Iringan
lagu My Heart Will Go On dari suara merdu milik Celine Dion membuat siang yang
mendung di awal bulan Februari yang penuh cinta ini makin terasa memiliki suatu chamestry yang
kuat, terlebih dalam ruangan kantorku yang sepi.
Hari ini pekerjaanku tidak begitu
menumpuk yang membuatku iseng-iseng membersihkan kotak masuk dalam emailku yang
sudah mencapai 700 kotak masuk yang jarang ku baca karena 90%nya adalah pemberi
tahuan dari facebook. Meski memakan banyak waktu, tapi aku tetap tekun
membersihkannya satu-persatu.
Tiba di sebuah nama pada emailku yang
membuat aku terhenyak. Bukan dengan tiba-tiba pula, namun aku selalu
memikirkannya…ketika nama itu muncul…Radith Joshua.
31
Maret 2011. Radith Joshua mengirimi anda pesan ada Facebook anda tanpa subyek
!!!
Sayang, udah yaa!! Aku capek kayak gini terus. Udah kita damai saja.Kamu salah tafsir dan salah besar, jika kamu curiga antara aku dengan Ve. Dia udah mau di tunangkan dan hubunganku dengan dia sudah berakhir jauh sebelum kita bertemu dan aku sudah tidak mencintainya lagi. Dalam hidupku hanya ada kamu satu-satunya. Jadi mending kita baikan saja, nggak ada gunanya kita marahan seperti ini terus. Bapak sama Ibu disini nanyain kamu terus, kenapa kamu tidak pernah menelpon mereka dan aku sudah menjelaskan semua persoalan sama orang tuamu. Sekarang keputusan ada padamu,De. Tolong jangan egois lagi sayang. Aku mencitaimu dan akan selalu seperti ini.
Aku menangis terisak seorang diri
setelah membacanya. Kenangan waktu itu….yang kini telah pudar dimakan asa yang
tak mampu lagi ku raih. Bukan untuk kali ini saja, namun rasa rindu itu datang
setiap waktu dan setiap saat pula rasa itu ku tepis sendiri tanpa mampu ku
ungkapkan padanya. Sudah hampir dua tahun yang lalu samua itu berakhir. Tak ada
lagi kata-kata sayang, kangen atau bahkan cinta. Semua itu telah hilang dimakan waktu. Namun semua
itu adalah miliknya, dan bukan milik hatiku. Karena dalam lubuk hatiku semua
itu masih tetap utuh untuknya meskipun kini ada seseorang yang lebih nyata
disisiku dan berbagi tempat dihatiku. Dan tak ada seorang pun yang tau isi
hatiku. Termasuk dia!!!! Seorang Mantan yang masih ku cintai.
Untuk
sejenak, aku terdiam…pikiranku kosong dihadaan sebuah layar computer.Ku
hela nafas panjang,sambil merasakan dinginnya ruangan ber Ac dalam kantorku
yang masih sepi ini. Aku mulai bergerak dan memberanikan diri untuk membalas
emailnya. Dan permohonan maaf adalah yang kutulis di awal kalimat untuknya.
Pembicaraanku makin panjang sampai-sampai aku tak dapat mengontrolnya dengan di
iringi Lagu My Heart Will Go On yang mengulang sendu membuatku terisak begitu
dalam. Entah bagaimana aku harus mengatakan pada semua orang jika aku masih
mencintainya meskipun ia tak meresponku lagi atau malah terkesan memutuskan
hubungannya dengan ku.
Namanya Radith Joshua, pria asli Jogja
yang kini namanya hanya tinggal sebuah kenangan.Kami sudah pacaran hampir satu
setengah tahun, bahkan kami sudah membicarakan masalah pernikahan. Terlebih
keluarganya sudah dekat sekali dengan keluargaku. Namun kecemburuanku dan
keegoisanku menghancurkan segalanya. Gadis mana yang tidak cemburu bila
memergoki kekasihnya berhubungan lagi dengan mantan pacarnya. Dan akhirnya
permasalahanpun melebar kemana-mana, terlebih hubungan kami jarak jauh. Antara
Jogja dengan Denpasar. Kami hanya bisa bertemu setiap tiga bulan sekali dan
intensitas itu tidak cukup untuk kami, belum lagi bila kami sedang sensitive
dengan kegiatan dan aktifitas kami masing-masing dan hal itu semakin
memperkeruh suasana. Dan emosional antara aku dengan Radith Joshua pun tidak
dapat terkontrol, kami tidak bisa mengalah satu dengan yang lain, sehingga
jalan tengah pun kami ambil untuk berpisah. Meski saat itu kami sedang
sama-sama emosi sehingga tidak ada jalan lain. Namun setelah itu, aku baru
merasakan bagaimana artinya kehilangan. Benar-benar menyakitkan, dan sepertinya
Radith Joshua tidak mau memaafkan aku dan memblokir semua akses yang
berhubungan denganku,maka dari itu aku ingin meminta maaf untuk semuanya. Dan
aku ingin mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya dan sedikit maaf darinya.
Paling tidak aku bisa melampiaskan rasa rinduku ini.
Jujur sampai detik ini terkadang aku
masih tidak bisa merelakan dia pergi dan meninggalkan aku sendiri. Rasanya
semua itu terlalu cepat untuk ku. Sepertinya baru kemarin aku berada dalam
pelukannya namun kali ini ia berada jauh sekali,bahkan aku tak mampu lagi untuk
meraihnya. Cukup lama aku terhanyut dalam suasana kesedihan yang kurasakan
setahun yang lalu, malah terkesan lebih sakit …Terasa sangat sakit sekali….
Aku
terkejut ketika handphone ku berdering, ku lihat di layar LCD tertera
nama Marcell. Aku menghela nafas panjang
dan mencoba menyembunyikan tangisku. “ Haloo..” sapaku ramah. “ Halo
juga sayang, lagi sibuk ya?? Udah makan siang belum?” “ Nggak juga, belum
nech..ntaran kali ya..lagi males” “ Oww gitu, ya udah Kamu tungguin aku ya..Aku
mau mampir ke kantor kamu bawain makan siang…” “ Haaahhh??? Serius?? Ada apaan
nech? Kok tumben banget?” “ Iya sayang, serius!!!!! Ya ngak ada apa-aa kok.
Lagi pengen aja…lagian aku kangen nech pengen liat kamu…” “ Hmmmmsss…pasti ada
maunya nich…” godaku. Dia tertawa cekikian. “ Kebetulan hari ini aku lagi masak
nasi goring jawa, special buat calon istriku tercinta” katanya dengan diiringi
tawanya yang khas. Sedangkan aku hanya tersenyum kecil. “ Ok deh, aku tunggu di
kantor ya, Sayang..” kataku sebelum menutup telponku.
Lagi-lagi aku menghela nafas panjang
dan ingin sekali rasanya aku berteriak dan menangis lebih keras lagi. Satu
sisi..ketika aku sedang marindukan mantan kekasihku, dengan tiba-tiba masa
depan dan pendampingku datang. Mungkin saja karena kontak bathin yang ia
rasakan, dan ia tau bahwa yang ku pikirkan saat ini bukanlah dirinya namun
orang lain. Oh Tuhan..kenapa semua ini bisa terjadi padaku? Aku mencintai Radih
Joshua, tapi tidak dengannya. Cintaku bertepuk sebelah tangan, dan Marcel
datang dengan sejuta cnta yang tulus dan aku menerimanya yang semula untuk
melampiaskan cintaku yang begitu besar untuk Radith Joshua pada Marcell. Yach..ini terlalu jahat, tapi
apa yang dapat ku lakukan lagi? Meski lambat laun aku sudah mencoba untuk
mencintai Marcell, meskipun masih ada sisa cinta untuk Radith Joshua yang tak
dapat aku musnahkan.
Sungguh, aku bersyukur sekali pada
Tuhan yang sudah mempertemukan aku dengan Marcell. Dia Pria blasteran Portugis dan
Sunda yang cukup mapan, menarik, sederhana dan begitu sayang padaku, bahkan
cintanya itu terlalu besar untukku. Sampai-sampai aku takut untuk menerimanya.
Bisa ku bandingkan dengan Radith Joshua…Marcell jauh lebih baik. Belum pernah
aku memiliki kekasih yang sesempurna dirinya selama belasan tahun ini. Marcell
menerimaku apa adanaya aku. Baik
buruknya aku bahkan keegoisanku sekalipun. Dia seperti papaku yang tak banyak
bicara, meskipun dia bukan pria yang romantis tapi selalu ingin membuatku
tersenyum setiap saat. Begitu sayangnya ia padaku, bahkan untuk marah padaku
saja ia tidak tega, justru ia yang selalu luluh bila melihatku menangis. Jujur
ku akui, aku lebih bahagia bersama Marcell dari pada Radith Joshua yang selalu
menekan aku dan harus menuruti semua keinginannya yang belum tentu ku suka. Hal
itu yang membuatku perlahan-lahan mencintai Marcell, membuat aku peduli,
membuat aku sayang dan sedikit takut kehilangan dirinya. Aku butuh proses untuk
mencintinya dengan tulus.
“ Mbak Dea…” teriak seseorang dari
luar. Aku terkaget, kemudian melongok kea rah jendela. Kulihat seorang OB
berdiri di dekat pintu kantorku, setelah dekat ia berbisik. “ Yayangnya
datang……..” sambil ia menunjuk kea rah Marcell. Buru-buru aku menutup emailku
dan segera mencuci mukaku di wastavel, jangan samai Marcell melihatku dengan
keadaan seperti ini. Dan cepat-cepat aku keluar dengan memasang wajah seceria
mungkin. “ Haiii…” sapaku penuh senyum menyambutnya. Dan ia tersenyum lebar,
sambil masuk ke kantorku, kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak nasi dari
dalam tasnya. “ Makan siang special asli buatan Marcell….” Katanya bangga. “
Emang kamu udah pernah ngerasain nasi goring jawa, sampe buat prakarya kayak
gini” candaku. “ Udah dunk…kan pernah ngicip buatanya mertua di Singaraja
sana….” Tawanya garing. “ Inget dimakan ya…harus abiss…” Aku Cuma menggangguk
pelan meskoi sebenarnya saat ini aku sedang tidak berselera untuk memakan
apapun. “ Makasih yaa sayang….” Bisikku. “ Everything for you, honey” bisiknya
sambil mencium keningku. “ Yaa udah, sekarang kamu maka, aku berangkat kerja
dulu…udah siang nech…!!!” pamitnya. “ Hati-hati ya sayang” “ Ok buuukkk “
katanya sebelum meninggalkan ruanganku. Aku mengantarnya pergi sampai hilang
dari pandanganku. Begitu besar cintanya padaku sehingga aku merasa bersalah
sekali telah membagi cintaku untuk orang lain yang jelas-jelas sudah tak perdduli
lagi padaku. Lagi-lagi air mataku berlinang, rasanya sesak yang begitu dalam
menangkap aku dan tak mampu kulepaskan dan aku tidak tau harus bagaimana saat
ini?
Handphoneku bordering menandakan 1
pesan masuk dari emailku yang memberitahukan bahwa Radith Joshua mengirimi anda
sebuah pesan. Cepat-cepat aku duduk dan mulai untuk melihat pesan email dari
smartphone yang masih loading,rasanya tak sabar untuk melihat pesan apa yang
dikirim oleh Radith Joshua kepadaku. Aku tak mampu menahan haru dan tangisku
ketika aku melihat ternyata emailku yang tadi pagi dibalas oleh Radith Joshua,
dan akhirnya cepat-cepat aku menggabungkan diriku di jejaring social Facebook
dan kamipun segera chatting. Rasanya tak percaya dengan semua dan membuatku
terharu dan tak tahan air mataku mengalir perlahan. Akhirnya setelah menunggu
selama setahun, kini aku bisa mengungkapkan padanya betapa aku merindukannya
meski aku tak dapat berbicara secara fulgar dihadapanya, tapi itu semua cukup untukku. Hanya saja,
andaikan Radith Joshua tau, betapa aku masih sangat mencintainya dan masih
memiliki setitik cinta untuknya.
***
“ Selamat pagi Sayang…” sapa Marcell
dengan senyum penuh keceriaan.Tangannya yang lembut itu membelai kepalaku dan
mencium keningku bertubi-tubi. Perlahan tapi pasti, mataku terbuka dank u
dapati senyumnya yang manis itu mengembang dari bibir Marcell di iringi dengan
lesing pipinya yang membuatnya semakin terlihat tampan sekali. “ Ini udah jam
berapa?”tanyaku malas. “ Jam 7 pagi. Gimana nyenyak boboknya?” aku mengangguk
pelan dengan senyum kecil. “ Ayoo buruan bangun,Nona!!! Udah siang…hari ini
kita saran donat keju kesukaanmu…” katanya sambil memamerkan sebuah bungkusan
kehadapanku. Lagi-lagi aku tersenyum. “ Sekarang cepetan mandi…dan aku akan
menunggumu di ruang tamu…jangan sampai kita terlambat ke gereja jam 9 ntar,
yaaa….” Kata Marcell yang mulai menari-narik selimutku. Aku bangun dengan malas
untuk memenuhi permintaannya. Dia tersenyum dan melihatku lucu. Terkadang ada rasa bersalah jika
melihat Marcell yang begitu perhatiannya padaku dan sayangnya yang besar itu.
Buatku itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang harus ku jaga baik-baik.
Dia begitu tulus padaku,kenaa aku tidak memberikan hal yang sama padanya?
Bahkan di saat sekarang ini kami sudah berstatus sebagai tunangan yang telah
kami lakukan di awal tahun 2011 ini tepatnya di tanggal 21 January. Tapi meski
begitu sering kali bayang-bayang Radith Joshua muncul dan kerap kali mengganggu
pikiranku. Dan hanya satu pintaku pada Tuhan,sebelum aku menikah dengan Marcell
di akhir tahun 2011 ini adalah diijinkannya aku untuk bisa bertemu dengan
Radith Joshua, meski hanya 1 detik saja.Meski hanya untuk memandangnya dari
jauh aku rela dan itu sudah cukup untukku. Sebelum kesempatan untuk bertemu
dengannya benar-benar tertutup. Tapi, hingga saat ini, doa itu belum terkabul.
Aku duduk di ruang tamu tepat di sisi
Marcell setelah mandi. Sekotak donat dan 2 delas susu coklat hangat telah siap
di meja. Waktu masih menunjukan pukul 7.30 wita. Dan Marcell masih asyik
menikmati berita di tv. Di kontrakanku yang sudah hampir 4 tahun ini ku huni
sejak aku kuliah. Sedangkan orang tua dan keluargaku yang lainnya berada di kota Singaraja. Sedangkan Marcel
tinggal di sebuah kontrakan khusus yang sudah di sewakan oleh perusahaannya, dan
dia berada di Bali sudah hampir 3 tahun, sedangkan orang tua Marcel berada di
Kalimantan. Untuk memenuhi panggilan tugas sang Papa yang berprofesi sebagai
Kepala Cabang sebuah Bank Swasta yang kini sudah pensiun.
Semula,
setelah menikah nanti aku dan Marcell akan membeli kontrakan ini namun, Marcell
sudah mendapat tawaran kerja Di Melbourne Australia dengan fasilitas sebuah
apartement di januari tahun 2012 nanti. Oleh karena itu kami memutuskan untuk
menikah dahulu sebelum Marcell berangkat ke Melbourne, dan membatalkan untuk
membeli rumah yang sudah lama ku tempati ini. Setelah memakan sarapanku, aku
segera mengganti pakaianku dan bersiap untuk ke Gereja. Selain itu,hari minggu
sangat berarti sekali untukku dan Marcell, karena Marcell hanya memperoleh
libur di hari minggu saja, dan ia tidak akan menyia-nyiakan hari liburnya untuk
bersamaku kecuali memang ada pekerjaan yang tidak dapat di tinggalkan.
Tepat pukul 9 pagi, Ekaristi Kudus di
Katedral dimulai, dan semakin lama aku semakin terhanyut dalam doa, sampai tak
terasa butiran cristal mulai mencair dari mataku. Aku berdoa untuk ku dan
Marcell, untuk ke utuhan hubungan kami dan menjaga cinta kami agar tetap subur
dan satu hal yang selalu ku doakan yakni agar aku bisa mendapatkan kesempatan
untuk mendapatkan untuk bisa bertemu dengan Radith Joshua sebelum bulan
Desember datang. Satu kali saja Tuhan…hanya satu kali saja…sekali Tuhan….aku
terus berbisik berharap Tuhan mendengarkan bisikan hatiku ini. Tiba-tiba saja
Marcell menggenggam tanganku dan menciuminya. Bila melihat betapa besar
pengorbanan Marcell untukku, aku jadi tak tega. Tapi aku juga tak dapat
menghalang-halangi hasratku yang selalu saja melonjak-lonjak untuk ingin
bertemu dengannya. Seorang Mantan kekasih yang sulit untuk ku lupakan.
***
“ De…” panggil Marcell lembut ketika
kami sedang makan malam di kontrakkanku. “ Ehmmss…” Suaraku sambil mengunyah makanan. “ Valday
kan seminggu lagi nech…” “ Hmsss.. ia nie…kebetulan sekali, Yank di kantor lagi
ngadain acara nech, ada dinner
bersama, rencana semula sich bakal di adain di pantai Petti Tenget,, kamu bisa ikut
kan..? ” aku memotong perkataannya dan dia tersenyum kecil. “ Sebenarnya aku
ingin mengajakmu ke Jogja sekalian kan Lisa mau di wisuda, paling tidak kita
bisa datang mewakili orang tua…” ucap Marcell pelan-pelan. Aku memandangnya
dengan kaget. “ Ke Jogja???? ” aku mengulanginya. “ Kalau kamu tidak setuju,
aku tidak akan memaksamu sayang..mungkin aku akan pergi sehari saja untuk Lisa
dan akan segera pulang hari itu juga..” Marcell merendah. “Ngaaaaaaaaakkk……aku
senang sekali.. serius sayang…this is so supprice !!!” Aku berteriak girang dan
dan beranjak dari dudukku dan segera memeluknya dengan bahagia. Ohhh
Tuhan..akhirnya Kau jawab juga permohonanku. Setelah sekian lama aku menantikan
hal ini,, Terimakasih Tuhan..terimakasih sekali akan ku pergunakan waktu
sebaik-baiknya.
Surat Cuti sudah ku kantongi selama 3
hari, terhitung dari hari selasa sedangkan hari sabtu-minggu di kantorku memang
libur. Jadi aku mendapat banyak libur untuk perjalananku ke Jogja kali ini.
Aaaahhh rasanya sudah tak sabar sekali aku ingin cepat-cepat berangkat saja,
bahkan aku meminta Marcell untuk mempecepat ke berangkatan kami. Namun dengan
tenangnya Marcell mengatakan padaku “ Sabar sayang…Wisudanya Lisa masih 2 hari
lagi dan Valday masih 3 hari lagi..” jawabnya penuh kelemah lembutan.Sedangkan
aku disini sudah tidak sabar lagi utuk segera berangkat dan cepat-cepat bertemu
dengan sang mantan kekasihku itu. Meski aku tidak begitu memperlihatkan ke
gembiraanku yang meluap-luap akan ke berangkatanku ke Jogja, tapi Marcell tau
hal itu. Dan tanpa perasaan yang curiga ia pun tersenyum bahagia. Maafkan aku
Marcel!!!!!!
***
Penerbangan yang begitu lambat yang
kurasakan dari Denpasar menuju Jogja, yang seharusnya bisa di tempuh dengan 1
jam saja, kini malah 2 jam setengan akibat pesawat yang Dileyed. Dengan sabar
MArcell menenangkan aku tanpa dia tahu bahwa aku sudah tidak sabar lagi untuk
segera tiba di Jogja. Bila ku ingat-ingat lagi… 2 tahun yang lalu, aku
merayakan Valday di kota ini bersama Radith Joshua…Tapi kini,,di kota yang sama
di tanggal yang sama aku telah bersama Pria yang lain yang tentunya lebih
mencintai aku melebihi segala-galanya.
Tiba di bandara, saudara sepupu
Marcell sudah menjemput beserta adik bungsu Marcell, Lisa yang kuliah di sebuah
Perguruan tinggi Negri di Jogja dan selama ini tinggal di rumah Omnya Marcell
yang memang sudah sejak lama menetap di Jogja.
Sudah dua hari berlalu, dan aku tak
dapat pergi kemanapun karena acara yang sedikit padat terlebih menjadi
pendamping Lisa dalam wisudanya yang berlangsung sangat meriah dengan gelar
Sarjana Ekonomi yang di sandangnya. Dan untuk merilexkan diri, Lisa sengaja
pulang ke Kalimantan bertemu dengan Ke dua orang tuanya dan kakak sulung nya
yang nota bene kakak pertama Marcell. Aku duduk manis di samping MArcell yang
sedang konsentrasi menyetir. Setelah mengantarakan Lisa kebandara saat ini ia
sedang mengantarakan aku ke Biara untuk bertemu teman susterku yang tak lain
adalah teman dari tante ku. Dulu, ketika aku masih bersama Radith Joshua aku
selalu menginap di Biara. Sebab Suster Lia adalah kepala suster disini. Paling
tidak ini bisa sebagai batu
loncatanku untuk bisa bertemu dengan Radith Joshua meski hanya sejenak. Segala
cara akan ku lakukan. Karena Tuhan hanya memberikanku satu kali kesempatan, dan
kesempatan itu adalah saat ini saja.
Marcell mengantarku sampai aku bertemu dengan Suster Lia dan dengan
wanti-wanti Marcel menitipkanku pada Suster Lia, seakan-akan aku adalah anak
kecil yang harus dijaga setiap waktu. Suster Lia hanya tersenyum kecil, meski
agak sedikit kaget melihat kedatangan Marcell dan bukan Radith Joshua yang
memangselalu mengantar jemputku ke Biara. “ Sayang, nanti sore aku jemput yaa…
Ingat jangan kemana-mana. Aku tak mau kehilanganmu dan jangan membuatku cemas…“
bisik MArcell sambil menciumku sebelum dia pergi. Aku Cuma tersenyum kecil, sambil
terus berbisik Maafkan aku Marcell….Maafkan aku…. dan tetap berdiri sambil
melihatnya sampai mobilnya berbelok dan tak terlihat lagi. Aku segera lari
kedalam untuk mengambil tasku. “ Dea….mau kemana?????? “ Suster Lia menegurku
yang berlari-lari di hadapannya. “
Suster…..aku akan mengaku dosa setelah ini…dan aku akan menceritakan semuanya
padamu..aku janji..” Ucapku yang berlari terburu-buru, tanpa mengubris Suster
Lia dan cepat-cepat keluar dari Biara dan mencari sebuah Takxi.
Takxi ku berhenti di sebuah warung
makan Masakan Khas Jogja, Gudeg. Namun aku masih tetap duduk di takxi sambil
melihat warung itu penuh dengan air mata. Masih sama seperti dulu, aku sempat
duduk dan ikut membantu disana, itu warung makan milik Ibu Radith Joshua. Aku tidak akan bisa lupa masa-masa itu, namun
apa artinya itu untuk ku? Hanya menambah beban bagiku saja. Aku menghapus
sisa-sisa air mataku dan memberanikan diriku untuk turun dari takxi dan
menghampiri mereka meski tak terlihat RAdith Joshua. Dan Aku mulai mengatur nafasku,
agar aku tak terbawa emosi yang terus saja meletup-letup.
“ Selamat Siang…..” Sapaku ketika aku
sudah tiba di depan warung yang kebetulan sedang sepi pembaeli. Ibu dan Bapak
RAdith Joshua terpaku melihat kedatanganku dan terdiam untuk beberapa saat.
Begitu pula dengan aku yang ikutan terdiam kemudian menunduk. “ Mbak Dea
ya?????? “ tebak ibunya sambil mendekat. Aku tersenyum kecil. “ Ayo masuk…kok
di luar aja “ ucap Sang ibu memecahkan kesunyian sambil mengandeng lenganku.
Setelah itu baru Bapak ikutan mendekat dan duduk di samping Ibunya. Kini aku
duduk berhadapan dengan orang tua RAdith Joshua. “ Mau minum apa? Ibu buatkan
dulu ya…” Ibu menawariku ramah. “ Ngak usah repot,Bu..” tolakku halus. “ Loh yaa ndak boleh gitu, Lha wong Mbak Dea
datang dari jauh masak ngak di suguhin apa-apa? Lagian Ibu sama Bapak tidak
mertas direpotkan kok….” Ucap Ibu dengan logat Jawanya yang kental yang
membuatku makin merindukan masa-masa yang telah lalu, Bersama Radith Joshua dan
keluarganya yang telah musnah dimakan asa. Aku tersenyum kecil dan lagi-lagi
menunduk, aku tak mampu untuk memandang kedua orang tua Radith Joshua takut air
mataku berlinang lagi dan tak dapat ku kuasai lagi. “ Mbak Dea kapan datang ?
sama siapa ? kok lama sekali tidak memberi kabar.
Kami disini kangen sekali sama Mbak Dea….” Ucap Ibu dengan polosnya sambil
menyodorkan segelas es jeruk padaku. “ Saya sudah dua hari, Bu..Nginap di rumah
saudara..kebetulan ada sepupu yang sedang wisuda..dan mumpung masih ada waktu,
saya sempatkan untuk mampir ke sini…” ceritaku meski aku harus sedikit
berbohong. Mereka berdua tersenyum kecil. “ Mbak Dea sehat kan???” Tanya Bapak
yang tiba- tiba nyeletuk. Aku tersenyum kecil “ kenapa memangnya Pak ?” “ Mbak
Dea agak kurusan….” Jawab Bapak dengan tawa renyah. Aku ikutan trtawa kecil.
Kemudian terdiam beberapa saat. “ Mbak Dea sudah menikah ? “ Tiba-tiba Ibu
bertanya sambil memperjelas pandangannya pada cincin emas di tangan kiriku, meski sudah ku sembunyikan namun terlihat juga.
Aku terdiam, tanpa mampu untuk menjawab dan hanya menunduk saja. “ Yach
mungkin, jodohnya bukan sama Mas Radith, Mbak…ngak apa-apa tidak ada yang perlu
di sesali….” Ucap Ibunya bijaksana dengan nada yang pasrah. Aku tau, Ibu sayang
sama aku sudah seperti anaknya sendiri terlebih dia hanya memiliki 2 putra
yakni Radith Joshua dan adiknya Ben Joshua. Aku tetap menunduk
dan tak tahan rasanya air mata ini ingin segera meleleh, namun sekuat tenaga
aku menahannya hingga mukaku merah padam.
“Saya belum menikah kok, Bu,Pak..Kami
baru tunangan bulan Januari kemarin… Rencana menikahnya
akhir tahun ini…tapi tanggal tepatnya belum di tentukan kok bu..Bapak sama Ibu bisa
datangkan??” ucapku basa-basi. “ Yaaa.. Ibu dan Bapak ngak bisa janiji bisa
datang, Mbak. Asal ada waktu dan ada rejeki kami pasti datang…” ucap Ibu
pasrah. Aku Cuma tersenyum datar dan terasa hambar sekali. Namun tak beberapa saat kemudian, Bapak mencairakan
suasana dan membuatku sedikit tenang. Meski sesungguhnya aku tak kuat lagi
berada di tengah-tengah mereka yang membuatku semakin teringat akan masa-masa
yang telah ku lalui bersama mereka 2 tahun silam.
Aku melirik arlojiku dan
jarum jam telah menunjukan pukul 3 siang. Tak terasa aku sudah bersama mereka
hampir 2 jam, namun tetap saja pria yang ku harapkan datang tak muncul tak
datang-datang, yang membuat aku tidak sabar saja. “ Pak,BU...Radith Joshua
kemana ya? Biasanya kan menyempatkan untuk datang kesini.Kok sekarang tumben
nggak datang. Apa karena ada saya disini makanya dia tidak mau datang,
begitu..” ucapku basa-basi. “ Waduuuuh mbak Dea kok mikirnya gitu sich????? Ya
nggak to mbak, lha Mas Radith itu sekarang sibuk sekali, Mbak. Sejak pisah dari
mbak Dea, Mas Radith kerja siang malam lembur sana-sini sampai akhirnya mas
Radith sekarang sudah jadi Supervisior di jawa tv...” cerita Ibu menggebu-gebu.
Aku tersenyum kecil, apakah dia seperti itu hanya untuk melupakan aku? Dan
bahagia kah dia saat ini yang telah sukses melupakan aku? Bagus sekali Radith
Joshua....Bisikku penuh kekecewaan.Aku segera pamit kepada Bapak dan Ibu,
karena aku ingin segera menemui Radith Joshua dan tak ingin membuang-buang
banyak waktu lagi.
Dengan agak susah payah aku
mencari Kantor jawa Tv yang merupakan salah satu stasiun tv milik Jogja. Dengan
bantuan supir takxi yang ku tumpangi. Kini aku tak menggubris lagi harga diri
ku sebagai seorang wanita, sebab semakin dekat dengan Radith Joshua, dadaku
berdetak semakin kencang sekali dan tak dapat ku bendung. Aku masuk perlahan,
dan mengatur nafasku yang tak karu-karuan. Ku temui si receptionist dengan
anggun dan berwibawa. “ Pak Radith
Joshua?” tanya si receptionist menegaskan. Aku mengangguk pasti.Sesaat ia
melihatku dari atas ke bawah, kemudian ia menelpon seseorang dari pesawat
telpone paralel, dan aku dengan setia menunggunya. “ Maaf mbak, dengan mbak
siapa?” si receptionist menanyai aku lagi. “ Penting ya?” aku balik tanya. Aku
tak mau Radith Joshua tau kalau aku datang, ia pasti akan menolak bertemu
denganku. Si recptionist melihatku dengan jutek dan kembali berbicara melalui
telpone paralelnya.” Maaf Mbak, Pak Radith Joshuanya sedang sibuk dan tidak
bisa di ganngu..” jawab si receptionist setelah menutup telponenya. Aku melotot
ke arah si receptionist. “ Mbak, sekarang hubungi Bapak Radith yang terhormat
dan katakan padanya bahwa adiknya datang dari Jakarta...” perintahku dengan
setengah memaksa. Si receptionist menurut dan sesekali memandangku dengan
pandangan tidak suka, namun melakukan hal yang ku perintahkan. Hmss...sombong
sekali sekarang dia. Radith Joshua yang dulunya hanya seorang operator
penyiaran, kini sudah menjadi seorang Supervisior dan tak mau menerima tamu
yang tak jelas. Membuat aku makain penasaran,seperti apa dia saat ini? “ Mbak,
sebentar lagi Pak Radith datang, silahkan duduk dulu “katanya kepadaku. “
Tidak...Mbak, biar saya saja yang menemuinya..kalau boleh tau dimana ruangan
Radith Joshua?” tolakku. “ Tapi mbak, Pak Radith akan segera datang...” “ Nggak
perlu mbak, saya adiknya jadi saya ingin memberi suprise padanya..” kataku
semakin tak sabar dan membuat si receptionist itu makin jengkel kepadaku. “ Ok,
mbak bisa jalan ke dekat lift dan naik ke laintai tiga setelah itu belok kiri,
masuk ke lorong sampai mbak ketemu ruang siar dan di dekat situ ada satu
ruangan dan di depan pintu ada tulisan Radith Joshua...” kata si receptionist
itu menjelaskan panjang lebar. Aku mengangguk pelan tanda mengerti dan aku
segera berbalik untuk menuju ruangan
itu. Semakin dekat, dadaku semakin tak dapat ku kuasai, sampai-sampai aku
ngos-ngosan seperti pelari jarak jauh. Aku masuk lift dan mencoba untuk menenangkan
diriku sebaik mungkin. Sampai aku keluar lift pun seluruh badanku tiba-tiba
berkringat dingin. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya aku mendapatkan
kesempatan ini pula. Aku mengikuti semua saran si receptionist, sambil
melihat-lihat lingkungan di sekelilingku, aku mencari-cari ruangan si Radith
Joshua. Aku memasuki sebuar lorong yang tidak begitu panjang ada beberapa
tempat duduk layaknya di ruang tunggu, dan akhirnya aku menemukan ruang siar
yang ramai dan aku bisa tau bagaimana mereka menyiarkan acara-acara tv itu
sehingga bisa dilihat dengan baik. Kini aku melebarkan langgkahku, sebab
ruangan Radith Joshua sudah dekat. Dan kini dadaku semakin kencang saja
degupannya dan tak dapat ku bendung lagi. Aku melihat nama Radith Joshua di
depan pintu sebuah ruangan, yang membuat hati semakin girang dan rasanya kian
tak karu-karuan. Ku hela nafaspanjang sebelum aku memegang gagang pintu untuk
membukanya, namun...Kliiikkkk....pintu itu terbuka sebelum aku memegannya. Dan
kini pintu itu perlahan-lahan terbuka dan kulihat jelas wajah Radith Joshua.
Aku terdiam beberapa saat, begitu pula dengannya yang agak sedikit terkejut
melihatku berdiri di hadapannya.
“ Dith....” bisikku dengan
air mata yang tak tau dari mana datangnya mengalir membasahi pipiku. “ Dea...”
Radith Joshua terpaku, dan tiba-tiba saja tanganya terlentang untuk menangkap
pelukanku yang sudah menggebu-gebu.Dan seakan–akan dia pun merindukanku pula. Kini aku bisa merasakan kenyamanan pelukan
Radith Joshua yang hangat dan kini aku bisa puas menangis didadanya, tanpa
mampu mengontrol diriku dan terucap satu katapun dari mulut kita berdua. Yang
ada hanyalah hening dan isak tangisku. Bahkan aku pun melupakan statusku
sebagai seorang calon Nyonya Marcell Wijaya dan hanyalah seorang mantan dari
Radith Joshua. Aku lupa karena perasaanku lebih dari kesadaranku yang
sesungguhnya.
“ Dea....” Radith Joshua
berbisik padaku, aku memangdang wajahnya dan seketika aku tersadar dengan
status kami. Aku segera melepas pelukannya dan menghapus air mataku. Setelah sadar
semua ini, aku baru merasa canggung di depannya. “ De...” dia berbisik, aku
tersenyum kaku. “ Apa kabar?” tanyanya canggung. “ Baik...” aku pun tetap
tersenyum canggung dan tetap memandang wajahnya yang sangat aku rindukan itu. “
Kok..kamu bisa disini?” ia mencoba untuk berbicara dan mengalihkan pandanganya
dari mataku yang membuatnya semakin canggung. “ Pengen ketemu kamu...” jawabku
masih tetap tersenyum. Dia mengembangkan senyumannya lebih lebar lagi. “ Ayo
masuk...kita bicara di dalam saja..” ajaknya, kemudian menutup pintu ruanganya.
Kini aku hanya berdua saja
didalam ruangan dingin ber-ac namun hal itu tidak membuat tenang,segala
rasa berkecambuk dalam hatiku. “ De....”
panggil Radith Joshua yang kini ada begitu dekat denganku. Ya...kami duduk di sofa
dengan posisi berdekatan. Aku yang dari tadi menunduk,kini berusaha untuk
memandangnya, kemudian tersenyum. Sedikit demi sedikit rasa kaku dan canggung
yang membentang diantara kami mulai memudar. “ Yaaa....” aku menjawab
panggilannya. “Kapan kamu kesini,De?” Radith Joshua memulai pembicaraannya.
“Sudah dua hari…” jawabku masih terbata-bata. “ Nginep dibiara??” tebaknya.
“Nggak…aku kebiara baru tadi pagi,tapi aku kabur dan tak sempat pamit pada
Suster.Aku ingin ketemu kamu..aku mencarimu ke rumah tapi Ibu dan Bapak bilang
kamu kerja…jadi ku putuskan untuk mencarimu kesini…” ceritaku panjang lebar
dengan masih menunduk dan mencoba menenangkan hatiku yang tak karuan ini. Dan
untuk sejenak kami terdiam dan larut dalam perasaan masing-masing. “Sudah hampir dua tahun ya nggak ketemu...kamu makin cantik aja...” dia memujiku. Aku
tersenyum malu-malu mendengar pujiannya. “ Kamu juga semakin hebat, aku bangga
melihatmu seperti ini..” “Ahhh...ini bukan apa-apa...tanpa bantuan doa dari
keluarga dan supportmu, De...”
“Ohhhh...” Aku berbisik. “ Lalu apa lagi yang kamu tunggu? Kedudukan sudah, uang juga sudah..kapan kamu mau undang aku untuk...” “ Aku
belum memikirkannya...” Radith Joshua memotong pembicaraanku. Aku terdiam,
Radith Joshua kemudian melirik jemariku. Aku yang merasa diperhatikan segera
melipat. “ Ahhhh…hmmmss..ini…” aku menjadi salah tingkah saat Radith
Joshua memperhatikan cincin tunanganku. Radith Joshua menghela nafas panjang
dan tersenyum kecil. “Kapan hari bahagia itu akan datang?” tanyanya pelan. Aku
diam,kemudian memandangnya lalu tersenyum. “Awal January 2012 nanti… mungkin
ini adalah pertemuan kita yang terakhir…” “Ohh..yaa..yaa..aku tau dan sadar
betul ko,De. Atau….calon suamimu seorang pria yang…” Radith Joshua mencoba
menebak-nebak. “Bu…buk..bukan…Marcell seorang pria yang baik.Sama baiknya
denganmu,bahkan dia terlalu baik dan sangat mencintaiku…”kataku membela dari
tuduhan Radith Joshua. “Hanya saja, setelah menikah nanti kami akan pergi ke
Melborne.Marcell mendapat tawaran kerja disana dan entah kapan kami akan
kembali…”jawabku sedih. Dan aku tak tau datang dari mana air mata ini. Radith
Joshua menggeser duduknya yang semakin dekat denganku,lalu ia memelukku dengan
pasrah akupun membalas pelukannya dan menangis didadanya dengan sesenggukan.
Tenang sekali rasanya bisa memeluknya kembali,merasakan detak jantungnya dan
mencium aroma parfumnya.Seakan rasa rindu yang tertumpuk di dalam dadaku,kini
terobati sudah. Aku menikmati semuanya,sebelum hilang untuk selamanya. Radith
Joshua mengelus kepalaku lembut dan aku makin menikmatinya, selama itu pula
kami hanyut dalam pikiran kami masing-masing. Tak lama kemudian,secara perlahan
Radith Joshua melepas pelukannya.Ia memandangku dan menghapus sisa-sisa air
mataku lalu tersenyum kecil. “ All be fine,De. Meski kita nggak bersama
lagi,tapi kamu tetap dihatiku untuk selamanya…” bisiknya meyakinkan aku. Aku
mengangguk pelan dengan pasrah dan senyum yang terkesan dipaksakan,meski aku
paham bahwa Ia hanya ingin menghiburku saja. “Oke,De. Ini sudah sore,aku akan
mengantarmu kembali kebiara…” ucapnya sambil beranjak dari duduknya dan segera
bersiap-siap. Aku tak menjawab tapi memandang dengan perasaan kecewa. Jika
boleh,aku ingin lebih lama lagi disini.Hanya untuk mengobati rasa rindu yang
telah menyiksaku selama hampir dua tahun ini. Radith Joshua telah rapi dengan
jacket kulitnya dan sebuah tas yang telah ia gendong. “ De…” dia memanggilku.
Aku menoleh tanpa menjawabnya. “ Ayo De,sebelum malam..” Radith Joshua
memperingati aku. Dengan terpaksa aku beranjak dari duduk dan mendekatinya. Aku
tahu,Radith Joshua melihat kekecewaan di wajahku tapi ia tetap diam seolah tak
perduli. Entah apa yang ada dipikirannya,atau dia tak senang dengan
keberadaanku. Radith Joshua menarikku saat aku sudah berada di dekatnya dan
kami meninggalkan ruangannya dengan tetap memegangi tanganku begitu erat.
Hampir semua mata memandang saat aku dan Radith Joshua keluar dengan
bergandengan erat. Radith Joshua hanya tersenyum merespon tatapan mereka.
Radith Joshua mengantarku dengan motor besarnya. Hal inilah yang paling
menyenangkan dari dulu. Saat menjadi penumpang motornya dengan posisi yang
tempat duduk yang lebih tinggi dari pengemudi,aku bisa menjatuhkan tuubuhku
dengan mesrah di punggungnya yang posisinya lebih rendah dariku. Aku bisa memeluknya
erat dan mendengarkan detak jantungnya dari belakang.Paling tidak aku bisa
mengenang masa lalu kami. Jalanan Jogja yang tidak begitu macet dengan iringan
rintik hujan yang menemani makin mempercepat laju motor Radith Joshua agar
cepat sampai di Biara. Tapi aku berharap lain. Aku tak ingin masa-masa ini
cepat berlalu,aku rela kehujanan demi saat-saat ini, bahkan ku katakana
sejujurnya pada Radith Joshua untuk memperlambat laju kendaraannya. Akan tetapi
Radith Joshua tak mengubrisku. Hujan makin deras dan kini laju motornya kian
cepat menerobos derasnya hujan. Sesekali tangannya memegangi tanganku yang
melingkar erat di pinggangnya. Aku tersenyum bahagia dan penuh kelegaan.
“Cepet masuk!! Dan ganti pakaianmu
ya,De. Suster pasti nyariin kamu… kan kamu nggak bilang sama Suster…”
perintahnya saat kami telah berada di depan biara. Aku Cuma diam,seperti anak
kecil yang berbuat salah dan dimarahi oleh sang ayah. “Aku pasti
merindukanmu,De” katanya yang makin membuatku berat untuk melangkah masuk,tapi
tetap ku paksakan. Waktu yang diberikan Tuhan untukku bertemu Radith Joshua
sudah habis,dan aku harus kembali ke kehiudupan nyataku. “ De…Dea…” Radith
Joshua memanggilku. Aku menoleh setelah beberapa langkah menjauh darinya.
Radith Joshua mendekatiku dan memelukku erat. Aku tercengang dan membalas
pelukan hangatnya. “Selamat menempuh hidup baru ya,Sayang..Maafkan aku yang
telah mencampakanmu.. kamu pantas mendapatkan Dia,karena dialah yang terbaik
untukmu…” bisiknya diantara lebatnya hujan yang mengguyur badan kami. Rasa
dinggin itu hilang tergantikan rasa hangat pelukanya. Aku terharu dan menangis
dalam pelukannya, tapi air mataku tersamarkan oleh hujan. Dan Radith Joshua tak
mengetahuinya. Radith Joshua melepaskan pelukanya dan mencium keningku “Happy
Valentine,De” katanya lagi sambil tersenyum kecil,setelah itu Ia pergi sampai
aku tak melihatnya lagi.
Aku masuk kedalam biara dengan
mengendap-endap dengan keadaan yang basah kuyup. Tapi melihat ruang tamu Biara
terlihat ramai,aku mulai berjalan agak cepat. Dan kini aku bisa melihat
kepanikan yang ku timbulkan di Biara yang telah merepotkan banyak orang tak
terkecuali Marcell yang datang bersama sepupunya. Dia begitu panik yang
melibatkan suster Lia dan beberapa suster lainnya. “Sayang..Dea…apa yang
terjadi padamu???” Marcell segera menghampiriku dan memelukku erat yang baru
datang dengan basah. “Kamu dari mana saja??Kami menghawatirkanmu sayang…”
pertanyaan bertubi-tubi tak mampu ku jawab. Aku hanya diam dalam pelukan
Marcell yang begitu erat. Terlihat betapa kawatirnya dia padaku,kini aku yang
merasa berdosa telah membohonginya. Padahal Marcell sangat mencintaiku dan ia
sangat protective sehingga tak ingin sesuatu terjadi padaku. “ Maafkan
aku,Cell…” bisikku. “Iya sayang..jelaskan padaku,kamu dari mana??”lagi-lagi
Marcell menanyaiku dan pertanyaan yang tak dapat ku jawab dan aku hanya mampu
berkata “Maaf” tak lebih dari itu,dan tak mungkin ku ceritakan apa yang
sebenarnya ku alami hari ini.”Tolong jangan ulangi lagi,aku sangat takut
kehilanganmu..” ujarnya lagi yang makin membuatku bersalah. Aku mengangguk
pelan dengan penuh kepastrian dan janji dalam diriku,bahwa aku akan lebih tulus
mencintai Marcell dan ku birikan seluruh ruang dihatiku hanya untuknya,tanpa
ada sisa-sisa cinta untuk Radith Joshua,karena dia hanyalah seorang Mantan
yang tak berharga lagi buatku,meski
hanya untuk dikenang sekalipun.Disini ku kubur dalam-dalam kenangan-demi
kenangan yang pernah kami alami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar