DILEMA



        
“ Damn….!!!” Bisikku dengan temperature emosi yang mulai naik ketika aku merasakan kopi hangat di dadaku dan mengotori baju baru ku yang berwarna putih. Aku tak mengubris siapa penabrak yang telah tidak hati-hati melakukan dua aktifitas sekaligus. Berjalan sambil minum. “ Sorry!!!” ucapnya. Aku merasa dia sudah berulang-ulang mengatakan hal yang sama,tapi aku diam dan aku berjalan menepi diantara keramaian Mall Bali Galery. “ Maaf ya Non…” katanya meyakinkan aku bahwa yang ia lakukan itu tidak disengaja. “ Ok, nggak papa” kataku cuek. Tapi dalam hati,aku jengkel banget. Baju ini kado Natal dari kekasihku, Devdan dan sekarang sudah terkena noda padahal,aku baru memakainya hari ini. “ Pake ini aja,non” katanya lagi sambil mengeluarkan sapu tanganya yang berwarna biru muda. Aku menerimanya sambil  memandangnya dan tersenyum kecut. Tapi percuma aja aku membersihkan kayak apa juga tidak akan kembali seperti semula, jadi setelah cukup kering tumpahan kopi itu,aku segera mengembalikan sapu tangannya. “ Terimakasih, tapi percuma saja tidak akan bersih “ kataku dengan nada menyindir. Dia tersenyum kaku karena merasa bersalah dan kena sindiranku. Aku diam dalam hati aku masih sebel sama dia. “ Ok, begini saja. Bagaimana kalau kita beli baju di matahari untuk kamu sebagai permintaan maafku sama kamu, lagian kamu nggak perlu malu lagi jalan-jalan dengan baju kotor “ tawarnya. “ Ohh nggak usah! Teerimakasih, aku juga mau pulang kok. Hanya menunggu sepupuku yang barangnya ketinggalan di gramedia ” tolakku halus. “Ayolaah Non!! Aku nggak akan tenang kalau kamu nggak mau menerima permintaan maafku itu “ dia sedikit memaksa. Aku diam sejenak dan dia terus menerus memaksaku, dan akhirnya aku mengiyakan tawaranya.       
            “ Aku Marcel “ katanya mengenalkan dirinya padaku saat kita baru masuk ke sebuah butik yang berjejer di disepanjang koridor Mall Bali Galeria. “ Aku Cherry“ kataku imut dan dia hanya tersenyum kecil. TAk lama setelah masuk kesebuah butik, dan memilih sebuah dress yang menurut Marcel cocok untukku,kami segera keluar dari butik tersebut. “Terimakasih ya, sudah membelikan aku dress semanis ini” ucapku basa-basi. “ nggak papa sudah sepantasnya, karena aku sudah membuat bajumu kotor. Terus kamu mau kemana sekarang??? Mau aku antar pulang??” tawarnya. Aku menggeleng pelan. "Sepupuku menungguku di JCO, jadi aku harus kesana. KAmu mau ikut sekalian?? Sambil minum-minum dulu “ aku menawarkan balik. Dia tersenyum lagi,lebih manis dari yang sebelum-sebelumnya dan menggangguk pelan. Akhirnya aku melangkah kearah JCO Bersamanya,beriringan untuk menemui Vivie yang sudah menantiku sedari tadi.
            Sejak saat itu, aku dan Marcel mulai sering untuk bertemu. Entah hanya untuk minum secangkir kopi atau nonton bioskop di Beachwalk diantara waktu luang yang kami miliki. Dan aku mulai mengenal Marcel lebih dalam lagi, dia seorang arsitektur yang mulai beranjak naik. Ada lebih dari 10 villa,resort dan hotel ternama yang ia bangun di Bali. Semula ia berdomisili di Jakarta, nggak salah dari stylenya aja keliantan dia seorang pria metropolitan berdarah india-jawa. Dan aku tidak munafik bahwa aku mulai mengaguminya.Kini, waktuku makin banyak untuk Marcel ketimbang Devdan yang sedang sibuk-sibuknya dalam karir bisnis property dan jual-beli villa warisan keluarga besarnya bersama kedua kakaknya. Kadang aku merasa bersalah pada Devdan yang notabene adalah calon suamiku,namun disisi lain aku takut untuk kehilangan Marcel. Umurku tidak muda lagi, 28 tahun bagiku sudah cukup umur untuk berumah tangga. Dan semula aku menetapkan hatiku untuk seorang Devdan, Pria berdarah Belanda-Bali. Begitu pula dengan keluarga kami yang sudah sama-sama mengenal satu sama lain. Bahkan karna Devdan Von Dismarck-lah,aku bisa melanjutkan studi ke Singapore sebagai spesialis dokter anak. Aku banyak berhutang pada Devdan dan disamping itu aku memiliki cinta yang aneh terhadapnya. Mungkin lebih tepatnya lagi adalah cinta balas budi. Akan tetapi,sejak datangnya Marcel beberapa bulan ini, entah kenapa perasaanku mulai berubah. Dan itulah yang ku takutkan! Aku mencintai Marcel dan tak ingin kehilangan Devdan.
            “ Dokter Cherry… dimohon segera ke UGD “ pinta seorang perawat yang langsun masuk ke ruangan praktekku. Tanpa banyak kata aku segera beranjak dan mengikuti perawat ke ruang UGD. Setiap sore sampai jam 10 malam atau lebih aku praktek di RS Bersalin Ibu dan Anak. Sedangkan Pagi hari aku bertugas di Rumah Sakit Umum. Sesampai di UGD aku segera bertindak, gadis mungil yang ku tangani mengalami keracunan susu, dia pingsan karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit,mual dan muntahan yang terus menerus. Aku segera memasang infus dan menyuruh para perawat memindahkan ke ruangan, si mungil harus dirawat beberapa hari sampai ia pulih. Aku segera keluar untuk menemui orang tua si anak. Aku melepas maskerku,ketika membuka pintu UGD dan melihat seorang pria yang duduk di ruang tunggu dengan wajah menunduk cemas. Aku terdiam sesaat,aku merasa mengenalnya,dia mirip seperti seseorang yang dekat denganku. Tapi aku segera membuang jauh-jauh semua perasaan itu,ini karena aku terlalu berhalusinasi. “ Selamat Malam,Bapak “ sapaku. Pria itu tengadah ketika mendengar ucapanku. Aku mundur dan terkejut ketika melihatnya. Begitu pula dengannya yang pelan-pelan beranjak dari duduknya. “ Cherry….” Bisiknya, “ Marcel…kamu…ayah anak itu?” tanyaku terbata. “ ahh…hmss..ak..aku…” dia kikuk dan akhirnya mengangguk pelan. “ Bagaimana keadaan Queen?” “Oh.. dia.. dia..baik-baik saja,aku sudah menanganinya,hanya saja dia perlu di rawat inap,mungkin besok sore ia sudah boleh pulang,hanya tunggu ia pulih saja” aku menjawab dengan gugup. “ Oh.. syukur!!” bisiknya. “Ok,kalau begitu aku pamit,dan anda,Pak Marcel bisa menemui putri anda di kamar. Semoga lekas sembuh “ kataku dengan cepat-cepat dan segera pergi meninggalkannya. Beberapa kali Marcel memanggilku namun tak ku ubris. Aku sudah terlanjur kaget dan sakit. Ternyata,dia sudah berkeluarga dan aku tidak mungkin masuk kedalam rumah tangganya sebagai orang ketiga. Bagaimana dengan istrinya nanti? Bila aku diposisi istrinya dan Devdan ternyata memiliki wanita lain selain aku..apa yang harus aku lakukan? Dia adalah kepala keluarga dan ayah dari anak-anakku dan aku akan tetap mempertahankan demi keutuhan rumah tanggaku. Dan aku bertekad untuk menjauhinya, selain itu aku tak berhak marah,sebab ia hanya menganggapku sebagi seorang teman dan tidak lebih. Kini aku akan memusatkan seluruh perhatianku pada Devdan yang akhir-akhir ini mulai ku jauhi.
            Aku duduk di ruanganku dengan lemas.Tak lama ada sebuah bbm masuk,dan itu dari Marcel. Terimakasih karena telah menolong hartaku satu-satunya. Itu kalimat yang tertulis di bbm. Aku tidak berkomentar,hanya membalasnya dengan mengirimkan emotikon smile :)   kurasa itu cukup. Setelah aku kecewa melihat kenyataan yang ku hadapi hari ini.


Sejak kejadian di Rumah Sakit itu,dan sejak aku tau kebeneran akan jati diri Marcel yang sebenarnya,aku mulai mengabaikan Marcel. Dan memberikan perhatian lebih kepada Devdan dan lebih menyibukan diriku pada RSU dan RSIA.. Aku tak mengubris lagi bbm dari Marcel ataupun sms dan telpon-telponnya padaku setiap saat. Dia mulai mengubah foto profil bbmnya dengan menggunakan fotoku dan status galau yang ia tampilkan namun hal itu tidak membuatku berubah. Pada intinya aku tidak ingin merusak hubungan Rumah Tangganya. Karena aku juga seorang wanita yang tidak mau disakiti oleh pria manapun juga.          
 “Pasien nomor urut sepuluh, dipersilahkan “ panggil perawat yang menjadi assistenku di Kilnik Bersalin Ibu dan Anak. Sedangkan aku yang sudah kelelahan menerima pasien mencoba untuk tetap santai. Hari ini tumben banyak anak-anak yang sakit akibat perubahan cuaca dari musim panas ke hujan,belom lagi memasuki bulan Januari ini intensitas hujan dan angin kian beradu. Meski aku sudah letih,tapi aku tetap melayani pasien terakhirku ini,dan berharap segera cepat melayani dan bisa cepat pulang,aku kembali duduk di meja kerjaku,ketika seorang Bapak dan putrinya masuk yang membuat aku sedikit terkejut dengan kedatangannya. Aku bersikap profesional dan menghadapi mereka dengan sebuah senyuman yang ramah. " Selamat Malam Pak Marcel..." Sapaku dengan kesabaran hati. "Cherry... Tolong!!! Jangan bersikap seperti itu,ada kesalah pahaman diantara kita " Ia sedikit berbisik agar assistenku tak mendengarnya. Aku diam mendengar kata-katanya,tapi hatiku terkikis saat melihat gadis kecil berumur 4 tahun itu di pelukan sang ayah. " Ada keluhan apa,Pak?" Tanyaku tanpa mengubris kata-kata Marcel,namun sebenarnya aku ingin sekali menangis keras dan sekencang-kencangnya. "Aku nggak sakit doktel,tapi ayah ngajak aku ke sini katanya aku mau dikasi' pelmen doktel..." Kata si mungil nan lugu itu yang belum lancar dalam berkata-kata. Aku terhenyak,tak tega rasanya melihat Queen yang mengharapkan sebungkus permen. Aku merogoh tasku dan mengambil sebuah coklat yang selalu stand by dalam tasku sebagai pancingan untuk anak-anak yang aku hadapi seperti model Queen saat ini. "Telimakasih doktel " katanya kegirangan. Aku bersenyum kecil tanpa menjawab apa-apa. Kemudian aku menyuruh suster untuk memeriksa Queen di tempat tidur. Dan kini aku duduk tepat dihadapan sang ayah. "Cherry,dengar! Queen tidak sakit.Aku hanya ingin kamu bisa mengenalnya dan aku ingin menjelaskan sesuatu padamu" jelas Marcel tapi aku tetap tak mengubrisnya dan segera beranjak untuk memeriksa Queen. " Queen sayang, badannya ada yang sakit??" "Nggak doktel,Queen nggak sakit kok"jawabnya polos. "Terus kenapa mau kesini?" "Diajak Ayah" " Ohh gitu,terus mama kemana?" Aku mulai menyelidk. "Kata Ayah,Bunda udah kelumahnya Tuhan diatas..." Ucapnya dengan lugu. Aku terdiam sambil memandang langit-langin mengikuti telunjuk mungil itu.Aku tak tau harus berkata apa lagi? Aku binggung.
 Aku duduk dicafetaria RSIA bersama Marcel dan Queen dalam pelukan Marcel telah tertidur dengan lelapnya. Rasa lelah yang menderaku kini seakan lenyap sudah. Kini aku tahu kenyataan yang terjadi pada keluarga kecil Marcel. Istrinya meninggal saat melahirkan Queen akibat pendarahan hebat,dan selama ini Queen di besarkan oleh kedua Orang tua Marcel di Jakarta,dan baru sebulan terakhir ini Queen bersamanya dengan diasuh oleh seorang baby sitter dirumahnya yang terletak di bilangan Renon yang hanya beberapa blok saja dari RSIA ini. Kini aku berubah pikiran dan menjadi terharu atas kisah hidupnya. Tak pernah kusangka ia menjadi duda secepat ini dimana ia masih terlalu muda untuk menjadi seorang single parent bagi Queen. "Cherry...." Bisiknya.. Aku mendahem. "Aku hanya ingin minta maaf..." "Buat apa???" Tanyaku pura-pura bodoh. “Buat semuanya. AKu sudah tidak jujur padamu,bahwa sebenarnya aku seorang duda beranak satu “ Jawabnya yang kian pelan. Aku diam sambil menunduk. “ Tak masalah buatku…” “ Lalu kenapa kamu menghindari aku sejak kamu tahu Queen adalah putriku?Kamu marah padaku kan?” Aku menggeleng. “Jawab Cherry…aku tau kamu marah padaku!!!” Marcel Mendesakku. “ Enggak..aku nggak marah,Cel. Ketika aku tau bahwa Queen adalah putrimu,aku hanya berfikir aku tidak mau terlalu dekat denganmu agar orang tak mengganggapku sebagai perusak rumah tangga orang. Itu saja!” bantahku dengan beralibi,aku tak mau Marcel mengetahui bahwa aku marah padanya. “ Yakin hanya itu?” Marcel lagi-lagi mendesakku. Aku Cuma mengangguk pelan,kemudian kembali terdiam. “ Kalau begitu aku minta maaf,Cher..kamu bukan perusak rumah tangga orang. Dan saat ini aku seorang pria yang bebas perteman dangan siapapun,termasuk kamu….” Ucapnya meyakinkan aku. Aku mengangguk,kemudian tersenyum kecil kearahnya. Lalu kami kembali terdiam,bahkan yang saat ini cukup lama kami terdiam. Sedangkan aku menunduk sambil memainkan handphoneku,sambil melihat-lihat pesan yang ada di blackberry massangerku dan aku melihat status Marcel. Harta berhargaku saat ini adalah my Little Queen dan Dokternya. Aku tersenyum membacanya kemudian memandang Marcel dengan senyuman yang lebih lebar lagi.
Sejak aku dan Marcel baikan,kini kami kembali akrab. Bahkan entah kenapa aku mulai menyayangi Queen. Aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama Queen di rumah Marcel. Dia gadis mungil yang lucu,yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Meski aku nggak bisa memberikan kasih sayang yang ia harapkan paling tidak bisa mengobati kerinduan itu. Dan tak terasa sudah 6 bulan aku menjalani pertemanan aneh bersama Marcel dan putrinya. Tanpa sedikitpun meninggalkan Devdan yang terkadang sibuk dengan dunia kerjanya sendiri. Dan sampai detik ini pun,aku tetap merasakan hal yang sama terhadap Marcel. Aku takut kehilangan dia. Mungkin aku sayang padanya dan terlebih adanya Queen yang membuat ku semakin iba. Namun disisi lain Marcel tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang perasaanya ,meski begitu aku berkeyakinan kalau Marcel sebenarnya juga menyukaiku. Hal inilah yang justru membuatku makin bimbang,jujur aku tak bisa memilih antara Devdan dan Marcel
dimana kini aku sama-sama takut akan kehilangan mereka berdua. Dan sampai detik ini juga,Marcel tidak pernah tahu akan statusku dan arti cincin yang ku pakai di jari manisku.


           Sudah seminggu ini aku tidak kerumah Marcel untuk menengok Queen,begitu pula dengan ayahnya,Marcel. Karena aku sedang disibukkan oleh kerjaanku di dua tempat dan sedikit membantu keluarga Devdan yang sedang sibuk  melakukan ceremony Grand Opening kantor baru yang terletak di daerah Kuta. Dengan mengundang investor yang mereka kenal dan beberapa teman juga kerabat keluarga besar Devdan yang rata-rata para bule dan beberapa arsitektur dan kontraktor besar. Saat ini Devdan sedang menapaki puncak karir yang gemilang. Sekalian hari ini dia akan mengenalkanku pada seorang arsitek yang akan menangani villa pribadi yang akan kami tinggali nanti setelah kami menikah tahun depan nanti,itu rencana kami semula. Dalam materi,aku menemukan kesempurnaan dalam diri Devdan,tapi dalam bathinku entah darimana rasa cinta itu mulai pudar terbawa asa yang membuatku merasa kian jauh dari hati Devdan,namun apa yang bisa ku perbuat?selain diam dan menerima segala sesuatunya,dan hanya mampu berteriak di belakangnya dengan pelampiasan kepada seorang Marcel.
          Ceremony Grand Opening kantor baru Devdan menurutku malah terkesan separti party-party orang-orang bule pada umumnya. Mereka berdiri dengan gelas champigne atau coctail ditangan mereka masingi-masing. Saling bercengkrama, menawarkan dagangan mereka kepada sesama atau promosi,sebab rata-rata orang bule ini ke Bali mereka berbisnis juga. Selain properti seperti Villa dan Resort,mereka pengusaha restoran dan garment. Aku pun telah terbisa dengan kondisi ini,selama 4tahun kami menjalin hubungan, Devdan selalu mengajakku keacara-acara seperti ini. Jadi,rata-rata aku sudah mengenal teman-teman Devdan.
          " Sayang,aku ingin mengenalkanmu pada seorang teman baruku" bisik Devdan saat aku sedang berbincang dengan teman Devdan yang berprofesi sebagai seorang Psikiater. Aku tersenym dan segera pamit padanya,dan mengikuti Devdan yang mengandengku erat. " Sayang, Ini Pak Marcel,arsitektur yang akan membuat villa pribadi untuk kita" ucap Devdan enteng. Aku terdiam saat dikenalkan pada arsitektur kebanggaanya yang notabene adalah orang yang diam-diam ku sukai. Seketika saja tubuhku berkeringat,aku tak tau apa yang harus aku lakukan,selain tersenyum getir dan kaku. " Pak Marcel,ini adalah Cherry. Calon istri saya. Dia seorang Dokter spesialis Anak yang hebat..." Ucap Devdan lagi membanggakan diriku dihadapan Marcel yang juga terbenggong kaget. Namun Marcel masih bisa menyembunyikan segala rasa yang ada didalam dirinya dengan menyalami aku. Aku menyambut tanganya dengan lemas. "Senang bertemu anda dokter Cherry" katanya pelan.Aku tak menjawab.Hanya tersenyum kecil. " Pak Devdan...anda beruntung sekali mendapatkan seorang pendamping seperti Dokter Cherry...." Marcel memuji. Devdan tertawa lebar. "Bukan hanya beruntung,Pak Marcel.Tapi sempurna. Apalagi yang mau saya cari?Karir,pendamping semua sudah disiapkan oleh Tuhan.Hanya kini tinggal menata masa depan bersama anak-anak kami,bukan begitu sayang?"Devdan berbangga diri sambil meminta pendapatku.Aku yang dari tadi terdiam lagi-lagi tersenyum kecil tanpa mampu berkata-kata. " Ok,sayang...nanti kamu bisa berkomunikasi dengan pak marcel untuk design rumah kita.." "Iya Dev,masalah itu bisa diatur,bukan begitu pak Marcel?" "Ahh...hmsss...iyaa Dokter Cherry" marcel menanggapi dengan kaku. " Yaaa,inilah salah satu kelebihan Cherry,Pak Marcel...dia ingin mendesign sendri rumah idaman kami..." "Iya itu bagus,Pak Devdan jadi anda akan selalu betah dirumah..karena rumah adalah tempat berkumpulnya sebuah keluarga" jawab Marcel. " Boleh saya tahu style rumah idaman anda,dokter Cherry??" Lagi-lagi Marcel menanyaiku sambil menatap mataku. Sebenarnya aku sudah ingin mengakhiri pembicaraan ini,tapi kenapa dengan mereka berdua ini?? Dihadapanku kini berdiri dua  orang yang sama-sama ku sayangi...Momok yang kutakuti selama ini terjadi juga,seandainya aku disuruh memilih diantara mereka... Jujur aku nggak sanggup dan tak dapat memilih karena mereka berdua sama-sama kucintai. Lagi-lagi aku tersenyum dengan getir kearah Marcel dan mencoba menyembunyikan segala sesuatunya dari Devdan. " Saya suka rumah minimalis dan style korea modern. Apa anda sanggup membuatkannya,Pak Marcel?" "Tenang saja,Saya sanggup dokter Cherry,asal anda memberi tahu kepada saya tetang pemikiran-pemikiran hebat anda" jawab marcel yang mulai sinis. " Ok Pak Marcel,kita akan meeting kembali pada waktu yang sudah ditentukan Devdan,bukan begitu sayang?" "Iya Pak Marcel,mungkin seminggu lagi kita akan meeting masalah sketsa dan IMBnya" Devdan memperjelas.
" Ok, kalau begitu sukses buat anda Pak Marcel" ucapku mengakhiri pembicaraan ini. " Sukses juga buat anda Dokter Cherry Von Dismarck" jawab Marcel sambil menyalamiku dan Devdan. Dan dengan segera aku pergi dari hadapan Marcel yang membuatku makin sesak. 
 
 Kini aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Masih bisakah aku bertemu dengannya dan Queen yang sudah ku sayangi seperti putriku sendiri.Aku binggung. Aku berusaha untuk melepaskan Marcel dan mulai meyakinkan hatiku bahwa Marcel bukanlah untukku. Selain itu mungkin dia tidak sepanik aku yang terkesan hiperbola dengan keadaaan ini. Toch selama ini Marcel hanya menganggapku sebagai seorang teman biasa dan tidak lebih. Jadi untuk apa aku seperti ini? Semua ini malah menyiksaku dan aku tak berdaya. Ayooo Cherry,bangun dari mimpi dan lihatlah kenyataan!! Ada seorang pria yang sangat menyayangimu dengan seluruh jiwa raganya yaitu Devdan.Apa lagi yang kurang dari Devdan? Dan Kau sudah banyak berhutang budi padanya,apakah kau tega meninggalkannya demi seorang Marcel yang baru kau kenal 6 bulan ini,sehingga melupakan kebaikan Devdan? Selain itu Dia adalah pria sempurna,dan tahun depan kalian akan segera menikah,membentuk keluarga yang bahagia jadi buanglah seluruh pikiranmu tentang Marcel. Marcel hanya numpang lewat dihatimu ketika Devdan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan ini sudah kesekian kalinya aku menyakinkan diriku sendiri tentang Marcel. Jadi untuk apa aku memikirkan dia? Semakin ku lupakan,semakin bayang-bayang Marcel selalu muncul. Aku delete semua kontak yang berhubungan dengan Marcel. Tapi semakin aku merindukannya,bahkan tak tertahankan,begitu pula dengan Queen. Dan Marcel pun diam,saat aku menghapus kontak blackberry massangernya,itu sama saja bahwa aku tak berarti buat dia. Kalau memang ia merasakan hal yang sama,tentu dia akan menelpon ku,namun kenyataanya tidak. Artinya aku harus benar-benar melupakannya,dan mengangapnya bahwa ia adalah selingan semata tanpa arti apa-apa.
            Hujan deras mengguyur kota Denpasar dan sekitarnya. Macet pun merajalela dimana-mana akibat banjir dari aliran-aliran selokan. Aku pun pasrah yang terjebak macet diantara puluhan kendaraan ibu kota. Aku menyalakan radio untuk menemani kesendirianku didalam mobil. Aku mulai tenang mendengarkan beberapa lagu yang telah diputar dan merasa sedikit rilex diantara kejenuhanku sepulang dari Rumah Sakit dan menangani banyak pasien hari ini. “ Oke Lovers,ini ada sms selanjutnya dari Marcel di Renon….” Kata si penyiar yang membuiatku sensitive sekali apabila mendengar nama Marcel. Aku mulai membesarkan volume radioku. “ Marcel request lagunya Maudy dengan Perahu Kertasnya…lagu ini special buat si Dokter Cantik di RSIA daerah Renon… Kau telah menghidupkan lagi cita-cita yang telah musnah,tapi kenapa sekarang kau padamkan lagi cita-cita itu?Hmmmsss so sweet and mystherius ya..” celoteh si penyiar. Deg!!! Aku terdiam sejenak. Mungkinkah itu aku?? Bathinku. “ Oke Lovers,kita dengarkan saja satu lagu dari Maudy dengan Perahu Kertas.. special buat Marcel dan sang Dokter Cantik” lanjut sang penyiar dan terdengarlah alunan lagu Perahu Kertas yang pernah kami tonton bersama. Hatiku makin bergejolak dangan semua ini,tak terasa titik-titik air mata mengalir pelan. Aku mulai bertanya-tanya lagi,apakah saat ini cintaku pada Devdan terkesan dipaksakan?Hanya karena aku ingin membalas budi atas kebaikannya yang telah membantuku hingga akhirnya aku bisa menjadi seperti ini. Aku tak tau dan aku tak mau menanggung ini sendirian,paling tidak aku ingin kejelasan dari Marcel. Aku segera membelokkan mobilku kearah Renon,kerumah Marcel.
            “ Tante dokteeeeelllll……….” Queen segea berhamburan ketika melihatku datang. Aku tak kuasa dan segera memeluknya dengan erat. “ Tante doktel kemana aja?Queen kangen sama tante doktel…”Tanya Queen manja. “ Maafin tante ya sayang,tante sibuk kerja..banyak temen-temen Queen yang sakit,makanya Queen jangan hujan-hujanan ya biar nggak sakit…” “ Iya tante,Queen janji…” katanya lucu yang membuatku gemas. Ternyata pemandangan ini disaksikan oleh Marcel. “ Hai Cherr…” sapanya. “ Hai Cel..kamu nggak kerja?” tanyaku basa-basi. “ Tadi siang aku pulang,Queen beberapa hari ini Queen agak rewel,nggak mau makan kalau nggak aku temani. Katanya dia kangen sama kamu…” jelasnya. Aku memandang Queen,seolah mataku menayakan kebenaran perkataan sang Ayah. “Queen pengen sama tante doktel…tante doktel jangan pelgi lagi ya…Queen janji nggak akan nakal lagi..tapi tante doktel temenin Queen yaaa..”rengeknya. Aku hanya bisa menggangguk dan tersenyum getir. “ Queen udah maem?” “Udah tapi,Queen mau maem sama tante lagi..” rengeknya. Aku pun mengabulkan permintaan si gadis kecil dengan ketulusanku untuk mengobati kerinduanku juga padanya dan sang Ayah.
            Aku bergegas pamit ketika waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore,yang artinya aku harus segera berangkat ke Klinik yang terletak beberapa blok dari rumah Marcel. Akupun harus mengumbar janji pada sikecil yang memelas agar aku tidak pergi. Setelah kepeluk dengan hangat,iapun masuk kekamar dengan si baby sitter,seddangkan ayahnya mengantarkanku sampai didepan. “ Terimakasih sudah mau datang untuk menjenguk Queen,Cherr..” Aku tersenyum kearahnya. “ Terimakasih juga sudah mengirimkan sebuah lagu untukku.Karena itulah aku datang…” “Ku harap tunangan mu tak mendengarkanya” jawabnya sinis dengan tetap tersenyum. Aku menoleh kearahnya,memandangnya sejenak dengan perasaan jengkel kenapa dia tidak mau mengungkapkan perasaanya itu padaku. “Berhentilah dalam kemunafikan,Cel” ucapku penuh emosi dan segera masuk kedalam mobil.Aku sangat berharap dia mengejarku dan mengetuk-ketuk kaca mobilku,tapi yang kuharapkan ternyata tidak terjadi.Dan aku pergi dengan perasaan kecewa terhadapnya,atas ketidak gentle-annya pada perasaannya sendiri. Aku tau dan paham,kami memiliki perasaan yang sama hanya saja ia tak mau mengungkapkan itu,begitu pula denganku yang masih angkuh dengan embel-embel gelar ‘tunangan Devdan Von Dismarc’ yang ku sandang.
            Hujan tidak mau bersahabat barang sejenak saja.Aku keluar dari ruang pratekku yang sepi pengunjung,hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dengan kegelisahan untuk menanti kelahiran anggota keluarga mereka yang baru saja dilahirkan.Aku tidak segera pulang,namun membelokkan langkahku kearah cafeteria yang berdampingan dengan apotek. Paling tidak segelas coklat hangat bisa menghangatkan badanku. Aku duduk disebuah meja sambil mengaduk-aduk coklat hangatku.  “Selamat Malam Dokter Cherry…”  sapa seeorang yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Aku menoleh dengan agak terkejut,lalu memandangnya sejenak. “ Mau apa kamu kesini “ tanyaku jutek pada pria yang kini telah duduk dihadapanku yang tak lain adalah Marcel. “ Aku menunggumu di parkiran mobil sejak 2 jam yang lalu berharap kamu akan segera pulang dan aku akan mencegatmu..tapi ternyata kamu malah duduk disini…” katanya basa-basi. “Untuk apa datang menemuiku? bukankah kita sudah bertemu tadi sore” aku berbalik sinis padanya. Dia diam sejenak dan menghela nafas panjang. “Aku tidak tau harus mengatakannya darimana?” katanya pelan. Aku memandangnya dengan penuh selidik. Dia menghela nafas lagi. “Semula aku berharap padamu…” bisiknya lirih sambil menopang dagu. Aku agak terkejut,namun dalam hati aku bersorak.Karena ia akhirnya mengakui juga. “Tapi ternyata aku harus menelan kepahitan setelah mengetahui bahwa kau adalah tunangan sang bos besar… dan akupun sadar diri,bahwa aku tidak bisa  merebutmu dengan statusmu itu….” Katanya dengan pasrah. “Sejak kapan kau menyukaiku?”aku meliriknya. “Sejak pertama melihatmu,dan ketika aku melihat Queen begitu dekat denganmu,aku semakin berharap kau akan menjadi pengganti ibu Queen..Tapi ternyata itu hanya sebuah keinginan tanpa kenyataan…”katanya pelan. Kini kamipun saling berpandangan,aku memahami semuanya.Posisiku makin sulit saja,aku dilema sekali dalam hal ini.  Disatu sisi aku bahagia dengan kejujuran Marcel dan kenyataanyapun aku juga menyukainya,namun disisi yang lain aku tidak bisa berkutik dengan status yang ku sandang ini. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan Devdan yang sangat mencintaiku, tapi rasa cintaku mulai pudar bersamaan dengan hadirnya Marcel yang mulai menanamkan benih-benih cintanya dihatiku. Aku dalam keadaan dilema,tapi sudah jelas cintaku pada Marcel tak tersampaikan. Walau bagaimanapun dan seingin apapun,aku tetap tidak bisa memilihnya. “ Cherr….” Bisik Marcel,ia memegangi jemariku dan tersenyum kecil. Aku hanya menghela nafas panjang. “Aku juga menyukaimu,Cel.. hanya saja keadaan yang membuatku tidak bisa memilihmu…”ucapku pelan.Marcel kembali diam. “Andai saja kita bertemu lebih awal mungkin keadaanya tidak akan seperti ini. Aku menunggu pengakuanmu sudah sejak lama,kadang aku berfikir aku akan pergi dari hidup Devdan,kemudian menjalani kehidupan yang baru bersamamu..tapi itu tak mungkin!” aku kian sedih,bulir-bulir air matapun mulai mengalir deras. Marcel terdiam lagi,tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan lagi,semua sudah jelas. Aku tidak mungkin meninggalkan Devdan,dan harapannya memiliki akupun musnah. “ Maaf…” bisikku diantara isak tangisku dan kian derasnya hujan diluar sana yang seakan tau bagaimana Dilemanya hatiku. Marcel kian erat memegangi jemariku. "Entahlah,Cher..!!! Sejak di rumah tadi aku optimis bahwa kamu akan memilihku,tapi aku juga sadar bahwa kamu adalah milik orang lain.." Kata-kata Marcel makin berat saja. Sedang aku mulai menghapus sisa-sisa air mataku.  “Cel…aku rasa mungkin ini hari terakhir kita bertemu..” kataku pelan,lalu diam memikirkan apa yang baru aku katakan yang aku sendiri tidak tau dari mana muncul pemekiran seperti itu. Marcel tercengang dan menatapku lebih dalam. Aku tak menjawab mimik muka yang tak setuju itu. “ Aku tak mau kita sama-sama terluka,dan yang lebih tersakiti adalah Devdan..Terkadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan kenyataan yang ada” ujarku yang mencoba tegar. “ Apa kata-kata ini datang dari lubuk hatimu, Cherr? Atau karena keadaaan yang membuatmu tak bisa memilih?aku tau bahwa hatimu untukku…”Marcel tetap mempertahankan. “Sudah Cel..Cukup!!”aku makin tak kuasa menahan isak tangis ini. “Mulai detik ini,anggap saja aku tak pernah mengenalmu..tak selamanya cinta harus memiliki,Cel…dan itu terjadi pada kita..” kataku pelan dengan air mata yang masih deras,lalu meninggalkan Marcel sendirian. Aku berjalan keruanganku dengan agak tergesa-gesa agar taka da seorangpun yang melihatku seperti ini. Kekalutan dan kegalauan lini memenuhi relung hatiku. Seandainya aku bisa memilih,seandainya aku boleh jujur…Marcel-lah yang akan ku pilih. Aku tak peduli statusnya,aku terlanjur sayang pada anaknya. Tapi aku tak bisa memilih,aku tetap hidup dalam kepura-puraan. Semula cintaku pada Devdan  hanya sekedar ucapan terimakasih saja, kami dipertemukan di sebuah universitas ternama di Denpasar,hanya saja kami beda jurusan. Dia menjadi Dewa penolongku ketika aku tidak dapat melanjutkan kuliahku karena keterbatasan biaya,sajak ayah meninggal dunia beberapa tahun silam,mau tak mau aku harus menyimpan dalam-dalam cita-citaku menjadi seorang dokter,tapi Devdan datang menawarkan bantuan.Dia yang sudah sejak lama menaksirku mempunyai peluang besar untuk menjadi seorang pahlawan untukku. Sehingga akhirnya aku diwisuda dengan gelar dokter umum. Bahkan Devdan menyekolahkanku di fakultas specialis dokter anak di Singapore,sampai aku bisa bekerja seperti saat ini. Devdanlah yang banyak turun tangan,dan sudah sepantasnya aku tak mengecewakannya,hanya inilah yang bisa ku lakukan untuk mengucapkan terimakasih pada Devdan. Selain itu kedua orang tua kamipun sudah saling mengenal,dan sudah tau satu sama lain. Jadi pantaskah aku untuk meninggalkan Devdan dengan kebaikan yang tak terhingga itu. Bahkan bundaku selalu mewanti-wantiku untuk tetap menjaga hatiku hanya untuk Devdan.Karena mama takut,jika aku benar-benar jatuh cinta dengan orang pilihanku yang ku sayangi dengan sepenuh hati,bukan seperti Devdan. Bunda tau semua perasaanku,tapi aku diam dan tak pernah mengeluh. Meski kadang aku lelah,seperti boneka yang harus terpaksa mencintai Devdan.Itu karena aku pasrah,tapi sejak bertemu dengan Marcel,aku seakan memiliki kekuatan untuk memberontak pada kepasrahan itu.

          
         
  Sudah hampir dua bulan terakhir aku tak menemui Marcel.Kami sama-sama saling melupakan tapi,semakin ku lupakan semakin aku melihat sosoknya di pelupuk mataku.Bahkan aku mulai membandingkan dirinya dengan Devdan. Marcel yang dewasa,dan bisa mengarahkan segala sesuatu lengkap dengan kharisma yang ia memiliki,ketelatenanya dan sosoknya yang begitu sabar dengan ketenanganya dalam segala pembicaraanya yang membuat aku tenang dan hangat. Berbeda dengan Devdan yang cekatan,tegas dan energic. Ada kalanya aku mendambakan seorang Marcel yang kebapakan itu dalam pelukanku,penuh ketenangan dan kenyamanan. Namun kali ini aku mencoba untuk tegar,mungkin ini adalah takdir yang harus aku jalani dan dalam setiap doaku,aku menyelipkan permohonan agar dikehidupan mendatang aku bisa bersamanya.
            Dering ponselku memcah kesunyian diruangan praktekku. Ada satu panggilan dari nomor baru yang terlihat di LCD ponselku,tapi aku kenal betul nomor. “Hallo…”sapaku datar. “Tante doktel…ini tante doktell…” suara itu menyejukan hatiku laksana padang gurun yang gersang disirami hujan setetes. “ I..iyaaa sayang…” bisikku bahagia. “Tante dokteeell Queen kangen sama tante…” :iya sayang,tante juga kangen sama Queen. Queen apa kabar?” “ Iya Queen sehat kok,maemnya banyak. Tapi Queen nggak mau maem kalau nggak ada Ayah. Kemalin Queen sakit,soalnya Queen kangen sama tante,tapi Ayah bilang tante lagi kelja…” celoteh Queen panjang lebar membuat ku gemas dan ingin memeluknya,mencium pipinya yang tembem itu dan melihatnya ia berlarian ke pelukanku. “Tante doktel sekalang dimana?” “ tante lagi kerja,sayang. Emang kenapa?” “Tante doktel kapan pulangnya?”Tanya gadis mungil itu hati-hati. “Emang kenapa,sayang?”aku makin penasaran aja. “ Tante inget ngak ya..besok hali apa?” Queen memulai tebak-tebakannya. “ Besok hari sabtu tanggal 16 maret 2013 sayang…emang ada apa sich?bikin tante penasaran aja..” “ Queen ulang tahun yang ke 4 tante…”teriaknya ceria. “Ohhhh iyaa..maaf sayang,tante lupa…” “iya tante,besok tante pulang kelja jam belapa?bial bisa temenin Queen pelgi. Ayah udah janji sama Queen mau ngajak Queen jalan-jalan,maem es klim dan main-main di timezone..tante bisa ikut kan?” Queen berceloteh tak henti-hentinya dan berharap. Aku terdiam sejenak. Aku sudah terlalu lama tak bertemu Queen,aku sangat merindukannya dan ingin membahagiakannya dihari jadinya itu,tapi disisi lain sanggupkah aku untuk bertemu dengan Ayahnya. Untuk bercengkrama dan metapnya. “Tante…hallo tante doktell…” Queen mengagetkanku dan menanti jawabanku. “ Iyaa..Sayang..tante dengar kok..” “telus tante bisa ngak datang?” “Iya sayang,tante pasti datang…tante akan datang besok jam 1 siang ya…” “holeeeeeee iya tante Queen tunggu dilumah ya…Ayah pasti seneng tante mau datang…ya udah tante…Queen mau bobok dulu yaa..dadaaaa tante…” “Iya sayang…dadaaa..” Ucapku sambil menutup ponselku. Dan kini aku menghela nafas panjang. Ada kebahagian dalam relung hatiku,aku tak mau berfikir terlalu jauh dan aku akan menikmati satu hari yang menyenangkan itu bersama dengan si gadis kecilku yang telah ku anggap anakku sendiri.
            Aku duduk kembali di sofa,saat ponselku bordering. Ku batalkan langkahku untuk berjalan keluar dan duduk di sofa untuk mengangkat ponsel. “ Hai Dev…” sapaku datar. “Hallo sayang..apa kabar pagi ini??” tanyanya ramah. “Hmss..baik..everything Ok”jawabku singkat. “Ada apa?”aku bertanya menyelidik. “ Hmss…hari ini aku mau mengajakmu keluar..special date  gitu…” “Hari ini?” aku mengulangnya. “Iya sayang..hari inikan malam minggu kebetulan ada perpisahan kecil-kecilan untuk temanku yang akan pindah ke Eropa..jadi nanti akan ku jemput jam 6 sore…” ucap Devdan begitu bangganya. Aku terdiam..mulailah si Dilematik ini muncul lagi. Aku enggan menerima ajakan Devdan,terlebih aku sudah janji akan merayakan hari ulang tahun Queen,dan aku tak ingin mengecewakan gadis itu. “ Sorry Dev,aku tak bisa. Hari ini aku ada meeting dengan IDI..” kataku berbohong. “Ohhhhh…..” suaranya terdengar begitu kecewa. “Dev…maafkan aku…. “ ulangku. “Ok..no problem,kalau begitu akan ku jemput kau esok pagi untuk ke Gereja…” katanya penuh dengan kekecewaan. Setelah mengucap selamat tinggal,aku segera beranjak dari dudukku dan melangkahkan kakiku keluar. Setiap sabtu dan minggu,aku libur di RSU jadi aku akan memanfaatkannya untuk bersenang-senang dengan gadis kecilku. Siang ini begitu cerah dan terik,namun tak jadi masalah buatku. Sepertinya rasa rinduku ini telah meluap-luap dan tak menghiraukan segala keadaan yang ada. Dan entah kenapa,dadaku berdetak tak biasanya,aku akan menemui Queen beserta sang Ayah. Aku tak tau apa yang harus ku katakan nanti?Tiba-tiba saja aku gugup sendiri dan otakku mulai berfikir topic apa yang akan ku bicarakan?? Huuuufft..kenapa aku bisa segugup ini? Seperti seorang gadis ABG yang akan bertemu sang kekasih. Oh Tuhan,bantu aku. Bisikku sambil tersenyum-senyum sendiri.
            Malam minggu ini benar-benar special buatku. Aku bepergian bersama Queen dan sang Ayah tentunya. Kami seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Bahkan ada beberapa pasang mata yang terlihat iri dengan kebersamaan kami. Aku dan Marcel menggenggam tangan kecil Queen yang berada di tengah. Tapi, ada satuhal yang membuatku teriris perih dengan kata-kata Queen. “ Kenapa tante doktel ngak jadi bundanya Queen aja?kan kita bisa pelgi kayak gini tiap hali…” Aku hanya diam tanpa mampu menjawab. Sang ayahlah yang menjelaskan kepada si putri kecilnya bahwa apa yang kita ingikan kadang tak sejalan dengan kenyataan. Aku hanya menggigit bibir sambil memandang Marcel.
            “ Stooooppp  disini….” Bisikku pada Marcel saat sudah mendekati rumah kecilku. Marcel mengerem mendadak. “ Kenapa,Cherr??aku akan menurunkanmu sampai didepan rumah….” “Hmsss..tak usah,Cell..kasihan Queen” aku mengelak. Namun sesungguhnya aku tak ingin Marcel melihat mobil Devdan yang telah terparkir duluan,selain itu aku tak tau kenapa tiba-tiba Devdan datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Aku segera keluar dari mobil Marcel dan memindahkan Queen yang tertidur dalam pangkuanku menuju ke jok belakang. “Terimakasih Cherr…” bisik Marcel sebelum aku meninggalkannya. Aku tersenyum dan mulai berat saat melepas Marcel pergi.Tapi aku memaksa langkahku untuk beranjak, sebelum Devdan melihat Marcel.
            Aku berjalan pelan-pelan sambil mengendap-endap masuk kedalam,tapi ternyata Devdan menantiku diluar. Dia duduk di teras dengan wajah yang melas. Mulai timbul rasa bersalahku pada Devdan. “ Dev…” aku memanggilnya pelan. “Kenapa jalan???siapa yang mengantarmu??” Aku mulai dicecar oleh pertanyaan darinya. Aku diam sampai berada didekatnya,setelah itu duduk didekatnya. “Aku diantar-jemput sama Renata…” jawabku mulai berbohong. “ Ohhh……” suaranya. “Lalu kamu sendiri??kenapa datang tapi tak menungguku didalam??” “Bunda sudah tidur dan aku tak ingin mengganggunya maka itu Aku ingin menunggumu disini,semula aku ingin menjemputmu tapi lebih baik tidak….”katanya panjang lebar. Aku diam,tak menyahut apa-pun. Devdan mendekatiku,lalu memulukku erat sekali. “Cherr…aku tak tau apa yang terjadi padamu?? tapi aku merasa ada sedikit perubahan pada dirimu…aku takut Cherr..aku takut kehilanganmu…” bisiknya penuh kemelasan. Aku diam dan mengelus punggungnya. “Aku tak akan meninggalkanmu,Sayang…” bisikku sambil menenangkan hatinya yang mulai Galau. Memang akhir-akhir ini aku sempat agak menghindarinya,aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang agak kalut dan hatiku mulai berontak. Tapi sedikitpun aku tak berniat untuk meninggalkannya. Hanya butuh sedikit waktu saja.
            Entah apa yang dimaukan hatiku? Sejak pertemuan kembali bersama Marcel saat ulang tahun Queen,aku jauh lebih susah untuk melupakan Marcel. Dadaku makin meletup-letup menahan perasaan yang terpendam dan tak tersalurkan ini. Tapi aku tetap bersabar dan mencoba untuk memadamkan rasa cinta yang sesungguhnya kepada Marcel,bukan cinta karena balas budi. Semakin melupakan Marcel,semakin aku tersiksa bathin. Aku mulai memimpikan sosoknya,dan masih terkenang dengan sikap-sikapnya yang sabar dan kebapakan, membayangkan desahan nafasnya saat ia berfikir sesuatu. Semua tentang dia tak dapat kumusnahkan begitu saja. Aku bahkan menangis terisak dalam pelukan bunda karena sudah tak tahan lagi menahan rasa cintaku. Aku berharap bunda akan mendukungku memperoleh cinta sejatiku,namun yang kurapkan tak kesampaian. Bunda hanya diam saja,dan menenangkanku sesaat. “ Devdan adalah pria terbaik yang pernah ada. Tak ada yang lebih baik darinya..” hanya itu yang selalu diucapkannya yang membuatku semakin sakit. Aku pun memendam perasaanku dalam angan dan mimpiku. Aku seakan tersiksa dalam keadaan ini,aku ingin membaginya pada Marcel namun rasa gengsiku mengalahkan segalanya.
            “ Sayang… hari ini aku akan menjemputmu untuk melihat villa baru kita. Sudah 80% jadi,aku butuh tangan-tangan kreatifmu untuk memperindahnya…” ceroscos Devdan panjang lebar tanpa dapat ku bantah lagi. “Hmmmss… oke aku tunggu” jawabku singkat. Setelah menutup handphoneku,aku menghela nafas panjang. Rasanya enggan sekali bepergian dengan Devdan akhir-akhir ini dan sedikit menghindar darinya,namun kali ini aku tak dapat menolak lagi. Aku segera keluar kamar setelah merapikan pakaianku dan duduk di sofa menanti kedatangan Devdan. “ Mau pergi,Cher?” Tanya Bunda yang datang dari dapur. Aku menghela nafas kearah bunda dan mengangguk saja. “Sama Devdan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk lagi. Bunda mendekatiku dan duduk disampingku. “Kamu kenapa,Cher?akhir-akhir ini kamu aneh sekali. Aku tak banyak bicara,seakan-akan kamu marah sama bunda?memangnya bunda salah apa?”bunda mulai nyeroscos. Aku memandang bunda sejenak. Rasanya malas sekali berdebat dengan bunda. Aku hanya ingin diam dan memendam semuanya. “Apa ini karena Marcel?” bunda menebak-nebak terus. “Bunda cukup!!! Aku hanya ingin sendiri,aku ingin menenangkan semuanya. Kalaupun ini tentang Marcel toch bunda tak dapat membantuku..”  “Cher,bilang sama bunda..apa kurangnya Devdan?Apa yang tak bisa diberikan Devdan untukmu?” Tanya bunda yang terpancing emosi. Aku memandang bunda dengan kesal. “ Hanya satu bunda!! Aku tak mencintai Devdan. Taukah bunda,apa rasanya bila dekat dengan pria yang tak ku cintai?dan apa pula rasanya bila aku dekat dengan pria yang ku cintai?”  “Bukankah kamu mencintai Devdan dari dulu?”bunda mencoba membela devdan. “Aku mencintai Devdan karena aku berhutang budi padanya. Dan tidak lebih dari itu. Sedangkan dengan Marcel,aku menemukan cinta yang sebenarnya. Itu yang bunda tak pernah tau..”jawabku tegas kemudian meninggalkan bunda dan segera keluar. Aku terlalu kecewa dengan bunda,disaat aku butuh tempat untuk berlindung,untuk membantuku tapi ternyata bunda malah lebih memilih Devdan,bukannya menyuruhku untuk mencari cinta sejatiku. Dan pada akhirnya aku juga tetap bersama Devdan,aku juga harus berkorban perasaan dan menurut pada kehendak bunda. Jiwaku masih dalam pembemberontakan hanya menunggu saatnya untuk menyerah saja.
            Aku dan Devdan turun dari mobil dangan gaya bos besar yang ingin mengecek pekerjaan para karyawannya. Devdan menggandengku untuk masuk dan melihat-lihat. Bangunan villa ini cukup besar,luasnya 5 are dengan bangunan yang bertingkat satu yang menghabiskan luas 4 are dengan dihiasi kolam renang didalamnya terasa sejuk sekali bila sudah benar-benar jadi. Ada taman yang mengelilinginya terasa semakin -asri. Semula,aku semangat sekali merancang pembuatan villa ini,sebab nanti aku kan berada disini sepanjang waktu. Tapi sekarang malah terasa aneh,dan aku berfikir disinilah aku akan terjebak dalam kurungan villa ini tanpa dapat berkutik. “Sayang… bagaimana pendapatmu?”Tanya Devdan. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecil ke arahnya. “Sempurna,Dev..”komentarku. Devdan kembali menggandengku untuk melihat kedalam kamar-kamarnya. Meski aku enggan,namun aku tetap melakukannya. Hanya satu yang dapat ku ucapkan untuk diriku sendiri. Cherry yang malang dan menyedihkan.
            “ Pak Devdan…”panggil seseorang ketika aku dan Devdan sedang melihat-lihat kamar yang akan kami tempati nantinya. Begitu besar dan luas. Aku serasa mengenal suara itu,beberapa kali ia memanggilnya dan aku kian yakin memilik suara itu. Sampai akhirnya ia berdiri di depan pintu kamar. Aku melihatnya,begitu pula dengannya. Rasanya dadaku berdegup sangat kencang sekali. Melihatnya sekilas membuat rasa rinduku terobati. Aku tersenyum lebar ke arahnya begitu pula dengannya. “Selamat siang Pak Marcel..”sapa Devdan yang kemudian berjabat tangan dengan Marcel,kemudian denganku pula. Marcel melirik tangan kiriku yang tak terlepas dari tangan Devdan dan aku tak mampu berbuat banyak. Devdan dan Marcel sedikit berbincang,sedangkan aku yang berada disamping Devdan memperhatikan Marcel dan mengobati segala rasa yang bergemuruh didalam hati. Layaknya seorang anak ABG yang baru bertemu pacar pertamanya. Salah tingkah,malu-malu  dan tak tau harus berbuat apa. Dan sesekali Marcel-pun mencuri pandang untuk melihatku.  “ Pak Marcel, bisa minta waktu sebentar. Ada telpone penting…10 menit saja..”ucap Devdan disaat Marcel sedang membahas sesuatu. “ Dari siapa,Dev?” tanyaku ingin tau. “Klien,sayang.. ku tinggal sebentar ya..”pamitnya kemudian dia berlari keluar. Kini tinggalah aku dan Marcel berdua. Ada sedikit rasa canggung. “Hai…apa kabar?” aku membuka pembicaraan. “Baik..gimana sama villanya?” “Bagus..sempurna..tapi aku tak suka. Karena semakin cepat selesai,maka aku dan jiwaku akan terkurung disini untuk selamanya tanpa ada celah untuk pergi…dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Seperti boneka yang harus menuruti kemauan majikannya..”  “Ekstrim sekali..”komentar Marcel. Aku tersenyum kecut lalu memandangnya,seakan ingin menangis keras dan berontak. “ Oh ya,Cher…aku ingin memberi taumu…” “Tentang apa?” “Aku akan pindah ke Jakarta.Setelah villa ini selesai. Aku akan mengajak Queen untuk melupakanmu. Jujur aku tak sanggup dengan segala keadaan disini. Tentang kamu dan semuanya. Cukup aku membuangnya di kota ini,di pulau ini…” ucap Marcel dengan nada kekalahannya. Aku lemas mendengar pernyataan Marcel yang membuat seluruh badanku kelu. Terlalu sakit sekali rasanya, benar-benar mati rasa dan tak dapat tertolong lagi. Air mataku seakan sudah mendongkrak-dongkrak ingin keluar.namun tetap kutahan sekuat tenagaku. Marcel memandangku dengan sedu. Seakan ia tau apa yang kurasakan saat ini. “ Cher, aku pergi untuk melupakanmu dan membiarkanmu untuk hidup bahagia seperti sebelum ada aku dulu. Tapi aku tak yakin kalau aku bisa melupakanmu meski kita berada di tempat yang jauh. Biarlah,aku yang menanggung perasaanku ini..” kata Marcel lagi dengan panjang lebar.  Aku hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Rasanya bibir ini terkunci dan hasratku ingin memeluknya dan mengatakan untuk jangan pergi, tapi aku masih disadarkan oleh realita yang ada. “ Cher.. are you Ok??” tanyanya yang melihatku setengah sempoyongan. Aku menolak untuk di tolongnya, dan segera pergi untuk mencari Devdan untuk mengajaknya segera pulang. Aku tak kuat dengan keadaan ini, hatiku benar-benar hancur mendengar hal ini, seakaan-akan Marcel tak mau untuk mempertahankan perasaannya. Rasanya aku ingin sekali menangis dan berteriak bahwa aku tak ingin kehilangan dirinya.  “ Sayang, ada apa?” Tanya Devdan khawatir dengan berubahnya raut mukaku secara tiba-tiba. Aku menggeleng pelan. “Antarkan aku pulang…”ada apa?” Tanya Devdan khawatir dengan berubahnya raut mukaku secara tiba-tiba. Aku menggeleng pelan. “Antarkan aku pulmengantarku tanpa banyak kata yang ia utarakan. Sedangkan aku menahan bulir-bulir air mata ini agar tidak  terlihat oleh Devdan.
            Devdan mengantarku sampai di depan pintu rumahku. “See you tomorrow” kataku sebelum masuk. Devdan memegang tanganku, “Katakan sesuatu,apa yang terjadi,Sayang?” “Nggak…nggak ada, aku hanya kelelahan dan ingin istrahat…”jawabku mengelak dan segera masuk tanpa mempersilahkan ia untuk masuk.
            Aku merebahkan badanku diatas tempat tidurku dan menumpahkan segala rasa yang telah ku tahan sejak tadi. Aku benar-benar patah hati dengan keputusan Marcell. Baru saja aku ingin memperjuangkannya tapi ternyata dia sudah putus asa dan mengambil keputusan yang salah. Dan sekarang aku harus benar-benar bangun dari mimpiku dan melihat kenyataan bahwa Devdan-lah yang akan mendampingi aku tanpa ada orang lain lagi, tapi masih bisakah aku untuk berpura-pura lagi untuk mencintainya??

            “ Cher…ada yang mencarimu” kata bunda yang sudah berada di depan kamarku. Aku membuka mataku yang masih sembab sambil membuka sedikit selimutku “ Jika yang datang Devdan,katakan aku sedang tak enak badan” tolakku. “Bukan….” Jawab bunda tegas. Aku menoleh dan memandang bunda penuh pertanyaan. “Bunda harap, kamu bisa tegas dengan perasaanmu dan jangan pernah sekali-sekali untuk berpaling dari Devdan. Bunda tidak akan menyetujui hubungan kalian jika kamu meninggalkan Devdan” ancam Bunda dan segera meninggalkan kamarku. Aku terdiam dan masih menebak, bahwa yang datang itu adalah Marcell. Aku segera menghapus sisa-sisa air mataku, lalu meninggalkan kamarku untuk menemui si tamu.  Aku melihat Marcell yang duduk manis di ruang tamu tanpa segelas minuman pun. Bunda sangat keras menentang ku dangan Marcell, tapi makin di tentang, aku makin memperjuangkannya. Namun usahaku nggak ada artinya. Toch Marcell juga sudah menyerah.
            “Hai, Cell…” sapaku. “Hai Cher, Are you Ok??” dia mengulangi pertanyaan yang ia ajukan siang tadi. “ Iya…” Jawabku pelan sambil duduk di hadapannya. “ Kamu kenapa??” Tanya Marcell sambil mendekatiku. “ Ngak…Nggak apa-apa kok” jawabku dan mulai memalingkan wajahku dari pandanganya. “ Ada apa kamu kesini?” tanyaku menyelidik. “Hmzz…aku..aku hanya ingin menyakinkan saja,bahwa kamu baik-baik saja..” “Maksudmu??” aku memandangnya lekat-lekat. “Cher,aku tau semuanya…” bisiknya. “Apa??” aku menantapnya lebih lekat. Marcell diam saja sambil terus memandangi wajahku yang masih sembab. Dalam keadaaan seperti ini sebenarnya aku sangat degdegan. Berada begitu dekat dengan Marcell. Tak dapat ku lukiskan betapa bahagiannya aku berada di sampingnya saat ini. Dia memegang tanganku, “aku ingin mengajakmu untuk ikut denganku” katanya mantap yang membuatku terkejut. Antara percaya dan tidak. Aku memandangnya dan berbinar. Kini aku sudah memantapkan hati dan tak ingin lagi menyia-nyiakan ajakan Marcell. Aku tersenyum kecil dan tak kuasa untuk melepas tawa bahagiaku dihadapan Marcell.  “Kamu  mau???” Marcell ikutan berbinar. “Iya…aku tak akan menolakmu untuk yang kedua kali. Aku sudah putuskan dan saatnya aku memilih..” jawabku dengan senyum yang tetap merekah. Marcell menggengam tanganku lebih erat dan kami tertawa kecil, saling memandang dan malu-malu. “I love You, Cher…” katanya sambil mencium keningku. “I love you too, Cell” bisikku pelan.
            “Cherryyyyyy…………………….” Teriak bunda yang membuat aku dan Marcell terkejut. “Bunda…..aku bisa jelaskan semuanya….”aku mencoba menenangkan Bunda. “Cukup!!!!!! Masuk kekamar…dan Anda…silahkan pulang, sudah malam. Tidak pantas seorang pria bertamu malam-malam di rumah seorang gadis yang sudah bertunangan….”marah bunda. “Bunda…cukup!!!! Aku tidak akan bertunangan lagi dengan Devdan…aku sudah capek dengan menuruti semua perkataan Bunda dan Devdan, Aku tak pernah mencintai Devdan. Selama ini, aku hanya ingin membalas budi Devdan dan aku tidak merasakan cinta yang sesungguhnya dari dia. Jadi Bunda, biarkan aku yang memilih dan menentukan jalan hidupku “ aku membantah bundaku sendiri setelah sekian lama aku berdiam diri dan mengikuti segala kemauannya. “Cher..bunda kecewa padamu..sejak bertemu dengan duda beranak satu ini, kamu sudah berani melawan bunda..kamu lebih memilih duda ini dari pada bunda??”hardik bunda yang membuat aku kian terenyuh terlebih kata-kata bunda telah menyakiti Marcell dengan statusnya ‘duda’nya itu. Aku menatap Marcell yang hanya menghela nafas panjang,aku tau ia ingin menyampaikan sesuatu,tapi tertahan. Aku mendekatinya dan kami begandengan dengan eratnya. “Maaf bunda,kali ini aku akan mengikuti kata hatiku…”bisikku sambil menunduk.
            “Pak Marcell….!!!”panggil seseorang dari arah pintu yang membuat aku tertegun mendengarkan suaranya. Devdan datang dan sudah berdiri didepan pintu. Aku benar-benar terjepit dalam kondisi seperti ini. Marcell hanya tersenyum kecut melihat kedatangan Devdan. “Sepertinya ada yang harus kita bicarakan secara jantan,Pak Marcell..”ujar Devdan lagi dengan penuh ketegasan,terlebih ketika melihat tanganku bergandengan erat dengan Marcell. “Ya,saya piker seperti itu,Pak Devdan..”Marcell menyahuti dengan tenang. “Cher,masuk!!”perintah Devdan. Aku memandang Devdan yang diselimuti emosi, ia mendekatiku dan hendak menarikku. “Cukup,Dev. Aku ingin disini bersama Marcell..”tolakku keras. “Cher,masuk!!”kali ini Devdan berteriak,dengan mencengkram tanganku kuat,yang membuat aku meringis kesakitan. Marcell mencoba menahan emosi Devdan. Tapi Devdan makin kalap dan menghantam wajah Marcell hingga Marcell terjatuh dalam pangkuan sofa. “Cukup,Dev…!!!”aku berteriak dan membantu Marcell. “Kamu nggak berhak untuk memukulnya..dia ngak bersalah..aku..akulah yang bersalah..”aku mencoba membela  Marcell. “Diaaammm….!!!!!!” Devdan berteriak dengan emosi yang meluap-luap. “Aku ingin kita putus,Dev!!aku tak lagi mencintaimu…!!aku ingin pernikahan kita batal..”ucapku to the point diiringi isak tangis yang mendalam. Akhirnya uneg-unegku keluar juga,setelah sekian lama aku harus tersiksa memendam semua perasaan ini. Antara tak tega untuk meninggalkan Devdan dan harus memperjuangkan cintaku terhadap Marcell. Kedilemaanku pun keluar sudah. Meski aku juga tau apa resiko yang harus ku terima nantinya. Aku melirik Devdan yang memandangku penuh emosi,begitu pula bunda yang tak membelaku sedikitpun. Aku seakan-akan sedang berada diruang persidangan dan menantikan hakim yang akan memutuskan vonis. Devdan mencengkram kedua bahuku. “Aku tak akan segampang itu melepaskanmu,Cher. Terlebih dari duda anak satu ini…”ucapnya tegas. Aku meringis kesakitan,tapi tanganku tetap menggengam Marcell dengan erat. Devdan melirik Marcell sejenak,dan satu hantaman lagi dari Devdan untuk pipi Marcell. Kali ini aku menjerit kencang. “Dev,cukup…kamu menyakiti Marcell,artinya sama saja kamu menyakiti aku..dia ngak salah,Dev!!”aku menangis makin jadi dan segera memeluk Marcell,tapi Devdan menarik aku untuk menjauhi Marcell. “Kita selesaikan secara jantan,antara pria dengan pria..”tantang Devdan. Tapi Marcell tak melawan. “Pak Devdan..kita menyelesaikan masalah bukan dengan kekerasan,tapi dengan pembicaraan. Biarlah Cherry yang memilih, ingin bersama siapa dia nantinya. Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik…semua kita serahkan pada Cherry..tak ada gunanya kita saling beradu yang tak membuahkan hasil apa-apa”ucap Marcell bijaksana. Devdan terdiam,dan duduk didekat bunda. Aku menghela nafas panjang dianata isak tangisku. Suasana hening dalam ruangan ini. Yang ada hanyalah desak nafas yang saling beradu. Ada rasa iba yang menyelimutiku saat melihat Devdan dengan wajah pasrahnya itu, aku berdiri dan mendekatinya dan duduk dihadapannya. “Aku minta maaf,Dev…”bisikku sambil memegangi tangan Devdan. Devdan diam dan tak mempedulikanku. Aku memandangny dengan uraian air mata. Aku merasa bersalah sudah mengecewakannya. “Dev..aku…aku hanya tak ingin membuatmu bertambah sakit dengan semuanya ini…”ucapku dengan kerendahaan hati. Devdan memandangku sejenak, menghela nafas panjang lalu menarikku dan memelukku erat sekali. Kini aku dan dia sama-sama terisak tangis. Aku menangis karena lega dengan semuanya yang telah ku ungkapkan kepada Devdan. “Aku tak bisa hidup tanpamu,Cher..”bisiknya dambil meremas rambutku. “Pasti bisa,Dev..”hiburku. “Ngak..aku ngak bisa hidup tanpamu…”elakknya. Baru kali ini aku melihatnya menangis keras dihadapaku. “Buatku,kamu adalah segalanya,Cher..”tambahnya lagi. Aku hanya diam tanpa kata. Tak seberapa lama ia melepaskan pelukannya,berdiri dan berlutut dihadapan bunda. Bunda tak tega melihat Devdan,dan menangis sesenggukan. “Maafkan bunda,Nak”bisik bunda yang serba salah. Devdan tak menjawab,wajahnya lesu pandangannya kosong. Ia pun bangkin dan segera kelur,sebelum keluar ia memandang Marcell tajam. “Aku menyesal telah mengenalmu…” bisiknya lirih. Marcell tak menanggapinya,ia hanya mengangguk pelan. Aku mengantar Devdan hanya sampai depan pinta,aku melihatnya yang berjalan dengan langkah gontai,sampai ia masuk kedalam mobil dan tak terlihat lagi. Aku kembali duduk di dekat Marcell,tangannya menggengam tanganku erat sambil tersenyum. “We are the champions” bisiknya sambil memamerkan sederet gigi putihnya. Lalu ia memeluk aku dengan kebahagiaan yang tak terhingga. “Kamu ngak papa,Cell” aku mengecek wajahnya yang memar-memar. “Ngak..aku ngak apa-apa kok” katanya menenangkan aku. Marcell lalu melirik bunda,ia beranjak dari duduknya dan menghampiri bunda. Marcell berlutut di hadapan bunda “Saya minta maaf tante untuk semuanya..tapi saya janji saya tidak akan mengecewakan tante dan akan membahagian Cherry..itu janji saya..”ucap Marcell dengan ketulusan.
Bunda tersenyum dengan terpakasa. “Tante meneyrahkan semuanya sama Cherry,apapun yang kalian lakukan adalah yang terbaik buat kalian..”ucap bunda pelan. Bunda lalu memandangku sejenak dan segera beranjak dari duduknya,tanpa meminta persetujuan dari Marcell yang masih berlutut dihadapannya. Bunda perlu waktu untuk bisa memaafkan aku dan menerima Marcell. Tapi aku bahagia sudah berada dalam titik terang kebagiaan yang tak terhingga.

 TAMAT


Cerita ini hanyalah fiktif belaka bila ada kesamaan nama,gelar,peristiwa dan gambar itu hanyalah kebetulan belaka. Tanpa ada maksud untuk menyinggung pihak manapun


Writer by : Ochi Saraswati
Fb : Putu Ochi Saraswati
Twitter : @putudiah
email : ochichantik@gmail.com

Thank You for Reading :)





 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar