..”jawabku tegas
kemudian meninggalkan bunda dan segera keluar. Aku terlalu kecewa dengan
bunda,disaat aku butuh tempat untuk berlindung,untuk membantuku tapi ternyata
bunda malah lebih memilih Devdan,bukannya menyuruhku untuk mencari cinta
sejatiku. Dan pada akhirnya aku juga tetap bersama Devdan,aku juga harus
berkorban perasaan dan menurut pada kehendak bunda. Jiwaku masih dalam
pembemberontakan hanya menunggu saatnya untuk menyerah saja.
Aku dan Devdan turun dari mobil
dangan gaya bos besar yang ingin mengecek pekerjaan para karyawannya. Devdan
menggandengku untuk masuk dan melihat-lihat. Bangunan villa ini cukup
besar,luasnya 5 are dengan bangunan yang bertingkat satu yang menghabiskan luas
4 are dengan dihiasi kolam renang didalamnya terasa sejuk sekali bila sudah
benar-benar jadi. Ada taman yang mengelilinginya terasa semakin -asri.
Semula,aku semangat sekali merancang pembuatan villa ini,sebab nanti aku kan
berada disini sepanjang waktu. Tapi sekarang malah terasa aneh,dan aku berfikir
disinilah aku akan terjebak dalam kurungan villa ini tanpa dapat berkutik.
“Sayang… bagaimana pendapatmu?”Tanya Devdan. Aku mengangguk pelan sambil
tersenyum kecil ke arahnya. “Sempurna,Dev..”komentarku. Devdan kembali
menggandengku untuk melihat kedalam kamar-kamarnya. Meski aku enggan,namun aku
tetap melakukannya. Hanya satu yang dapat ku ucapkan untuk diriku sendiri.
Cherry yang malang dan menyedihkan.
“ Pak Devdan…”panggil seseorang
ketika aku dan Devdan sedang melihat-lihat kamar yang akan kami tempati
nantinya. Begitu besar dan luas. Aku serasa mengenal suara itu,beberapa kali ia
memanggilnya dan aku kian yakin memilik suara itu. Sampai akhirnya ia berdiri
di depan pintu kamar. Aku melihatnya,begitu pula dengannya. Rasanya dadaku
berdegup sangat kencang sekali. Melihatnya sekilas membuat rasa rinduku
terobati. Aku tersenyum lebar ke arahnya begitu pula dengannya. “Selamat siang
Pak Marcel..”sapa Devdan yang kemudian berjabat tangan dengan Marcel,kemudian
denganku pula. Marcel melirik tangan kiriku yang tak terlepas dari tangan
Devdan dan aku tak mampu berbuat banyak. Devdan dan Marcel sedikit berbincang,sedangkan
aku yang berada disamping Devdan memperhatikan Marcel dan mengobati segala rasa
yang bergemuruh didalam hati. Layaknya seorang anak ABG yang baru bertemu pacar
pertamanya. Salah tingkah,malu-malu dan
tak tau harus berbuat apa. Dan sesekali Marcel-pun mencuri pandang untuk
melihatku. “ Pak Marcel, bisa minta
waktu sebentar. Ada telpone penting…10 menit saja..”ucap Devdan disaat Marcel
sedang membahas sesuatu. “ Dari siapa,Dev?” tanyaku ingin tau. “Klien,sayang..
ku tinggal sebentar ya..”pamitnya kemudian dia berlari keluar. Kini tinggalah
aku dan Marcel berdua. Ada sedikit rasa canggung. “Hai…apa kabar?” aku membuka
pembicaraan. “Baik..gimana sama villanya?” “Bagus..sempurna..tapi aku tak suka.
Karena semakin cepat selesai,maka aku dan jiwaku akan terkurung disini untuk
selamanya tanpa ada celah untuk pergi…dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Seperti boneka yang harus menuruti kemauan majikannya..” “Ekstrim sekali..”komentar Marcel. Aku
tersenyum kecut lalu memandangnya,seakan ingin menangis keras dan berontak. “
Oh ya,Cher…aku ingin memberi taumu…” “Tentang apa?” “Aku akan pindah ke
Jakarta.Setelah villa ini selesai. Aku akan mengajak Queen untuk melupakanmu.
Jujur aku tak sanggup dengan segala keadaan disini. Tentang kamu dan semuanya. Cukup
aku membuangnya di kota ini,di pulau ini…” ucap Marcel dengan nada
kekalahannya. Aku lemas mendengar pernyataan Marcel yang membuat seluruh
badanku kelu. Terlalu sakit sekali rasanya, benar-benar mati rasa dan tak dapat
tertolong lagi. Air mataku seakan sudah mendongkrak-dongkrak ingin keluar.namun
tetap kutahan sekuat tenagaku. Marcel memandangku dengan sedu. Seakan ia tau
apa yang kurasakan saat ini. “ Cher, aku pergi untuk melupakanmu dan
membiarkanmu untuk hidup bahagia seperti sebelum ada aku dulu. Tapi aku tak
yakin kalau aku bisa melupakanmu meski kita berada di tempat yang jauh.
Biarlah,aku yang menanggung perasaanku ini..” kata Marcel lagi dengan panjang
lebar. Aku hanya diam tanpa bisa berkata
apa-apa. Rasanya bibir ini terkunci dan hasratku ingin memeluknya dan
mengatakan untuk jangan pergi, tapi aku masih disadarkan oleh realita yang ada.
“ Cher.. are you Ok??” tanyanya yang melihatku setengah sempoyongan. Aku
menolak untuk di tolongnya, dan segera pergi untuk mencari Devdan untuk
mengajaknya segera pulang. Aku tak kuat dengan keadaan ini, hatiku benar-benar
hancur mendengar hal ini, seakaan-akan Marcel tak mau untuk mempertahankan
perasaannya. Rasanya aku ingin sekali menangis dan berteriak bahwa aku tak
ingin kehilangan dirinya. “ Sayang, ada
apa?” Tanya Devdan khawatir dengan berubahnya raut mukaku secara tiba-tiba. Aku
menggeleng pelan. “Antarkan aku pulang…”ada apa?” Tanya Devdan khawatir dengan
berubahnya raut mukaku secara tiba-tiba. Aku menggeleng pelan. “Antarkan aku
pulmengantarku tanpa banyak kata yang ia utarakan. Sedangkan aku menahan
bulir-bulir air mata ini agar tidak
terlihat oleh Devdan.
Devdan mengantarku sampai di depan
pintu rumahku. “See you tomorrow” kataku sebelum masuk. Devdan memegang
tanganku, “Katakan sesuatu,apa yang terjadi,Sayang?” “Nggak…nggak ada, aku
hanya kelelahan dan ingin istrahat…”jawabku mengelak dan segera masuk tanpa
mempersilahkan ia untuk masuk.
Aku merebahkan badanku diatas tempat
tidurku dan menumpahkan segala rasa yang telah ku tahan sejak tadi. Aku
benar-benar patah hati dengan keputusan Marcell. Baru saja aku ingin
memperjuangkannya tapi ternyata dia sudah putus asa dan mengambil keputusan
yang salah. Dan sekarang aku harus benar-benar bangun dari mimpiku dan melihat
kenyataan bahwa Devdan-lah yang akan mendampingi aku tanpa ada orang lain lagi,
tapi masih bisakah aku untuk berpura-pura lagi untuk mencintainya??
“ Cher…ada yang mencarimu” kata
bunda yang sudah berada di depan kamarku. Aku membuka mataku yang masih sembab
sambil membuka sedikit selimutku “ Jika yang datang Devdan,katakan aku sedang
tak enak badan” tolakku. “Bukan….” Jawab bunda tegas. Aku menoleh dan memandang
bunda penuh pertanyaan. “Bunda harap, kamu bisa tegas dengan perasaanmu dan
jangan pernah sekali-sekali untuk berpaling dari Devdan. Bunda tidak akan
menyetujui hubungan kalian jika kamu meninggalkan Devdan” ancam Bunda dan
segera meninggalkan kamarku. Aku terdiam dan masih menebak, bahwa yang datang
itu adalah Marcell. Aku segera menghapus sisa-sisa air mataku, lalu
meninggalkan kamarku untuk menemui si tamu.
Aku melihat Marcell yang duduk manis di ruang tamu tanpa segelas minuman
pun. Bunda sangat keras menentang ku dangan Marcell, tapi makin di tentang, aku
makin memperjuangkannya. Namun usahaku nggak ada artinya. Toch Marcell juga
sudah menyerah.
“Hai, Cell…” sapaku. “Hai Cher, Are
you Ok??” dia mengulangi pertanyaan yang ia ajukan siang tadi. “ Iya…” Jawabku
pelan sambil duduk di hadapannya. “ Kamu kenapa??” Tanya Marcell sambil
mendekatiku. “ Ngak…Nggak apa-apa kok” jawabku dan mulai memalingkan wajahku
dari pandanganya. “ Ada apa kamu kesini?” tanyaku menyelidik. “Hmzz…aku..aku hanya
ingin menyakinkan saja,bahwa kamu baik-baik saja..” “Maksudmu??” aku
memandangnya lekat-lekat. “Cher,aku tau semuanya…” bisiknya. “Apa??” aku
menantapnya lebih lekat. Marcell diam saja sambil terus memandangi wajahku yang
masih sembab. Dalam keadaaan seperti ini sebenarnya aku sangat degdegan. Berada
begitu dekat dengan Marcell. Tak dapat ku lukiskan betapa bahagiannya aku
berada di sampingnya saat ini. Dia memegang tanganku, “aku ingin mengajakmu
untuk ikut denganku” katanya mantap yang membuatku terkejut. Antara percaya dan
tidak. Aku memandangnya dan berbinar. Kini aku sudah memantapkan hati dan tak
ingin lagi menyia-nyiakan ajakan Marcell. Aku tersenyum kecil dan tak kuasa
untuk melepas tawa bahagiaku dihadapan Marcell. “Kamu
mau???” Marcell ikutan berbinar. “Iya…aku tak akan menolakmu untuk yang
kedua kali. Aku sudah putuskan dan saatnya aku memilih..” jawabku dengan senyum
yang tetap merekah. Marcell menggengam tanganku lebih erat dan kami tertawa
kecil, saling memandang dan malu-malu. “I love You, Cher…” katanya sambil
mencium keningku. “I love you too, Cell” bisikku pelan.
“Cherryyyyyy…………………….” Teriak bunda
yang membuat aku dan Marcell terkejut. “Bunda…..aku bisa jelaskan
semuanya….”aku mencoba menenangkan Bunda. “Cukup!!!!!! Masuk kekamar…dan
Anda…silahkan pulang, sudah malam. Tidak pantas seorang pria bertamu
malam-malam di rumah seorang gadis yang sudah bertunangan….”marah bunda.
“Bunda…cukup!!!! Aku tidak akan bertunangan lagi dengan Devdan…aku sudah capek
dengan menuruti semua perkataan Bunda dan Devdan, Aku tak pernah mencintai
Devdan. Selama ini, aku hanya ingin membalas budi Devdan dan aku tidak
merasakan cinta yang sesungguhnya dari dia. Jadi Bunda, biarkan aku yang
memilih dan menentukan jalan hidupku “ aku membantah bundaku sendiri setelah
sekian lama aku berdiam diri dan mengikuti segala kemauannya. “Cher..bunda
kecewa padamu..sejak bertemu dengan duda beranak satu ini, kamu sudah berani
melawan bunda..kamu lebih memilih duda ini dari pada bunda??”hardik bunda yang
membuat aku kian terenyuh terlebih kata-kata bunda telah menyakiti Marcell
dengan statusnya ‘duda’nya itu. Aku menatap Marcell yang hanya menghela nafas
panjang,aku tau ia ingin menyampaikan sesuatu,tapi tertahan. Aku mendekatinya
dan kami begandengan dengan eratnya. “Maaf bunda,kali ini aku akan mengikuti
kata hatiku…”bisikku sambil menunduk.
“Pak Marcell….!!!”panggil seseorang
dari arah pintu yang membuat aku tertegun mendengarkan suaranya. Devdan datang
dan sudah berdiri didepan pintu. Aku benar-benar terjepit dalam kondisi seperti
ini. Marcell hanya tersenyum kecut melihat kedatangan Devdan. “Sepertinya ada
yang harus kita bicarakan secara jantan,Pak Marcell..”ujar Devdan lagi dengan
penuh ketegasan,terlebih ketika melihat tanganku bergandengan erat dengan
Marcell. “Ya,saya piker seperti itu,Pak Devdan..”Marcell menyahuti dengan
tenang. “Cher,masuk!!”perintah Devdan. Aku memandang Devdan yang diselimuti
emosi, ia mendekatiku dan hendak menarikku. “Cukup,Dev. Aku ingin disini
bersama Marcell..”tolakku keras. “Cher,masuk!!”kali ini Devdan berteriak,dengan
mencengkram tanganku kuat,yang membuat aku meringis kesakitan. Marcell mencoba
menahan emosi Devdan. Tapi Devdan makin kalap dan menghantam wajah Marcell
hingga Marcell terjatuh dalam pangkuan sofa. “Cukup,Dev…!!!”aku berteriak dan
membantu Marcell. “Kamu nggak berhak untuk memukulnya..dia ngak
bersalah..aku..akulah yang bersalah..”aku mencoba membela Marcell. “Diaaammm….!!!!!!” Devdan berteriak
dengan emosi yang meluap-luap. “Aku ingin kita putus,Dev!!aku tak lagi mencintaimu…!!aku
ingin pernikahan kita batal..”ucapku to the point diiringi isak tangis yang
mendalam. Akhirnya uneg-unegku keluar juga,setelah sekian lama aku harus
tersiksa memendam semua perasaan ini. Antara tak tega untuk meninggalkan Devdan
dan harus memperjuangkan cintaku terhadap Marcell. Kedilemaanku pun keluar
sudah. Meski aku juga tau apa resiko yang harus ku terima nantinya. Aku melirik
Devdan yang memandangku penuh emosi,begitu pula bunda yang tak membelaku
sedikitpun. Aku seakan-akan sedang berada diruang persidangan dan menantikan
hakim yang akan memutuskan vonis. Devdan mencengkram kedua bahuku. “Aku tak
akan segampang itu melepaskanmu,Cher. Terlebih dari duda anak satu ini…”ucapnya
tegas. Aku meringis kesakitan,tapi tanganku tetap menggengam Marcell dengan
erat. Devdan melirik Marcell sejenak,dan satu hantaman lagi dari Devdan untuk
pipi Marcell. Kali ini aku menjerit kencang. “Dev,cukup…kamu menyakiti
Marcell,artinya sama saja kamu menyakiti aku..dia ngak salah,Dev!!”aku menangis
makin jadi dan segera memeluk Marcell,tapi Devdan menarik aku untuk menjauhi
Marcell. “Kita selesaikan secara jantan,antara pria dengan pria..”tantang
Devdan. Tapi Marcell tak melawan. “Pak Devdan..kita menyelesaikan masalah bukan
dengan kekerasan,tapi dengan pembicaraan. Biarlah Cherry yang memilih, ingin
bersama siapa dia nantinya. Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan
baik…semua kita serahkan pada Cherry..tak ada gunanya kita saling beradu yang
tak membuahkan hasil apa-apa”ucap Marcell bijaksana. Devdan terdiam,dan duduk
didekat bunda. Aku menghela nafas panjang dianata isak tangisku. Suasana hening
dalam ruangan ini. Yang ada hanyalah desak nafas yang saling beradu. Ada rasa
iba yang menyelimutiku saat melihat Devdan dengan wajah pasrahnya itu, aku
berdiri dan mendekatinya dan duduk dihadapannya. “Aku minta maaf,Dev…”bisikku
sambil memegangi tangan Devdan. Devdan diam dan tak mempedulikanku. Aku
memandangny dengan uraian air mata. Aku merasa bersalah sudah mengecewakannya.
“Dev..aku…aku hanya tak ingin membuatmu bertambah sakit dengan semuanya ini…”ucapku
dengan kerendahaan hati. Devdan memandangku sejenak, menghela nafas panjang
lalu menarikku dan memelukku erat sekali. Kini aku dan dia sama-sama terisak
tangis. Aku menangis karena lega dengan semuanya yang telah ku ungkapkan kepada
Devdan. “Aku tak bisa hidup tanpamu,Cher..”bisiknya dambil meremas rambutku.
“Pasti bisa,Dev..”hiburku. “Ngak..aku ngak bisa hidup tanpamu…”elakknya. Baru
kali ini aku melihatnya menangis keras dihadapaku. “Buatku,kamu adalah
segalanya,Cher..”tambahnya lagi. Aku hanya diam tanpa kata. Tak seberapa lama
ia melepaskan pelukannya,berdiri dan berlutut dihadapan bunda. Bunda tak tega
melihat Devdan,dan menangis sesenggukan. “Maafkan bunda,Nak”bisik bunda yang
serba salah. Devdan tak menjawab,wajahnya lesu pandangannya kosong. Ia pun
bangkin dan segera kelur,sebelum keluar ia memandang Marcell tajam. “Aku
menyesal telah mengenalmu…” bisiknya lirih. Marcell tak menanggapinya,ia hanya
mengangguk pelan. Aku mengantar Devdan hanya sampai depan pinta,aku melihatnya
yang berjalan dengan langkah gontai,sampai ia masuk kedalam mobil dan tak
terlihat lagi. Aku kembali duduk di dekat Marcell,tangannya menggengam tanganku
erat sambil tersenyum. “We are the champions” bisiknya sambil memamerkan
sederet gigi putihnya. Lalu ia memeluk aku dengan kebahagiaan yang tak
terhingga. “Kamu ngak papa,Cell” aku mengecek wajahnya yang memar-memar.
“Ngak..aku ngak apa-apa kok” katanya menenangkan aku. Marcell lalu melirik bunda,ia
beranjak dari duduknya dan menghampiri bunda. Marcell berlutut di hadapan bunda
“Saya minta maaf tante untuk semuanya..tapi saya janji saya tidak akan
mengecewakan tante dan akan membahagian Cherry..itu janji saya..”ucap Marcell
dengan ketulusan.
Bunda tersenyum dengan terpakasa. “Tante meneyrahkan semuanya
sama Cherry,apapun yang kalian lakukan adalah yang terbaik buat kalian..”ucap
bunda pelan. Bunda lalu memandangku sejenak dan segera beranjak dari
duduknya,tanpa meminta persetujuan dari Marcell yang masih berlutut
dihadapannya. Bunda perlu waktu untuk bisa memaafkan aku dan menerima Marcell.
Tapi aku bahagia sudah berada dalam titik terang kebagiaan yang tak terhingga.
TAMAT
Cerita ini hanyalah fiktif belaka bila ada kesamaan nama,gelar,peristiwa dan gambar itu hanyalah kebetulan belaka. Tanpa ada maksud untuk menyinggung pihak manapun
Writer by : Ochi Saraswati
Fb : Putu Ochi Saraswati
Twitter : @putudiah
email : ochichantik@gmail.com
Thank You for Reading :)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar