Aku mengembangkan senyum lebar ke arah seseorang dihadapanku. “Lagi sibuk,Non?” tanyanya. Aku menggeleng pelan. Dia mendekatiku dan duduk disampingku. “Lagi ngapain sich??” tanyanya lagi sambil melirik apa yang sedang ku kerjakan. Aku tersenyum kecil sambil memperlihatkan laptopku dihadapannya. “Lagi buat halaman baru di sosial media untuk ngundang temen-temen yang jauh-jauh paling nggak mereka tau,mau datang atau tidak yang penting ada pemberitahuan” jawabku yang sedang mengundang teman-temanu di jejaring sosial tentang rencana pernikahanku yang akan berlangsung sepuluh hari lagi. “Ohhh…ya udah sekalian dech semua temen-temenku di undang biar rame halaman pernikahan kita” katanya pelan. Aku mengangguk. Dia mengacak rambutku,mencium keningku dan pergi keluar dari kamarku.
“Ngapain kamu disini..” aku sedikit membentak ke arahnya. “Aku datang untuk pacarku..dan itu adalah kamu,sayang..” jawabnya dengan senyum sinis kearah Marcell. “Fan kamu pergi aja dech, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi..semua sudah berakhir dan kita sudah putus..kamu nggak berhak lagi atas aku..lagian aku juga udah dapat penggantimu…”jawabku sambil memengang tangan Marcell. “Kamu masih jadi pacarku,aku nggak pernah setuju kamu mutusin aku… sudahlah,sayang..ayo kita pulang ke rumah mama dan aku akan segera melamarmu. Jadi kita nggak usah lagi berjauh-jauhan dan semuanya akan berjalan sesuai rencana kita…” ucap Irfan dengan gampangnya seolah-olah begitu ringan dan tanpa beban. “Sinting kamu…pergi kamu,Fan!!!Atau aku teriakin kamu maling!” ancamku. “Aku kesini untuk kamu, kita perlu bicara dan semuanya akan baik-baik saja” katanya lagi sambil mengambil tanganku. “Aku nggak mau!! Semua udah berakhir dan aku nggak mau tersakiti lagi atas sikapmu!!Aku sudah bahagia dengan Marcell..”bentakku. Namun genggamanya makin kuat. “Bung..jangan kasar sama perempuan..!” Marcell memperingati Irfan. “Ehh..kamu diem aja,nggak usah ikut campur..ini urusanku dan Angel dan kamu hak berhak melarang-larang aku ngerti..” bentak Irfan. Marcell diam, lalu menarik tangan ku dan mengajakku pergi agar tak terjadi keributan. Tapi Irfan tak membiarkanku pergi,ia pun menarikku lebih kuat lagi dalam cengkramannya. “Lepaskan..Bung..”pinta Marcell dengan suara agak tinggi. “Kalau tidak ku lakukan,mau apa kamu???”tantang Irfan yang sudah mulai emosi. Sedangkan aku meringis kesakitan ditarik-tarik oleh Irfan dan Marcell. “Lepas,Fan…atau aku teriak..”tantangku. “Teriak aja…aku nggak peduli…” tantangnya yang membuat makin geram. “Kita pergi dari sini aja,Non” bisik Marcell dan menarikku lebih kuat. Entah apa yang dipikirkan Irfan, saat aku dan Marcell berbalik, tiba-tiba Irfan memukul kepala Marcel dan beberapa kali meninju wajahnya. Aku terbelalak. Saat Marcell melawan,Irfan sudah membawa sebuah pisau dapur dan menghunusnya tepat di perutnya. Aku terperangah melihat Marcell yang terjatuh dan bercucuran darah. Dengan cepat aku memeluk Marcell dan berteriak minta tolong pada tetangga di sekitar kost yang sudah pada tidur. Aku histeris melihat Marcell yang merintih kesakitan,sedangkan Irfan lari meninggalkanku yang panik.
Aku ketakutan dan benar-benar ketakutan sekali melihat Marcell yang makin lemah. Akhirnya dengan bantuan seorang warga,aku membawa Marcell yang tidak sadarkan diri ke rumah sakit swasta di jalan Teuku Umar. Aku tak henti-hentinya menangis melihat Marcell terbaring tak sadarkan diri, aku takut dia kehabisan darah,aku takut terjadi sesuatu pada Marcell dan masih banyak hal yang aku takutkan. Dua Hari dia tak sadarkan diri,dia kehilangan banyak darah. Aku harus bolos dari kerja demi pontang-panting ke PMI karena darah terbatas di rumah sakit itu. Beruntung aku memiliki golongan darah yang sama,sehingga aku bisa mendonorkan darahku untuknya. Dan kini darahku pun mengalir di tubuhnya,karena darah yang tersedia minim. Aku bersyukur, dihari ketiga dia sudah siuman,meski belum sembuh benar. Tinggal proses pemulihan karena sudah melewati masa kritis. Disisi lain, Irfan di tangkap dengan tuduhan penganiayaan yang di laporkan oleh tetanggaku. Bahkan pelaporan itu baru aku dengar setelah adik Irfan yang menelpon ku. Sampai orang tuanya pun memintaku untuk mencabut tuntutanku. Aku iba padanya, walau bagaimanapun ia pernah menjadi orang terbaik dalam hidupku. Tapi ku masih trauma karena ia biasa melakukan apapun yang ia inginkan. Saat itu aku benar-benar dilemma,aku tak sampai hati menjebloskannya kedalam penjara,namun aku takut jika Irfan akan menterorku lagi,terlebih Marcell taka da disini dan tak bisa menjagaku dua puluh empat jam sehari. Masih ada rasa sakit hati atas sikapnya yang terdahulu dan kini ia kembali menyakiti Marcell yang membuatku kian membencinya. Dengan tumpukan kekesalan yang menganjal itu, aku tidak mencabut tuntutanku dan akhirnya terus bergulir sampai putusan pengadian. Selama dua minggu Marcell berada di rumah sakit,sampai luka tusukannya membaik. Sampai akhirnya ia diijinkan pulang dan langsung ku antarkan kerumah orang tuanya di Surabaya. Jujur, aku malu menghadapi keluarganya yang seakan-akan menyalahkan aku. Karena Irfan adalah mantan pacarku. Tapi aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi, ini diluar dugaanku. Disisi lain, sidang Irfan terus bergulir dan Marcell harus bolak-balik Surabaya-Denpasar untuk menghadiri sidang untuk dimintai keterangannya sebagai korban dan aku sebagai saksi kunci atas semua ini. Sampai akhirnya Irfan dijatuhi hukuman dua tahun penjara, hukuman ini lebih ringan dari pada yang di tuntutkan oleh Jaksa Penuntut Umum yang menuntut Irfan lima tahun penjara sesuai yang tertera di KUHP Pasal 351 tentang Penganiayaan. Aku cukup senang karena ternyata hukumannya lebih ringan. Saat aku keluar ruang sidang bersama Marcell, Ibu Irfan memandangku sinis dan ada sedikit rasa benci yang terlihat dari raut wajah dan sikapnya saat bertemu denganku di pengadilan. Tapi aku tetap tersenyum dengan ramah. Itu terakhir kalinya aku melihat Irfan. Sejak kejadian itu,aku tak pernah tau lagi kabar tentangnya. Aku mulai serius dengan Marcell,karena di umurku yang sekarang bukan lagi saatnya aku main-main dengan pacaran atau apa,tapi aku juga fokus untuk masa depanku. Aku menata hidupku dengan Marcell yang benar-benar mengayomi aku dan menemukan kepercayaanku lagi setelah rasa traumatikku pada Irfan. Hingga akhirnya, berkat bantuan Marcell aku lulus test pegawai negri sipil di Surabaya yang sangat ketat di department Hukum dan Ham. Sungguh anugrah yang luar biasa yang di berikan Tuhan untukku. Akupun menetap di Surabaya sejak SK penempatanku turun tiga bulan yang lalu.
Beberapa hari ini aku disibukan
dengan beberapa kegiatan menjelang hari pernikahan ku. Kami akan menggelar
pernikahan di sebuah gedung balai prajurit Kartika yang berlokasi di Jalan
Brawijaya yang kami sewa dan kami akan mengucap janji suci di gereja Katedral
Hati Kudus Yesus Surabaya. Semua terorganisir dengan baik dan hampir delapan
puluh lima persen selesai. Seminggu sebelum berlangsungnya acara,aku dan
Marcell harus menjalani pernikahan secara adat Bali terlebih dahulu. Sesuai
dengan kemauan papaku yang merupakan orang Singaraja asli dan memeluk agama
Hindu. Memang sedikit ribet, tapi disinilah keunikan yang terjadi.
“Non, ayo…” Ucap Marcell sambil menggandengku saat terdengar dari pengeras suara penumpang pesawat dari Surabaya menuju Denpasar diharapkan untuk segera naik kedalam pesawat. Aku yang sedari tadi masih asyik dengan buku bacaanku,dengan cepat-cepat menutupnya. Aku mengikuti Marcell dari belakang yang masih menggandeng tanganku hingga kami duduk bersebelahan dalam perut pesawat. Setelah duduk dengan tenang,aku kembali melakukan aktivitas membacaku. Marcell melirik ku yang sedari tadi diam saja,ia memelukku dan aku bersandar di bahunya. “Buku pra dan pasca perkawinan” celotehnya sambil melirik buku yang ku pengang. Aku tersenyum kecil. “semua akan berjalan lancar kok,Non…” jawabnya penuh ketenangan. Aku hanya mengganguk pelan dengan melempar senyum kehadapannya. Menjelang pernikahanku,aku agak sedikit gugup. Kadang ada satu pertanyaan yang beberapa hari ini mengusikku. Siapkah aku dengan semua ini. Hms..hal ini sedikit membuat aku gugup dan agak stress. Sempat beberapa kali bayang-bayang irfan tiba-tiba datang memenuhi kepalaku. Entah kenapa ada rasa rindu ingin bertemu dengannya. Jujur aku tak bisa membencinya meski seperti apapun sikapnya. Seiring waktu yang bergulir,diam-diam aku memaafkan semua sikap yang pernah ia perbuat padaku. Didetik-detik menjelang pernikahanku,aku justru memikirkannya. Bahkan setibanya di Denpasar nanti,aku ingin sekali menyempatkan diri untuk bertemu dengannya,melepas sedikit rasa rindu untuknya sebelum aku menjadi istri Marcell. Akhirnya, aku tak jadi melanjutkan membaca tapi bersender di bahu Marcell dengan senyaman mungkin dan menutup mataku selama penerbangan.
“Non, ayo…” Ucap Marcell sambil menggandengku saat terdengar dari pengeras suara penumpang pesawat dari Surabaya menuju Denpasar diharapkan untuk segera naik kedalam pesawat. Aku yang sedari tadi masih asyik dengan buku bacaanku,dengan cepat-cepat menutupnya. Aku mengikuti Marcell dari belakang yang masih menggandeng tanganku hingga kami duduk bersebelahan dalam perut pesawat. Setelah duduk dengan tenang,aku kembali melakukan aktivitas membacaku. Marcell melirik ku yang sedari tadi diam saja,ia memelukku dan aku bersandar di bahunya. “Buku pra dan pasca perkawinan” celotehnya sambil melirik buku yang ku pengang. Aku tersenyum kecil. “semua akan berjalan lancar kok,Non…” jawabnya penuh ketenangan. Aku hanya mengganguk pelan dengan melempar senyum kehadapannya. Menjelang pernikahanku,aku agak sedikit gugup. Kadang ada satu pertanyaan yang beberapa hari ini mengusikku. Siapkah aku dengan semua ini. Hms..hal ini sedikit membuat aku gugup dan agak stress. Sempat beberapa kali bayang-bayang irfan tiba-tiba datang memenuhi kepalaku. Entah kenapa ada rasa rindu ingin bertemu dengannya. Jujur aku tak bisa membencinya meski seperti apapun sikapnya. Seiring waktu yang bergulir,diam-diam aku memaafkan semua sikap yang pernah ia perbuat padaku. Didetik-detik menjelang pernikahanku,aku justru memikirkannya. Bahkan setibanya di Denpasar nanti,aku ingin sekali menyempatkan diri untuk bertemu dengannya,melepas sedikit rasa rindu untuknya sebelum aku menjadi istri Marcell. Akhirnya, aku tak jadi melanjutkan membaca tapi bersender di bahu Marcell dengan senyaman mungkin dan menutup mataku selama penerbangan.
Marcell membangunkan aku ketika
pesawat telah landing dan penumpang yang tersisa hanya kami berdua saja. Aku
membuka mataku perlahan. “Welcome to Denpasar,Non” ucapnya riang. Aku segera
bangun dan melihat sekelilingku yang sudah sepi. Marcell membantuku berdiri karena masih
lemas. Dia mengandengku dan membawakan tas tanganku. Aku keluar dari dalam
pesawat,menuruni tangga dan mengirup udara segar kota Denpasar yang
basah,sepertinya baru saja hujan reda. Awan juga masih tampak gelap,landasanpun
becek oleh genangan air. Marcell menggandengku dan menarikku agak cepat karena
shuttel bus sudah menunggu kami untuk mengantarkan kami ke terminal kedatangan.
Bandar Udara International Ngurah Rai kini sudah berkembang dengan pesatnya.
Semakin luas dan tak kalah bagus dengan Bandar udara Interntional lainya. Aku
hanya melihat Marcell yang sedang sibuk mengambil dua koper milik
kami,sedangkan aku masih berfikir bagaimana caranya supaya aku bisa pergi
sebentar untuk bertemu dengan Irfan. Dengan kerepotan dua koper di masing-masing
tangannya,Marcell masih sempat untuk menggandengku,sedangkan diluar sana ada
adikku yang menjemput kami.
“Kaaakk
Marcell…”teriak seorang pria yang suaranya sangat khas sekali. Marcell menoleh
dan mencari-cari asal suara itu. Dari kejauhan,adikku Wisnu melambai-lambaikan
tangannya bersama pacarnya Risna. Marcell mempercepat jalannya dan sesekali
menoleh ke arahku.“Hai..apa
kabar,Wis,Ris??”sapanya sambil menyalami kedua calon adik iparnya. “Baik
kak,kakak sendiri gimana?” “Luar biasa…Cuma kakakmu aja yang agak nervous pra-pernikahan” canda Marcell
sambil memperhatikanku yang masih berjalan pelan kearah mereka. Setelah aku
dekat,aku memeluk Wisnu dan Risna. “Udah..ayo kita pulang ke kostku dulu,ntar
agak sorean baru kita berangkat ke Singaraja…” ajak Wisnu setelah aku melepas
pelukanku dari Risna. Wisnu membantu Marcell membawa salah satu koper milikku.
“Hmss…Cell…sepertinya kamu duluan aja sama Wisnu dan Risna…aku mau ketemu
temen-temen kuliah dulu..”kataku takut-takut. Semua memandangi aku.
“Kemana???Udah biar aku yang anter…lagian ini udah mau hujan” jawab Wisnu
cepat. “Nggak…nggak usah..aku sekalian mau kasih undangan,meski mereka nggak
bisa datang,tapi paling nggak mereka tau kalau aku akan menikah…aku sebentar
aja kok,di daerah Kuta sini..”jawabku mulai meyakinkan Marcell dan kedua
adikku. “Kuta kan dekat sini toch,Non..kita bisa nungguin kamu kok selagi kamu
ketemu sama temen kamu…”Marcell menanggapinya dengan bijak. “Nggak
enak,Sayang..masak iya kamu duduk dimobil aja aku kangen-kangenan di dalem sama
temenku..Udah nggak apa-apa aku bisa naik takxi kok…”aku mencoba meyakinkan
Marcell. Marcell mengeritkan dahinya dan membenahi kaca matanya. Aku tau,itu
tanda bahwa sebenarnya ia tak mengijinkanku tapi berhubung ada Wisnu dan Risna
ia tak mampu melarangku dengan agak tegas selain meng’iya’kan keinginanku.
“Kak,jangan lebih dari jam tiga sore loh ya..supaya nggak kemalaman pulang ke
Singaraja..”Wisnu memperingatiku. AKu melirik jam tanganku yang sudah
menunjukan pukul sebelas siang,namun karena mendung yang tebal mengantung dan
angin dingin yang berhembus tak Nampak pukul sebelas siang. Aku hanya mampu
mengangguk penuh semangat. Marcell mengantarku sampai aku masuk kedalam sebuah
takxi. “Jangan lama-lama ya,Non..perjalanan kita masih jauh..aku nggak mau ada
apa-apa terjadi sama kamu..” Marcell memperingati aku. “Siap Pak
Komandan..” jawabku ceria. Setelah mencium keningku,ia melepasku pergi.
Takxi yang ku naiki berhenti tepat didepan Lapas Denpasar. Setelah membayar,aku segera beranjak dari dalam takxi. Aku berjalan perlahan sambil menenteng sebuah kantong plastik yang berisikan makanan kesukaan Irfan. Tiba dilobi,aku menyerahkan kartu identitasku dan petugas mengantarku keruang tunggu. Aku duduk di sebuah kursi dangan sebuah meja panjang. Aku duduk sambil mengatur nafasku. Untuk pertama kalinya aku masuk ke Lapas ini menjenguk Irfan. Selama ini aku belum pernah datang menemuinya. Aku sampai tak tau harus berkata apa saat bertemu dengannya. Sudah enam bulan aku tak bertemu,seperti apa sekarang dia?aku benar-benar gugup,aku memainkan ponselku untuk menghilangkan kegugupanku. “Hai…” sapaan itu mengejutkanku. Aku tengadah dan kulihat Irfan dengan senyum manisnya memperlihatkan lesung dipipi. “H…haaii..”jawabku dengan terbata. Dia kemudian duduk di sampingku. Aku menggeser dudukku. “Apa kabar?” Tanya nya pelan. Aku tersenyum kecil. “Baik…kamu sendiri gimana?” “Seperti yang kamu lihat…”jawabnya pelan. Untuk beberapa waktu,kami terdiam. Aku binggung, apa yang harus aku katakan padanya. “Aku bawa makanan kesukaanmu…kamu mau makan??” tawarku. Irfan memandangku dan tersenyum tanda setuju. Aku mengeluarkan isi bungkusan dari plastik yang ku bawa. “Kamu masih ingat makanan kesukaanku ya..” Ia tersenyum melihat beberapa menu masakan see food yang ku bawa. “Aku special bawain buat kamu..Ayo dimakan” suruhku. Irfan melahapnya dengan penuh semangat. Melihatnya seperti itu,rinduku untuknya sedikit demi sedikit terlampiaskan. “Aku akan menikah minggu depan..” bisikku to the point. Irfan menghentikan aktifitas makannya dan menolehku dengan tatapan kaget dan tak percaya. “Ohhhh…dengan pria yang dulu?” Tanyanya lagi. “Iya…namanya Marcell..aku baru tiba di bandara tadi jam sebelas. Dan aku menyempatkan datang kesini…” “Hanya untuk menyampaikan kabar ini saja?” Irfan memotong pembicaraanku. “Bu..bukan begitu..aku sudah lama tak melihatmu. Aku ingin datang kesini karena aku ingat kamu dan aku…” “kangen sama aku…?” Irfan menotong ku lagi. Aku diam dan menunduk. “Maaf…maafin aku ya..tak seharusnya aku berbuat seperti ini sama kamu. Aku sedih melihatmu terpenjara seperti ini..” bisikku dan linangan air mataku mengalir tanpa beban. Irfan menghela nafas panjang. Ia memeluk aku dan air mataku kian deras. “Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu,sayang…Seandainya aku tak gelap mata,aku tetap setia mungkin aku yang akan menjadi pendampingmu seperti mimpi-mimpi kita terdahulu..” Jawabnya dengan bijak. Aku semakin sedih mendengarnya. “Apapun kamu,bagaimana pun kamu..sayang ku sama kamu nggak pernah berubah sampai kapan pun…dan ketika kamu sedih dan terluka,datang sama aku dan aku akan tetap menerimamu seperti sejak awal kita bertemu.Aku masih sayang kamu sampai kapan pun itu..” katanya lagi. “Fan,meskipun aku akan menikah lima hari lagi,tapi sampai saat ini aku masih sayang sama kamu..”kataku lagi diantara isakan tangisku. Dan untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Hari ini,di hadapanku pria yang pernah aku cintai,pria yang pernah melukai aku dan pria yang pernah aku benci menangis bersamaku tentang perasaan yang tak dapat terpungkiri. Suasana haru seiring dengan air langit yang mengucur deras.
“My Pride,my ego,my
needs and my selfish ways. Caused a good strong woman like you to walk out my
life. Now I never,never get to clean up the mess I made,oh.. And it haunts me
every time I Close my eyes…
its all just sounds like ohh,ohhh..ohh..ohh
Mm..too young,too doumb to realize
That I should have bought you flowers and
held your hand
Should have gave you all my hours. When I had
the change
Take you to every party cause all you wanted
to do was dance..
Now my baby’s dancing..But she’s dancing with
another man..
Altough it hurts…I’ll be the first say to
that I was Wrong
Oh, I know
I’m probably much too late
To try and apologize for my mistake…But I
just want you to know…”
Aku
juga tak biasa menahan tetes-tetes air mataku. Aku tak sanggup memandang
matanya yang memerah. “Lagu ini mewakili perasaanku,Sayang…” katanya saat aku
mengelap air matanya. “Doain aku langgeng sama Marcell ya,Fan..doain semuanya
lancar…” Irfan tak menjawabku.
Aku tersenyum lebar saat pamit
kepada Irfan. Mencoba tegar dan seolah aku baik-baik saja,namun sesungguhnya
hatiku bergemuruh. Ingin rasanya ada terus disisinya,menemaninya lagi. Aku
semakin tak tau dengan perasaanku ini, yang ada keraguanku untuk bersama
Marcell. Oh Tuhan,kenapa baru disaat-saat seperti ini aku merasakan kehangat
cinta Irfan yang masih tetap dalam untukku. Ia memelukku erat sebelum aku
meninggalkannya dan merestui aku dengan Marcell. Bahkan dengan candaannya ia
mengatakan bila Marcell tak lagi mencintaiku,maka aku boleh datang padanyaa
kapanpun yang aku inginkan,bahkan ia akan melamaraku setelah ia keluar dari
penjara nanti. Aku menanggapi dengan senyuman kecil. Setelah itu,aku pamit dan
tak janji bisa bertemu dia dengan waktu dekat ini. Irfan hanya tersenyum kecil.
“Yang jelas,saat Marcell tak lagi baik sama kamu,aku tetap ada buat kamu…kamu
hati-hati ya sayang…”ucapnya lagi. Aku tak menjawab hanya mengangguk pelan.
Aku segera pulang ke kost
Wisnu,meski hujan masih lebat dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua
siang. Marcell menghampiriku dengan sebuah payung untuk melindungi tubuhku dari
gemericik air hujan. “Maaf sayang…aku kelamaan ya perginya??” “nggak juga..aku
juga baru pulang tadi sempet jalan sama Wisnu…aku telpon-telpon kamu maunya aku
jemput kamu tapi hp kamu nggak aktif…” jawabnya agak jutek. Aku meringis.
“Kayaknya aku lupa ngidupin dari pesawat tadi dech…” ucapku pelan. Marcell mengiringiku
masuk dari halaman sampai tiba di teras Wisnu. “Cuci kaki dulu,Non. Udah gitu
buruan makan,tadi si Risna masak tuch..”suruh Marcell. Aku mengangguk dan
melakukan apa yang di suruhnya. Sejak awal kita pacaran,enam bulam silam sampai
saat ini kami akan segera menikah,ia tetap perhatian padaku. Seakan tak ingin
sesuatu terjadi padaku. Aku harap ini akan terus berlanjut untuk selamanya.
Sejenak,aku merasa berdosa. Diam-diam aku menemui mantan kekasihku tanpa
sepengetahuanya. Dan saat bersama Irfan hatiku pun galau,namun ketika aku
mendapatkan sejuta cinta lagi dari Marcell,kegalauanku sirna hanya rasa
bersalah lah yang menghinggap dalam diriku untuk Irfan. Ahhh…entahlah..aku
pusing harus memikirkan semuanya. Yang jelas,Irfan adalah masa lalu terindahku
dan kini aku siap untuk melupakannya. Pagi-pagi
buta,rumahku sudah ramai dengan beberapa warga yang datang untuk membantu
terlaksananya acara pinangan dengan adat Bali. Uniknya di Bali,antara Adat
dengan Agama saling berkaitan dengan erat. Bahkan untuk membedakan,apakah ini
acara adat atau agama saja sedikit susah dibedakan. Dan system kekeluargaan di
Bali juga sangat erat sekali. Hari ini adalah acara pinangan,dimana pihak
laki-laki dengan menggunakan pakaian adat Bali datang bersama keluarganya ke
rumah pihak wanita dengan membawa buah tangan seperti kue-kue,pakaian,accesoris
sesajen sesuai dengan tradisi orang Bali itu sendiri yang di sebut mas kawin.
Disini pihak laki-laki menyatakan akan meminang si wanita dihadapan Orang Tua
dari sang wanita yang disaksikan oleh Kelian Adat dan Kelian Banjar yang secara
nasionalnya dikenal dengan ketua RT/RW dan disaksikan juga oleh tokoh
masyarakat dan tokoh agama yang dikenal dengan sebutan Pemangku. Karena di Bali menganut system patrialisme, jadi hanya
Bapak-bapak saja yang dilibatkan dalam proses peminangan ini, yang awalnya
dilakukan perbincangan antara pihak laki-laki yang didampingi oleh sang Ayah
dan tokoh masyarakat dari pihak laki-laki. Disana pihak laki-laki mengutarakan
niatnya untuk meminang sang wanita,di ceritakanya lah awal pertemuan mereka
sampai menimbulkan itikad baik untuk datang meminang.Di Bali sendiri tidak
mengenal lamaran ataupun pertunangan. Setelah perbincangan itu maka,pihak
wanita dipanggil untuk di konfirmasi apakah penjelasan si laki-laki benar dan
tidak ada paksaan. Setelah di konfirmasi dan kenyataanya sesuai,maka mulailah
proses peminangan tersebut. Dan dihiasi dengan penyembahan kepada leluhur dari
pihak wanita untuk pamit pergi meninggalkan rumah mengikuti suami. Setelah
acara selesai,maka si wanita sudah biasa meningglkan rumah menuju
kerumah sang suami.
Berhubung Marcell datang hanya
bersama papa dan mamanya yang tidak begitu paham dengan adat istiadat Bali,
jadi dari pihak papa dan tetanggaku yang menjadi wakil dari Marcell. Dan seusai
acara ia tak mengajakku pergi karena tak memungkinkan untuk kembali ke Surabaya
secepat itu. Semua ini hanya simbolis yang memiliki banyak arti. Aku dan Marcell hanya
menghabisakn waktu tiga hari di Singarja dan harus segera kembali ke Surabaya
untuk mengurus persiapan pernikahan kami yang akan terlaksana dua hari lagi.
Aku dan Marcell mempercepat perjalanan dengan menggunakan pesawat komersil
untuk mengefisienkan waktu,sedangkan keluarga besar papaku yang ingin ikut
mengahadiri perkawainanku dan ke dua Orang Tua Marcell naik dua mobil yang
dikendarai Wisnu dan sepupuku.
“Cell..aku
capek…” keluhku saat kami sudah duduk dalam takxi menuju rumah Marcell yang
berada di daerah Wiyung,Surabaya. Marcell mengelus kepalaku dengan mesra. “Ini
untuk kebaikan kita,Non…Kan kita udah komitmen,mau kamu seperti ini,yach harus
ikuti…sabar sayang..setelah semua ini kamu biasa tidur dengan nyaman dirumah
baru kita…” Jawab Marcell menghiburku. Aku tak menjawabnya,hanya memandangnya
dengan kecut. Satu hal yang membuat aku semakin kagum dengan Marcell,dia orang
yang penuh tanggung jawab. Jujur aku dan Marcell mengelluarkan uang yang tidak
sedikit untuk pesta perkawinan kita ini. Dan tanpa aku tau,ternyata Marcell
sudah membeli rumah jauh sebelum ia bertemu denganku. Menurutnya,ia harus
mempersiapkan sedini mungkin,baru dua bulan yang lalu kami mengisi rumah kami
dengan perabotan rumah,itupun saat kami memutuskan untuk menikah. Pemberkatan
rumah,akan dilakukan bulan depan. Setelah pernikahan rampung dan kami sudah
tinggal disana.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga. Sejak jam empat pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan semuanya,seakan-akan tubuhku seperti mesin yang tak ada habisnya berhenti. Baru saja ingin beristirahat ada saja yang menghalangi. Rumah orang tua Marcell cukup besar dan hampir semua keluarga Marcell datang,maklum Marcell adalah anak sulung dari keluarga ini. Ia memiliki seorang adik perempuan yang sudah menjadi seorang guru disebuah sekolah menengah pertama swasta di Surabaya. Bagaimana gaduhnya rumah ini,belum lagi ditambah dari pihak keluargaku sekitar lima belas orang. Karena orang tua Marcell melarang mama-papaku untuk tinggal di rumah budheku,kakak pertama mama yang memang berdomisili di Surabaya. “Cell….” Aku memanggilnya dengan berat via ponsel. Hal konyol yang ku lakukan bersama Marcell adalah saling menelpon meski kita berada dalam satu rumah hanya dibedakan oleh ruangan. Tak memungkinkan untukku datang ke kamar Marcell dan menceritakan keluh kesahku. Ada banyak keluarganya disini dan aku harus menjaga sikapku,aku mencuri-curi waktu dikamar dengan menelponnya. “Yaa,Non..”suaranya merdu penuh semangat yang membuatku malu untuk berkeluh kesah lagi padanya. “Aku agak pusing…bisa aku istirahat sejam lagi…” pintaku memelas. “Kamu kenapa,Non??aku belikan obat dulu ya..atau mau aku antar ke dokter dulu??” Marcell mulai panik. “Nggak..nggak perlu,aku Cuma ingin istirahat aja..aku nggak keluar kamar dulu ya…aku akan siap jam tujuh nanti…”janjiku. “Ya udah,kamu istirahat saja dulu,sayang…” jawabnya singkat sebelum ia menutup telponku. Aku melanjutkan tidurku,sebelum aku dirias untuk pemberkatan perkawinan di Gereja yang akan dilaksanakan jam sebelas siang nanti.
Sejak pagi, semua orang sudah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan termasuk berdandan secantik dan setampan mungkin. Baik tua muda bahkan ponakan-ponakan Marcell yang tidak menjadi pengiring pun sudah terlihat rapi. Tinggal aku yang masih dikamar bersama mama dan beberapa tanteku yang sudah datang untuk melihatku berdandan ala putri raja sehari, dengan gaun putih yang ku sewa di sebuah salon bridal dekat rumah Marcell. Tak kusangka hari ini datang juga,setelah aku berimjinasi tentang hari ini. Aku nggak tau harus berkata apa lagi,senang atau sedih. Hanya saja,didetik-detik ini aku masih membayangkan Irfan. Membayangkan wajahnya yang menangis saat mendengarku akan menikah. Hal ini buat aku galau,kenapa disaat-saat penting wajahnya harus terlintas dalam benakku? Aku bimbang. Kenpa baru sekarang aku dilanda kebimbangan seperti ini? Beberapa kali aku menenangkan hati bahwa aku mencintai Marcell dan membuang jauh-jauh kenanganku bersama Irfan. Aku menghela nafas panjang,kemudian mengalihkan pandanganku kearah foto prewed ku dengan Marcell yang kami ambil di sebuah taman kerajaan yang terletak di daerah Karang Asem,Bali sebulan yang lalu. Aku tersenyum kecil,aku sudah siap untuk semua ini dan melupakan Irfan. Hanya Marcell-lah yang terbaik menurut kehendak Tuhan untuk menjadi pendampingku.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga. Sejak jam empat pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan semuanya,seakan-akan tubuhku seperti mesin yang tak ada habisnya berhenti. Baru saja ingin beristirahat ada saja yang menghalangi. Rumah orang tua Marcell cukup besar dan hampir semua keluarga Marcell datang,maklum Marcell adalah anak sulung dari keluarga ini. Ia memiliki seorang adik perempuan yang sudah menjadi seorang guru disebuah sekolah menengah pertama swasta di Surabaya. Bagaimana gaduhnya rumah ini,belum lagi ditambah dari pihak keluargaku sekitar lima belas orang. Karena orang tua Marcell melarang mama-papaku untuk tinggal di rumah budheku,kakak pertama mama yang memang berdomisili di Surabaya. “Cell….” Aku memanggilnya dengan berat via ponsel. Hal konyol yang ku lakukan bersama Marcell adalah saling menelpon meski kita berada dalam satu rumah hanya dibedakan oleh ruangan. Tak memungkinkan untukku datang ke kamar Marcell dan menceritakan keluh kesahku. Ada banyak keluarganya disini dan aku harus menjaga sikapku,aku mencuri-curi waktu dikamar dengan menelponnya. “Yaa,Non..”suaranya merdu penuh semangat yang membuatku malu untuk berkeluh kesah lagi padanya. “Aku agak pusing…bisa aku istirahat sejam lagi…” pintaku memelas. “Kamu kenapa,Non??aku belikan obat dulu ya..atau mau aku antar ke dokter dulu??” Marcell mulai panik. “Nggak..nggak perlu,aku Cuma ingin istirahat aja..aku nggak keluar kamar dulu ya…aku akan siap jam tujuh nanti…”janjiku. “Ya udah,kamu istirahat saja dulu,sayang…” jawabnya singkat sebelum ia menutup telponku. Aku melanjutkan tidurku,sebelum aku dirias untuk pemberkatan perkawinan di Gereja yang akan dilaksanakan jam sebelas siang nanti.
Sejak pagi, semua orang sudah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan termasuk berdandan secantik dan setampan mungkin. Baik tua muda bahkan ponakan-ponakan Marcell yang tidak menjadi pengiring pun sudah terlihat rapi. Tinggal aku yang masih dikamar bersama mama dan beberapa tanteku yang sudah datang untuk melihatku berdandan ala putri raja sehari, dengan gaun putih yang ku sewa di sebuah salon bridal dekat rumah Marcell. Tak kusangka hari ini datang juga,setelah aku berimjinasi tentang hari ini. Aku nggak tau harus berkata apa lagi,senang atau sedih. Hanya saja,didetik-detik ini aku masih membayangkan Irfan. Membayangkan wajahnya yang menangis saat mendengarku akan menikah. Hal ini buat aku galau,kenapa disaat-saat penting wajahnya harus terlintas dalam benakku? Aku bimbang. Kenpa baru sekarang aku dilanda kebimbangan seperti ini? Beberapa kali aku menenangkan hati bahwa aku mencintai Marcell dan membuang jauh-jauh kenanganku bersama Irfan. Aku menghela nafas panjang,kemudian mengalihkan pandanganku kearah foto prewed ku dengan Marcell yang kami ambil di sebuah taman kerajaan yang terletak di daerah Karang Asem,Bali sebulan yang lalu. Aku tersenyum kecil,aku sudah siap untuk semua ini dan melupakan Irfan. Hanya Marcell-lah yang terbaik menurut kehendak Tuhan untuk menjadi pendampingku.
Iring-iringan
mobil yang mengikuti mobil ku berjalan perlahan menyeruak jalanan ibu kota
menuju gereja Katedral. Tiba di Katedral, sudah banyak sekali orang yang
berkumpul disana menyambut kedatangan kami. Beberapa keluarga Marcell memang
sudah ada di gereja sejak pagi untuk mempersiapkan semuanya. Kedatanganku dan
Marcell disambut oleh pastur yang berdiri di depan pintu gereja. Setelah itu
bersama dengan sang pastur aku dan Marcell berjalan perlahan memasuki
gereja,dentingan piano mengiringi paduan suara membuat suasana kian hidup dan
menambah keromantisan. Tangan kananku memeluk erat lengan Marcell sedangkan
tangan kiriku memengang buket bunga,kami berjalan perlahan sembari menyapu
seluruh isi gereja yang dipenuhi tamu undangan. Wajah mereka sumringah
menyambut kedatangan ku dan Marcell. Sesekali aku melirik para tamu yang ku lewati
dan mengumbar seulas senyuman ke arah mereka. Wajah-wajah mereka sesumringah
senyum Marcell yang melangkah dengan mantap bersamaku. Sampai akhirnya aku dan
Marcell tiba di depan Altar. Acara Ekaristi pemberkatan perkawinan berjalan
dengan khusuk sekali. Sesekali aku mengusap air mataku yang meleleh karena
haru,sambil melirik Marcell yang tetap tenang.
Doa-doa pemberkatan pun diucapkan oleh Pastor,sampai tiba waktunya sang
Pastor menanyai aku dan Marcell tentang kesanggupan kami atas komitmen
pernikahan kami. “Marcell Fransiskus Xaverius bersediakah engkau menerima
Angela Larasati sebagai istrimu baik dalam suka dan duka, sakit maupun sehat…”
ucap Pastor sambil memandang Marcell. Marcell menghela nafas panjang dan
menjawab dengan mantap. “Saya, Marcell Fransiskus Xaverius bersedia menerima
Angela Larasati sebagai istri saya. Dalam suksa dan duka juga baik maupun
sakit…” Marcell begitu lancar menjawab pertanyaan dari Pastor, sekarang Pastor
memandangku. “Angela Larasati bersediakah engkau menerim Marcell Fransiskus
Xaverius sebagai suamimu baik suka dan duka maupun sehat dan sakit…” Aku
melirik Marcell sejenak,menghela nafas. “Saya, Angela Larasati bersedia
menerima Marcell Fransiskus Xaverius sebagai suami saya baik suka dan duka
maupun sehat dan sakit…” jawabku pelan. Kemudian sang Pastor menyaksikan Aku
dan Marcell saling memakaikan cincin dijari masing-masing, lalu Pastor
memberkati kami dan berkata. “Kalian sudah diberkati Tuhan dan sudah sah
menjadi suami-istri.. segala sesuatu yang sudah di persatukan oleh Allah, tidak
dapat dipisahkan oleh Manusia.Marcell Fransiskus Xaverius silahkan mencium
istrimu…cintai tulang rusuk yang telah kau temukan..” ucap sang Pastor. Gemuruh
tepuk tangan menyambut kami dan kidung-kidung perkawinan pun terdengar dengan sorak-sorai bahagia. Mengiringi
Marcell yang mencium keningku dengan sayang.
Prosesi pemberkatan pernikahan
di gereja telah berlangsung hampir dua setengah jam,berikut dengan
foto-fotobersama. Dan seusai itu,aku dan Marcell yang telah sah menjadi suami
istri segera meninggalkan Gereja dan kini saatnya ramah tamah di gedung balai
prajurit Kartika yang terletak di Jalan Brawijaya untuk para undangan yang
telah datang ke Gereja. Dalam mobil Marcell memelukku erat. “Semuanya
lancarkan,Non..”bisiknya senang. Aku tersenyum sumringah. “Ini beneran
kan,Cell”bisikku kecil. “Iya…”jawab Marcell Mantap. “Cepet banget
ya,Cell..kayak nggak terasa…”jawabku dengan terbahak, begitu pula dengannya.
Seakan rasa sakit yang menderaku sebelum acara hilang. Namun tetap saja demamku
tidak turun juga. Marcell mengelus wajahku yang terasa panas. “Abis ini minum
obat ya,Non..badanmu panas banget ini..” “Iya,Cell aku sampe lupa kalau aku
lagi sakit..ini semua karena kamu..makasih buat cinta kamu yang besar…”
jawabku. Marcell memelukku dan mengelus-elus kepalaku dengan sayang dan aku
memejamkan mataku sejenak. “Non…ayo bangun…minum obat dulu
sayang..” bisikan itu membuat aku terjaga dan pria yang sangat mencintaiku
berada didekatku. Aku memandangnya lemas. “Udah sampai ya…” “iya..semua orang
udah nungguin kita didalam”jawabnya lagi. “Ayo kita keluar,jangan kecewakan
mereka..ini pesta kita..kita jadi tuan rumah disini..”kataku sambil beranjak
meski badanku lemas. “Tapi minum obat dulu,Non..ntar kalau pingsan di pelaminan
gimana??yang ada malah tambah repot nanti…” “Iya ntar aja,Cell…aku nggak
apa-apa kok..”jawabku bandel dan segera turun dari mobil. Marcell hanya
memandangku lalu menghela nafas panjang dan menyusulku turun. Ia mendekati aku
dan menggandengku. Para tamu sudah berkumpul dan mereka menyambut kedatangan
kami dengan meriah.
Aku dan Marcell duduk dipelaminan hampir tiga jam sampai tamu-tamu dari gereja pulang. Setelah semua pulang, Marcell mengajakku untuk pulang dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan resepsi di sore hari. Marcell mengantarku sampai dikamarnya yang sudah dihias sekedemikian rupa dan disulap menjadi kamar pengantin yang penuh dengan bunga-bunga. Tanpa banyak kata aku tertidur dengan lelapnya, Marcell membiarkan aku beristirahat.
Ciuman
sayang dan belaian lembut itu membangunkan aku. “Non, udah baikan??badan kamu
kok tambah panas ya?? Kita kedokter dulu gimana??” Tanya Marcell meminta
pendapatku. Aku terbangun dan memandang Marcell sejenak. Badanku lemas sekali
seakan tak ingin meninggalkan tempat tidur. “Non….” Bisiknya. “Jam berapa
ini??” “Jam empat..jangan mandi dech ya,badanmu masih panas kayak gini…”
“Kenapa harus sakit disaat seperti ini yach..”aku mengendus kesal. Marcell
tersenyum bijaksana. Ia mencium keningku lagi. Ia membantuku berdiri dan
menuntun aku sampai ke depan kamar mandi. Aku berdiri didepan cermin
wastafel,memandang wajahku yang memucat tanpa hiasan make up sedikit pun. Tak
pernah terbayangkan dalam hidupku, dihari bahagiaku aku harus merasakan sakit
seperti ini. Tiba-tiba saja seklebat bayangan Irfan muncul. Ia pernah
menggendongku dengan penuh kepanikan saat aku terjatuh dari kamar mandi.
Ahhh…lagi-lagi bayangan itu muncul. Aku membasuh wajahku. Angel,kamu harus bisa
melupakan semua itu..masa lalu mu harus dibuang jauh-jauh..karena sekarang kamu
sudah sah menjadi istri Marcell Fransiskus Xaverius… Aku berbisik dalam hatiku
sambil memperhatikan cincin emas yang kini melingkar
di jari manisku yang baru terpasang sejak tadi pagi.
Aku segera keluar
dari kamar mandi masih dalam keadaan lemas,mau tak mau aku harus menyelesaikan
resepsi yang akan digelar jam tujuh malam nanti. Selama tiga bulan aku dan
Marcell mengkonsepkan acara pernikahan ini dengan matang,aku tak mau
mengecewakan dia yang sangat menyayangiku. Aku berusaha kuat untuk tetap tegak
berdiri hingga semua ini kelar.
Aku masuk kamar tamu di rumah
Marcell, disana sudah ada mamaku dan beberapa sepupu Marcell yang sedang dandan
untuk segera menuju ke Gedung yang akan diadakannya resepsi. Aku duduk sambil
menunggu. “Kamu nggak papa,Ngel?” Mama mendekatiku dan membelai wajahku.
“Sedikit pusing ma,tapi udah minum obat kok tadi” jawabku singkat dengan
pandangan kosong,lemas dan tak berdaya. Tapi apapun yang terjadi aku harus
tetap kuat demi resepsi ku ini,demi Marcell dan demi keluargaku. “Mama ambilkan
makan dulu yach,terus minum vitamin biar kamu kuat. Kamu harus berdiri terus
loh nanti..” “Boleh dech ma..”jawabku pelan. Tak lama kemudian MArcell datang
dengan membawa sepiring makanan. Ia menyuapi aku dengan penuh kasih,membelaiku
dengan cinta dan benar-benar menjadikanku bak seorang permaisuri. Perlakuannya
saat kita masih pacaran dan setelah kami menikah berbeda 100% terlebih
melihatku lemas seperti ini. Dia lebih protective lagi. Rasa sayangnya yang
tulus itu tercermin dari dari sikapnya dan sorot matanya saat ia menatap aku
kini. Aku tersenyum lebar disuapan terakhir. “I’m strong now, because of
you”kataku pelan. Ia lalu beranjak dan mencium keningku. “I love you…”bisiknya.
Aku tersenyum kecil sambil melihatnya keluar.
Para
undangan sudah memenuhi gedung balai sartika sejak pukul tujuh malam,sedangkan
aku dan Marcell sudah berdiri sejak jam enam sore. Tamu-tamu datang silih
berganti, rata-rata dari teman-teman Marcell. Sejak jaman kuliah Marcell aktif
di organisasi apapun,jadi nggak salah kalau moment seperti ini digunakan
sekalian untuk reunion. Lima ratus undangan yang kami sebar. Karena
kekurangan,jadi aku menggunakan media sosial untuk mengundang teman yang jauh
diluar kota termasuk beberapa teman lamaku yang sekarang sudah menyebar di bagian
Indonesia lainnya. Sesekali aku tertawa terbahak saat tak menyangka teman
lamaku datang di pernikahanku. Rasa sakit yang mendera aku hilang
sudah,tergantikan tawa dan bahagia yang tak
terbendung.Namun,disela kebahagiaan itu muncul sedikit
rasa tawar. Saat Moniq,adik Irfan datang bersama kekasihnya dan beberapa
sepupunya. Aku diam,tak tau harus berkata apa,aku memeluk Moniq dan sedikit
terisak namun cepat-cepat ku bendung sebelum Marcell melihatnya. Dulu aku
begitu dekat dengan Moniq,bahkan detik-detik Irfan di sidangpun ia masih
bertegur sapa denganku. “Mbak..selamat ya,meski tidak bersama Irfan,tapi aku
akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mbak..”bisiknya saat memelukku. Aku
tersenyum kecil dan segera melepas pelukannya. Setelah ia berlalu,Marcell memelukku
erat.
Tepat jam sebelas
malam,tamu-tamu sudah pergi dan gedung yang tadinya ramai,kini sepi. Ada
beberapa teman kuliah Marcell yang masih tersisa untuk menunggunya bergabung
bersama mereka. Aku mengerti dan menyuruhnya untuk segera menemani mereka,sedangkan
aku berjalan keluar untuk menemui mama yang sedang berkumpul dengan keluarga besarku
dan keluarga besar Marcell. Tapi entah kenapa tiba-tiba pandanganku kabur,aku
terjerembab kelantai dan tak sadarkan diri.
Aku
merasa seluruh badanku terasa sakit dan panas. Aku menoleh kesisi ranjangku.
Marcell terlelap masih dengan menggunakan jas taxido-nya. Aku memandang
kesekelilingku. Ruangan putih dan ber-Ac sedang. Dihidungku terpasang oksigen
dan tangan kiriku terasa kaku,aku meliriknya dan terlihat sebuah infus tertanam
di pergelangan tangan kiriku. Aku meringis karena nyeri dan menangis kecil.Aku
sedikit membuka selimutku,pakaian megahku telah berganti dengan pakaian rumah
sakit,ku gigit bedcovernya untuk menahan sakitnya di infus. Marcell
bergerak,kemudian ia terbangun. “Non…gimana??”tanyanya yang segera bangun dan
menaruh tanganya di keningku. “Sakitt…..”jawabku terisak. Ia mencium keningku
dan tersenyum kecil. “Tenang…ini sementara aja kok,kata dokter kamu kena
thypus. Kamu pingsan kemarin,aku panic dan langsung bawa kedokter. Mama sama
papa aku suruh pulang,biar besok aja mereka kesininya. Mereka terlalu capek
untuk pernikahan kita,aku nggak tega kalau mereka tidur disini,jadi biar aku
saja…”ceritanya panjang lebar. Aku masih sesenggukan. Marcell menyeka air
mataku denga tissue. “Cell…maaf yaa…”bisikku pelan sambil memandang wajahnya
dengan mata yang sembab. “Maaf buat apa,Non?”Marcell mengerutkan dahinya.
“Maaf.. karena malam pertama kita di rumah sakit…” jawabku nakal lalu tersenyum
lebar. Marcell tertawa terbahak. 
Tiga
hari aku tersiksa di rumah sakit dan ingin segera pulang kerumahku. Meski tidak
baru tapi suasana dan statusku yang membuatnya baru. Rumah ini mulai sepi,hanya
tinggal aku dan Marcell. Berdua,tanpa siapapun. Keluarga besarku sudah kembali
ke Bali tadi pagi. Kini saatnya aku kembali kerealita kehidupan. Sudah habis
masa gemerlapan dan kesenangan itu. Kini aku sudah sah menjadi istri
Marcell,menjalani hidup dengan lebih berhati-hati dan lebih bertanggung jawab.
Karena mulai saat ini dan seterusnya aku tidak hanya bertanggung jawab atas
diriku sendiri tapi ada seorang suami disisiku. Dan aku merasa lebih tenang dan
bahagia bersama dengannya dalam waktu dua puluh empat jam dan tak terpisahkan.
***
Marcell menghampiriku dengan tergopoh-gopoh di dalam kamar mandi. “Non…kamu nggak apa-apa???” tanyannya dengan panic. Aku memandangnya dengan wajah pucat. “Masuk angin kali yaa…”jawabku pelan. Cepat-cepat aku membasuh wajahku dan memeluk marcel yang membopohku keluar kamar mandi untuk kembali ketempat tidur. Marcell menyelimutiku,ia keluar dan tak lama kemudian membawakanku segelas teh hangat. “Makasih,Cell…”bisikku. Marcell kemudian mencium keningku. “Gimana rasanya??” “Masih mual…”jawabku manja,sambil menutup badanku dengan bedcover. “Aku antar ke dokter ya…hari ini nggak usah ngantor aja…” katanya makin cemas. Aku diam dan menurut.
Marcell menghampiriku dengan tergopoh-gopoh di dalam kamar mandi. “Non…kamu nggak apa-apa???” tanyannya dengan panic. Aku memandangnya dengan wajah pucat. “Masuk angin kali yaa…”jawabku pelan. Cepat-cepat aku membasuh wajahku dan memeluk marcel yang membopohku keluar kamar mandi untuk kembali ketempat tidur. Marcell menyelimutiku,ia keluar dan tak lama kemudian membawakanku segelas teh hangat. “Makasih,Cell…”bisikku. Marcell kemudian mencium keningku. “Gimana rasanya??” “Masih mual…”jawabku manja,sambil menutup badanku dengan bedcover. “Aku antar ke dokter ya…hari ini nggak usah ngantor aja…” katanya makin cemas. Aku diam dan menurut.
Dari luar,aku mendengar Marcell sedang
menelpon seseorang yang mengabarkan bahwa ia akan telat masuk kantor karena aku
sakit. Aku tersenyum kecil,melihat kepanikannya yang kadang terlalu berlebihan
itu. Rasanya aku tak ingin kemana-mana dan biarkan saja aku sakit agar bisa
selalu dekat dan dimanja olehnya . “Non…ayo kita kerumah sakit..”bisiknya yang
tiba-tiba sudah berada di dekatku. Aku memandangnya sekilas, tersenyum lalu
mengangguk dan bangun dari pembaringanku. Ia memapahku sampai didalam mobilnya.
Aku duduk di belakang dengan kaki yang diselonjorkan,sedangkan dia menjadi
supir terbaikku. Sudah hampir lima bulan aku berstatus istri Marcell dan selama
itu aku menikmati semua peranku. Hubungan kita masih sehangat waktu
pacaran,selain itu waktu pacaran kami terlalu singkat terlebih untuk mengenal
satu dengan yang lain. Jadi meski sudah menikah,kami tetap melakukan
kebiasaan-kebiasaan lama.
Marcell
memarkirkan mobilnya tepat di depan ruang UGD,terkadang Marcell sedikit lebay
dengan keadaanku. Aku hanya masuk angin saja,dia sudah kebakaran jenggot.
Hms…apalagi kalau aku hamil dan punya anak ya… Kadang aku selalu bertanya,saat
aku sedang duduk santai bersamanya. Gimana rasanya jadi orang tua,dengan bijak
Marcell menghela nafas panjang. “Sabar ya..Tuhan sedang melihat bagaimana
perlakuanku padamu. Saat semua berjalan baik dan kamu tetap bahagia,maka saat
itulah Tuhan akan mempercayakan keturunanku dalam rahimmu,jika Tuhan masih
belum percaya,maka Tuhan akan tetap menyuruh kita bersabar dan menyuruhku untuk
lebih membahagiakanmu lagi…”jawabnya dengan penuh senyum bermakna. Itulah satu
hal yang membuat aku merasa bersyukur memiliki Marcell. Tuhan sudah memberikan
apa yang terbaik untukku,meski dengan segala cobaan yang harus aku jalani,untuk
sampai pada titik finish.
Marcell terus memperhatikan gerak gerik si dokter saat memeriksaku. Beberapa pertanyaan dilontarkan padaku,kemudian sang dokter muda itu tersenyum kecil. “Sebaiknya Bapak dan Ibu memeriksakan lebih lanjut kedokter kandungan..”katanya dengan wajah sumringah. Aku masih terbengong. “Maksudnya dok…”Marcell mengerutkan dahinya. “Sejauh ini, setelah saya periksa Ibu sedang mengandung…”jawabnya lagi. Aku dan Marcell saling berpandangan,lalu tertawa keras. Marcell memeluk aku erat. “Terimakasih Tuhan…Terimakasih Non..akhirnya…”teriak Marcell. Saking bahagianya aku sampai menangis bahagia. Si dokter segera menyarankan aku untuk memeriksakan kandungan ke dokter kandungan. Marcell segera mengambil nomor antrian untuk bertemu dengan dokter kandungan. Rasanya sudah tak sabar menunggu antrian yang hanya beberapa orang saja,saking bahagianya kami berdua. Tuhan sudah mempercayakan seorang anak untuk kami,berarti Marcell sudah membahagiakan aku dan Tuhan juga senang. Tak lama menanti, akhirnya namaku dipanggil juga. Marcell memapahku dan menuntunku untuk masuk keruangan dokter kandungan. Kami di sambut senyuman hangat sang dokter wanita yang bersahaja ini. Marcell dan aku pun tak kalah mengumbar senyum lebar. “Apa kabar Pak,Bu?” sapanya ramah. “Baik dok..saya ingin memeriksakan keadaan istri saya. Kami sempat mampir ke UGD tapi ternyata dokter di UGD menyarankan kami datang kesini untuk memastikan bahwa istri saya hamil..”terasng Marcell penuh senyum. Sang dokter membalas dengan senyum pula dan menyuruhku untuk segera berbaring. Ia menutup tirai dan memeriksaku. “Anak pertama ya..”tebak sang dokter sambil menaruh testokop di perutku. Aku hanya mengangguk dan terus tersenyum. Tak lama ia memeriksaku, ia hanya mengangguk-angguk kemudian membuka tirai dan membantuku untuk turun dari tempat tidurnya. Kini, sang dokter duduk dihadapan kami. “Selamat ya, Ibu memang positif dan saat ini sedang mengandung, usianya baru lima belas hari. Harus di jaga karena sangat rentan sekali, jangan terlalu lelah, banyak pikiran dan jangan angkat beban. Makananya dijaga ya, saya akan berikan vitamin untuk ibu. Bulan depan di kontrol lagi kandungannya ya…” ucap sang dokter penuh kelembutan. Marcell segera mengambil resep yang di berikan. Kami pun pamit dan segera meninggalkan rumah sakit itu dengan bahagia sekali.
Marcell terus memperhatikan gerak gerik si dokter saat memeriksaku. Beberapa pertanyaan dilontarkan padaku,kemudian sang dokter muda itu tersenyum kecil. “Sebaiknya Bapak dan Ibu memeriksakan lebih lanjut kedokter kandungan..”katanya dengan wajah sumringah. Aku masih terbengong. “Maksudnya dok…”Marcell mengerutkan dahinya. “Sejauh ini, setelah saya periksa Ibu sedang mengandung…”jawabnya lagi. Aku dan Marcell saling berpandangan,lalu tertawa keras. Marcell memeluk aku erat. “Terimakasih Tuhan…Terimakasih Non..akhirnya…”teriak Marcell. Saking bahagianya aku sampai menangis bahagia. Si dokter segera menyarankan aku untuk memeriksakan kandungan ke dokter kandungan. Marcell segera mengambil nomor antrian untuk bertemu dengan dokter kandungan. Rasanya sudah tak sabar menunggu antrian yang hanya beberapa orang saja,saking bahagianya kami berdua. Tuhan sudah mempercayakan seorang anak untuk kami,berarti Marcell sudah membahagiakan aku dan Tuhan juga senang. Tak lama menanti, akhirnya namaku dipanggil juga. Marcell memapahku dan menuntunku untuk masuk keruangan dokter kandungan. Kami di sambut senyuman hangat sang dokter wanita yang bersahaja ini. Marcell dan aku pun tak kalah mengumbar senyum lebar. “Apa kabar Pak,Bu?” sapanya ramah. “Baik dok..saya ingin memeriksakan keadaan istri saya. Kami sempat mampir ke UGD tapi ternyata dokter di UGD menyarankan kami datang kesini untuk memastikan bahwa istri saya hamil..”terasng Marcell penuh senyum. Sang dokter membalas dengan senyum pula dan menyuruhku untuk segera berbaring. Ia menutup tirai dan memeriksaku. “Anak pertama ya..”tebak sang dokter sambil menaruh testokop di perutku. Aku hanya mengangguk dan terus tersenyum. Tak lama ia memeriksaku, ia hanya mengangguk-angguk kemudian membuka tirai dan membantuku untuk turun dari tempat tidurnya. Kini, sang dokter duduk dihadapan kami. “Selamat ya, Ibu memang positif dan saat ini sedang mengandung, usianya baru lima belas hari. Harus di jaga karena sangat rentan sekali, jangan terlalu lelah, banyak pikiran dan jangan angkat beban. Makananya dijaga ya, saya akan berikan vitamin untuk ibu. Bulan depan di kontrol lagi kandungannya ya…” ucap sang dokter penuh kelembutan. Marcell segera mengambil resep yang di berikan. Kami pun pamit dan segera meninggalkan rumah sakit itu dengan bahagia sekali.
Kehamilanku
disambut bahagia oleh keluargaku dan keluarga Marcell. Cucu pertama dari kedua
keluarga. Entah karena terlalu bahagia atau karena khawatir, orang tua Marcell
hingga berminggu-minggu menemaniku di rumah. Banyak sekali larangan yang ia
lontarkan, terkadang aku sampai sebal,namun meski begitu aku menikmati
masa-masa hamilku dan perhatian ekstra dari Marcell. Apapun yang ku inginkan
datang saat ini juga. Dia sangat protective sekali padaku,namun terkadang
Marcell juga kesal saat tiba-tiba jam satu dini hari aku terbangun dan
memintanya untuk membelikanku rujak mangga atau makanan tak lazim dimalam hari.
Ia harus berputar-putar mencari toko buah dua puluh empat jam dan itu butuh
waktu yang lama. Setelah dapat, aku hanya meliriknya tanpa menyentuh sedikit
pun. Karena terlalu lama menunggu dan nggak
pengen lagi. Marcellpun segera kembali ke kamar dengan
kesal dan melanjutkan tidurnya yang terganggu karena aku. Dengan wajah innoncent aku mengikutinya kembali
tidur. Hal itu terjadi dan berulang-ulang selama hampir empat hingga lima
bulan. Tapi memasuki bulan keenam hingga kedelapan,aku menjadi sangat aktif.
Nafsu makan bertambah besar dan berat badanku kian bertambah. Aku sedikit
minder dan nggak percaya diri bila
sedang jalan-jalan bersamanya. “Non, kamu tau nggak, seorang wanita terlihat
lebih sexy saat ia hamil. Jadi kamu
nggak usah minder dengan semua ini..” ucapnya penuh kelembutan. Aku terdiam dan
tersenyum lebar. “Berarti boleh makan lagi,kan?” pintaku sambil nyengir. “Kan
aku makannya berdua” jawabku manja. “Iya…”jawabnya sambil menghela nafas
panjang.
Dokter mengatakan calon bayiku
berkelamin laki-laki sesuai dengan permohonan Marcell. Rasanya tak sabar
menanti kelahirannya yang tinggal sebulan lagi. Persiapan secara matang sudah
tercetus dari pikiran Marcell. Kamar bayi bernuansa biru
sesuai dengan keinginanku telah terealisasi tepat disebelah kamarku. Aku
menikmati ini semua, terkadang aku tertawa sendiri sambil mengelus-elus perutku
yang bergerak-gerak sendiri. Bayiku begitu aktif,sesekali menendang-nendang,
sesekali berputar-putar. Entah apakah ia sudah merasa bosan didalam rahimku
yang semakin mengecil karena pertumbuhannya yang kian cepat. Terlebih jika
tangan Marcell yang memegangi perutku, ia begitu girang dan melonjak-lonjak
membuatku sakit. Dan ketika aku memanggil namanya “Mosses” maka ia kembali
melunjak-lunjak sampai tak tertahankan sakitnya. Yaaa… panggilannya adalah
Mosses. Yang berarti Musa. Musa adalah satu-satunya nabi yang bisa membelah
lautan menjadi dua. Aku dan Marcell berasal dari pulau yang berbeda, harus
menyebrangi lautan, karena menyebrangi pulau itu, kami sepakat memberi nama
Mosses. Karena Mosses buah cinta kami,ia telah menyatukan dua pulau itu.
Aku
segera bangun ketika alarm di ponselku bordering dan menunjukan pukul empat
pagi. Aku segera membangunkan Marcell. Selagi ia mandi,aku menyiapkan sarapan
untuknya. “Secangkir kopi dan sepiring
omelet yang akan aku rindukan…” komentarnya sambil duduk di meja makan.
“Yach..ntar di hotel kana da makanan yang lebih enak dengan kopi bercita rasa
lebih tinggi lagi…” sambungku. “Tapi nggak seenak masakanmu loh,Non…” “Alah
boong aja… biasanya juga komentar mulu kalau aku yang masak…” “Nggak non..ini
special dan lebih enak dari masakan apapun..” pujinya. Aku yang duduk
dihadapannya tersenyum kecil. “Udah buruan dimakan, ini udah hampir jam lima
loh..bentar lagi takxi dateng..”aku memperingatinya. Ia hanya mengangguk dan
segera melahap sarapannya. Sedangkan aku hanya memperhatikan ia makan. Ia
terlihat lebih tamban hari ini, dengan kemeja lengan panjang bermotif
garis-garis tipis berwarna biru muda. Aku biasa melihat dia,tapi kali ini
sangatlah berbeda. Entah kenapa? Ada sedikit rasa sedih, karena tak ada dia disampingku,aku
sedikit was-was. Meski,ia sudah meminta mamanya datang untuk menemaniku selama
ia tak ada, tapi rasanya sangat berbeda sekali. “Sepertinya takxinya udah
dateng dech…”kataku sambil memperjelas pendengaranku dengan klakson yang
berbunyi beberapa kali. Aku beranjak,dan mengintip dari jendela. “Cell…your takxi have been waiting you..”
kataku lagi. Marcell segera beranjak dan mengambil koper dikamar. Ia memelukku
dan kami berjalan keluar bersama. “Hati-hati ya,sayang” bisikku sebelum ia
melepas pelukannya. “You too..”bisiknya
lalu ia mencium keningku. Mengelus perutku untuk pamit pada bayi kami. “Mosses,
jangan nakal ya, jangan buat mama repot..papa selalu kangen Mosses dan
mama…”ucapnya sambil mencium-cium perutku. Moses bergejolak,seakan menanggapi
perkataan papanya. “Iya papa,jangan lama-lama ya..inget oleh-oleh ya..”aku
menjawab pelan. Marcell tersenyum kecil,ia pun pergi dengan sebuah tas laptop
dan koper yang ia jinjing lalu masuk kedalam takxi. “Nanti aku telpon
ya,sayang…”pesannya sebelum takxinya pergi. Aku mengangguk dan masih
memperhatikan takxi yang mulai bergerak menjauh. Aku menghela nafas panjang
sambil mengelus-elus perutku,lalu kembali kekamar.
Berita
tergelincirnya pesawat komersial di bandara membuat heboh semua orang. Pesawat
itu terbakar dan menyisakan kepulan asap hitam yang tebal hingga pemadam
kebakaran tak dapat memadamkan. Dikabarkan seluruh penumpang menjadi korban termasuk awak pesawat.
Kini yang terlihat hanya puing-puing pesawat yang sudah hangus terbakar.
Pesawat tersebut mengalami insiden akibat roda yang seharusnya keluar,justru
macet dan membuat percikan api ketika menyentuh aspal dan membuat konsleting. Perjalanan
dari Jakarta menuju Surabaya berakhir tragis di pukul tiga dini hari.
Aku menangis histeris dalam tidurku. Lalu seseorang membangunkan aku,sampai mataku terbuka. Kulihat mama dengan wajah memerah. Kembali aku berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehat. Mama memelukku erat. Aku lemas dalam pelukannya. Meluapkan segala emosi yang tak terungkapkan. Aku gelap,aku kehilangan arah dan aku tak tau harus berbuat apa. Tak ada yang dapat ku pegang,karena semua anggota tubuhku lemas. Aku tak berarti, seperti lembaran kertas yang tinggal menunggu kapan angina membawanya terbang. “Ngel…sadar…Ngel…”aku mendengar mama merintih dalam pelukanku. Aku mendengarnya,namun tak mampu menyahut. Aku merasa bahwa jiwa dan tubuhku terpisah. Aku menangis sesenggukan didalam takxi, aku tak tau harus berbuat apa. Rasa kehilangan itu begitu menyiksaku,menusukku hingga menembus tubuhku. Semua itu tak terungkapkan. AKu hanya bisa meraung dan meratap. Papa memulukku erat,sedangkan mama yang menggendong Mosses ikut melelehkan air mata.
Aku
berjalan terengah-engah dengan perut buncit membantu Marcell mengepack
keperluannya. Ia akan ke Jakarta untuk menghadiri Konfrensi Ilmiah Nasional
yang nantinya akan dipilih sebanyak lima karya ilmiah terbaik untuk dikirim ke Singapore. Sebagai dekan fakultas sastra
Inggris, ia mewakili kampusnya bersama dua orang dosen lainnya. “Yakin
ya..nggak ada yang ketinggalan…” kataku sambil menutup koper yang berukuran
sedang. “Hmss..rasa-rasanya sich udah nggak ada dech..” jawabnya pelan tapi
pandangannya masih gelisah seperti mencari-cari sesuatu. “Nyarik apa lagi?” aku
menanyainya yang duduk di ranjang sambil memperhatikannya. Marcell memandangiku
sekilas,lalu duduk dibawah kakiku. Mengelus-elus perutku lagi. “Nyarik gimana
caranya biar mama dan Mosses bisa ikut…”jawabnya dengan senyum lebar. Aku
tertawa sambil mengacak rambut Marcell. “Mosses jangan nakal ya..papa pergi
Cuma satu minggu, jangan bikin mama sakit ya,Nak” pesannya sambil menciumi
perut buncitku. Aku mengerang,karena Bayi dalam perutku menyahuti perkataan
Marcell dan melonjak-lonjak tak karuan. Aku meringis dengan gejolak dan respon
dari bayi kecilku. “Kenapa Non?” tanyanya pura-pura nggak tau sambil memadangku
dengan mengejek. “Anakmu pengen ikut beneran dech kayak nya..dia terus melonjak-lonjak…” rintihku. Marcell tertawa
lagi. “Rebahan aja, biar nggak sakit..lagian udah malem juga ini…”ajaknya
sambil membantuku berbaring dan ia pun tidur disisiku, memelukku erat. Tak
biasanya, mungkin karena ia akan pergi selama seminggu,biar nggak kangen :)
Ini
hari pertama aku berangkat kekantor dengan menyetir sendirian. Sebab Marcell
tak akan mengijinkanku untuk menyetir,demi kesehatan. Itu jawabannya.
Sebenarnya tidak masalah,maklum anak pertama jadi ia sangan over protective
sekali. Sebenarnya aku kesepian,meski dirumah ada mama mertua, tapi rasanya
aneh. Aku ingin sekali terbang ke bali dan berlibur seminggu disana. Tapi
sangat tak mungkin, diusia kehamilan delapan bulan sangat rentan untuk naik
pesawat. Kalau naik bus,aku akan kelelahan di jalan. Mau tidak mau aku harus
berpasrah dirumah. Mama-papaku juga sedang sibuk.
Tepat jam empat sore, aku segera
membereskan barang-barangku untuk segera pulang. Di kantor sudah hampir sepi,
hanya beberapa orang yang berbeda divisi denganku. “Mbak Angel… ada film baru
nich,mau ikutan nonton nggak?Seruuu banget loh…serial drama,kamu pasti suka.
Lagian kita kan udah lama nggak pernah jalan bareng,sejak mbak hamil tepatnya
dech..Toch juga mas Marcell nggak ada…” ajakan itu datang tiba-tiba dari
rekanku yang duduk di belakang mejaku. Aku menoleh, memandangnya sejenak. Tanpa
pikir panjang aku mengiyakan ajakannya. Lagian juga sudah lama aku tak jalan
bareng teman-temanku. Bukannya Marcell melarang,tapi
sejak hamil ia melarangku,aku boleh keluar hanya dengannya saja,demi menjaga
kandunganku.Itu menurutnya.
Aku
dan Raisa keluar dari kantor dan membelokan mobilku menuju bioskop yang
terdapat di dalam sebuah mall ternama di Surabaya. Kami berjalan
perlahan-lahan,terlebih dengan perut buncitku ini,hanya bisa jalan
selangkah-dua langkah dan segera menaiki lift. Aku berdiri disebuah café untuk
membeli camilan dan dua gelas soda,sedangkan Raisa membeli tiket masuk. Tak
lama Raisa menghampiriku sambil memamerkan dua buah tiket ditangannya. Setelah
dekat denganku,ia mengandengku dan kami berdua segera masuk.
Hal yang paling menyenangkan saat ini adalah memeluk putra pertamaku, Mosses. Aku rela tak tidur meski aku lelah sekali setelah persalinan yang hebat ini. Pukul tiga dini hari,aku masih mendekap putraku. Sambil menunggu Marcell yang kata mama ia sedang dalam perjalanan balik ketika papa mengabarkan bahwa aku melahirkan. “Ngel…Mosses di tidurin di box aja. Biar kamu bisa relax dan istirahat…”mama menyarankanku. “Iya dech ma,minta tolong ya ma…”jawabku sambil menyerahkan bayi mungilku ke pelukan mama. “Kamu nggak makan dulu,Ngel?ato mau papa belikan?” tawar papa. “Hmss..nggak usah dech,ntar aku telpon Marcell aja pa,biar sekalian di belikan dijalan. Papa sama mama istirahat aja ya…” jawabku pelan. Papa dan mama pun menurut, mereka duduk di sofa dan terlelap. Sedangkan aku asyik mengup-load foto-foto bayi kecilku. Lama kelamaan aku lelah juga dan ikut terlelap. Ini adalah pagi pertamaku menjadi seorang mama. Aku duduk dikursi roda dan berjemur bersama Mosses kecil di taman rumah sakit. Sedangkan mama dan papa sedang sarapan di kantin. Sejak semalam mereka belum makan. Marcell pun tak kunjung datang. Aku menghubungi ponsellnya juga tak berhasil. Aku tak tau keberadaannya kini. Ku minta papa untuk menelponnya lagi. Sedangkan mama dan papaku dalam perjalan untuk menjenguk cucu pertamanya.
Dua jam berlalu dengan penuh tontonan
yang penuh haru. Aku baru tersadar,sejak menikah,aku tidak pernah lagi pergi ke
bioskop. Makanya,aku seneng banget dan menikmati tontonanku ditiap detik demi
detiknya. Sampai-sampai aku lupa segalanya.
Aku bernadas dengan lega setelah keluar
dari kegung bioskop. Rasa-rasanya tayangan dan adegan-adegan dalam film tadi
masih terngiang-ngiang dalam benakku. Raisa menyenggolku. “Dinner dulu yuk mbak Angel..aku laper…” ucapnya dengan wajah
mengkerut. “Hadeeehh..tau dech aku sekarang… kamu lagi galau
ya..tumben-tumbennya ngajak aku nonton,trus dinner
bareng, pacar kamu kemana??” ucapku penuh selidik. Raisa sudah ku anggap adik
sendiri. Ia baru di angkat PNS setahun lalu,umurnya pun baru dua puluh tiga
tahun,masih labil. “Iya, aku lagi ngambek sama dia…udah ntar aja ceritanya
sambil makan…” katanya bete Aku Cuma mengangguk
pelan dan mengikutinya. Kami keluar dari areal bioskop dan berjalan pelan
menuju ke sebuah resto fast food. Aku
memilih sebuah tempat duduk didekat jendela sedangkan Raisa memesan makanan.
Aku juga sudah lama tidak makana fast
food, Marcell melarangku. Tapi kalau untuk sekali-sekali tidak masalah kan.
Sepuluh menit kemudian Raisa datang dengan sebuah nampan dengan dua buah piring
bistik sapi, kentang goring
dan soft drink. “Mari makan mbak
Angel…” “Mari makan Raisa…” Rasanya begitu nikmat,setelah sekian lama tak
pernah mencicipi fast food. Diiringi
dengan cerita Raisa tentang pacarnya dan kehidupan remaja yang tak jauh berbeda
dengan kehidupanku dulu.
“Aduuuhhhh Marcell telpon…” pekikku
panic sambil memperlihatkan LCD ponselku kehadapan Raisa. “Bilang aja mbak
nganterin aku yaakkk…” ia memberiku ide. Aku mengangguk pelan dan segera
mengangkatnya. “Halloooo…..” “Non…kamu dimana?dari tadi aku telpon kamu tapi
nggak diangkat-angkat…” “Hmss..iya,Cell maaf hp-nya ketinggalan di mobil…” “Loohh kamu nyetir sendiri…”Marcell
setengah berteriak. “I..iyaa…” “kan aku udah bilang,jangan nyetir. Aku suruh
kamu naik takxi kan…” “Aduh,Cell…kasian uangnya buat naik takxi,lebih baik naik
mobil kan lebih irit…” “Aduuuhhhh…aku nggak mau terjadi apa-apa sama Mosses
loh,Non” Marcell kembali teriak. “Iyaaa…iyaa,Cell…aku janji akan jagain
Mosses…” aku mencoba meredakan emosinya. “Terus sekarang kamu dimana?” “Di
mall, nemenin Raisa” “Ngapain?Aduuhhhhh Raisa tuch orang lagi hamil malah
diajak-ajakin jalan-jalan ntar kalau kamu kecapekan gimana?Aku nggak ada??Cuma
ada mama aja…terus kalau ada apa-apa gimana??”Ceroscosnya lagi.
“Sayang…Sayang..stoopp dech, nggak usah lebay gitu..aku nggak apa-apa. Aku
bosen dirumah,mana nggak ada kamu. Cuma ada mama aja nggak seru,makanya aku
cari kesenangan sebentar saja…toch juga nggak tiap hari…Cuma ini hari saja. Aku
janji…besok akan pulang on time
kok..” kataku meyakinkan. Emosi Marcell pun mereda,ia menghela nafas panjang.
“Sekarang pulang ya,Non…udah malem. Mama dari tadi telponin kamu tapi nggak
bisa…mama khawatir karena kamu nggak pulang-pulang…” “Iyaa maaf…abis makan aku
pulang kok. Aku janji nggak akan kayak gini lagi saat kamu nggak ada…” “Yaa
bukan maksud aku melarang kamu,Sayang! Tapi ini demi kebaikan kamu.Demi
Mosses,anak kita…” Baru kali ini aku tau Marcell meradang seperti ini.
Setelah menutup telpon,aku segera menghabiskan makananku dan segera pergi
bersama Raisa.
Aku
mengetuk pintu rumah beberapa kali,tak lama kemudian seseorang membukakan pintu
rumahku. “Hai ma…”sapaku ketika mama mertuaku muncul di balik pintu.
“Angel..kok baru pulang sich?Dari mana saja?Mama khawatir loh,mana ponsel kamu
nggak bisa di telpon lagi…” ceroscos mama mertuaku. “Iya ma, maaf tadi lupa
ngabarin kalau aku pulang telat. Tadi nganterin temen, terus hpnya ketinggalan di mobil…” jawabku
pelan dengan nada bersahabat. Justru keakraban seperti ini yang mertuaku
inginkan. Dari awal menikah,ia ingin aku menganggapnya seperti mama ku
sendiri,jadi apa yang aku terapkan pada mamaku, maka perlakuan yang sama lah
yang kuterapkan pada mertuaku.“Ohh gitu, iya mama telpon Marcell tadi
berkali-kali untung dia sudah kelar meetingnya..”
“Iya ma, maaf ya ma. Ehh iya mama udah makan belum?aku beli martabak
ma..dimakan ya..Aku mau mandi dulu…” kataku malas. Setelah menaruh martabak
dalam piring,aku segera kekamarku. Baru jalan segitu aja rasanya lelah banget.
Bahkan kini kepalaku pusing sekali. Aku memaksakan diri untuk mandi dan
berendam sejenak dalam bath up untuk relaksasi. Tapi kian lama pusingku
malah nggak ilang-ilang, dan badanku terasa tidak enak sekali. Setelah mandi
aku rebahan sejenak dan belum sempat bicara pada mama yang lagi nonton tv di
ruang tengah. Sebab badanku semakin lama terasa panas dan pusing yang tak
tertahankan,belum lagi bayiku yang sangat hiperaktif sekali. Aku berusaha untuk
berteriak memanggil mertuaku tapi, ia tak kunjung datang,sedangkan sakit ini
makin menyiksaku,membuat seluruh badanku kaku dan tak bertenaga. Aku mencoba
meraih ponselku yang terletak di meja rias dengan penuh perjuangan aku
meraihnya dan segera menelponnya. “Maaa….”rintihku. Mertuaku tak langsung
menjawab,ia segera mematikan ponselnya. Ku dengar ia lari tergopoh-gopoh menuju
kamarku. “Ngel…kenapa?” Ia terpekik. Aku memandangnya dengan melas dan
penuh kesakitan. “Pusing ma, badanku tiba-tiba aja kaku, perutku sakit sekali
ma…”rengekku. Mertuaku memegangi keningku yang panas,ia juga kelihatan panik.
“Kita kedokter aja ya…” ajaknya. Aku nggak bisa menyahut karena sakit yang
kurasakan sangat dasyat. Aku lemas di atas ranjangku, aku sampai tak
menghiraukan mertuaku. Ia tergopoh-gopoh keluar masuk kamar menelpone ambulan
dan sembari menunggu, ia mengompresku untuk meringankan demamku. Rasa sakit itu
tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan tak dapat dilukiskan oleh apapun
juga. Aku merasakan bayi ku sudah menendang-nendang ingin keluar. Demam dan
pusing yang kurasakan membuat aku kaku dan aku tak sadarkan diri,namun
sayup-sayup mertuaku menepuk-nepuk kedua pipiku agar aku tetap terjaga meski
samar. Akupun berusaha untuk tetap setengah sadar meski aku tak tau apa yang
kurasakan sekarang,bercampur aduk tak karuan. Mertuaku semakin panic,menelpon
suami dan anak perempuannya,untuk membantunya. Ia berteriak-teriak minta tolong
sampai ada beberapa tetangga menerobos rumahku. Sesekali menyebut nama Tuhan.
Dua puluh menit itu berlalu sangat cepat,membuat aku makin tak dapat
bertahan,namun rangsangan untuk tetap terjaga itu tak berhenti,sampai sirine
ambulan yang membengkakan telinga itu datang dan aku tak lagi ingat apa-apa.
Hipertensi menjadi penyebab utama aku melangami pusing dan
demam tinggi,belum lagi karena lelah dan terlalu banyak minum soda yang
sebenarnya tidak boleh dilakukan untuk seorang ibu hamil. Mataku
silau ketika perlahan-lahan kelopak mata terbuka dan tersorot sinar lampu
berwarna putih. Aku melirik sekelilingku,beradaptasi dengan pandanganku dan aku
melihat mama dan papa mertuaku berjaga sambil menonton tv. “Maa…” aku berbisik
lemah. Mertuaku menghampiriku,mengelus keningku. “Semuanya baik-baik saja,Ngel…”katanya
menenangkanku. “Maafin Angel ya ma,udah buat mama dan yang lainnya kerepotan…”
Mertuaku tersenyum kecil. “Tadi Marcell telpon Tanya tentang keadaanmu, dari
semalam ia minta pulang terus,nggak bisa mikir katanya. Tapi mama larang,
karena kamu udah di tangani dokter dan dia terus-terusan menelpon untuk
memastikan kamu dapat perawatan terbaik..”ceritanya. Aku tersenyum getir.
Sekarang aku baru sadar,betapa over
protectivenya itu beralasan. “Minum dulu ya,Ngel…setelah itu baru makan.
Kamu pingsan semalaman,mama sampe ketakutan loh…”katanya lagi. Aku mengangguk
pelan. Ia pun memberiku segelas minum dengan sedotan. Dengan bantuan papa
mertuaku, aku bersender di bed otomatis dan menyantap makanan yang tidak berasa
dan tak enak itu. Kalau saja Marcell disini aku minta ia menganti menu
makananku.
Hari
ini begitu cerah,secerah hatiku sebab hari ini aku pulang,setelah istirahat
tiga hari di rumah sakit. Raisa datang untuk menjemputku,ia bolos dari kantor.
Ia merasa bersalah juga karena ajakannya aku jadi seperti ini. Ia membantuku packing-packing sedangkan mama dan papa
mertuaku sedang mengurus administrasi rumah sakit.
“Sa….Raisaaaa…” aku berteriak dari kamar
mandi. Raisa yang terkejut,segera datang dengan tergopoh-gopoh dan segera
membuka pintu kamar mandi yang memang tak di kunci. “Mbak…kenapa???”ia panik.
Aku histeris karena air ketubanku mengalir deras dan membasahi kakiku. Raisa
kaget dan membantuku keluar dari kamar mandi,menidurkanku dengan hati-hati dan
ia keluar kamar untuk meminta bantuan. Sakit yang dasyat itu datang
lagi,menderaku hingga tak tertahankan. Tak lama kemudian seorang perawat dan
seorang dokter datang. Memeriksaku lalu tersenyum kecil. “Baru bukaan
satu,Bu..kita tunggu sampai bukaan sepuluh ya baru bisa lahir..” kata sang
dokter. Aku memejamkan mata menahan sakit. “Dok, bukaan satu aja udah kayak
gini apalagi bukaan sepuluh dok..bisa mati saya dok…”aku memekik. “Biasa
Bu,namanya juga kelahiran pertama…sekalarang ibu istirahat dulu saja. Atau biar
cepat bukaannya ibu bisa jalan-jalan kecil…”pesannya.
“Nggak dok..ngaak bisa. Berdiri aja susah apalagi jalan-jalan kecil aduuuhhh
dokterrr….”aku berteriak dan memekik tak tahan akan sakitnya. “Baiklah ibu,saya
permisi”pamitnya. Tak lama kemudian mama,papa dan Raisa datang. “Ngel…kamu nggak
apa-apa..”mama mendekatiku. “Aduuhh ma,aku ngak kuat ma..sakiiiittt maaa….” Aku
memekik. Mama mertuaku mengelus keningku. “Sabar ya, inilah perjuangan untuk
menjadi seorang ibu. Kata dokter di depan masih harus nunggu bukaaan sepuluh
baru bisa lahiran…” “Aduuuhhh ma, aku nggak kuat ma…bius aja dech ma…suruh
dokter bius biar nggak rasain sakit..” “Justru nggak boleh di bius kalau dalam
proses ini,Ngel…” “Aduuhh ma,aku bisa
mati ini maa….” Aku terus memekik sambil menangis keras. Hampir
satu hari aku mendera sakit yang teramat sangat, hanya saja sakit itu datang
dan pergi semaunya. Kadang sakit itu tak tertahankan,tapi kadang hilang dengan
sendirinya. Aku menunggu dengan penuh kegelisahan tapi masih saja belum
waktunya. Disaat-saat seperti ini aku butuh Marcell,ia pun gelisah disana dan
memutuskan untuk segera kembali. Aku membelai perut buncitku sambil berdesis.
“Sayang,papa sebentar lagi pulang. Tenang ya sayang..jangan buat mama kesakitan
seperti ini….” Setealh berucap seperti itu,aku berkontraksi lagi. “Maaaa……”aku
menjerit kesakitan. Mama mertuaku yang setia menungguiku di dekatku,tergopoh.
“Iya,Ngel..” “Aduuhh ma, kontraksi ma….panggil dokter aja ma…aku nggak kuat
lagi ma..” teriakku. Mama mencoba menenangkan aku yang mulai bosan sedangkan Papa
mertuaku tergopoh-gopoh keluar memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksaku. Ia tersenyum
kecil, “sudah waktunya…” katanya lagi. Lalu memanggil beberapa perawat untuk
memindahkanku ke ruang operasi untuk melahirkan.Aku masuk keruang operasi dengan di temani mama. Aku mencengkram tangan mama erat-erat sambil menahan sakit. Aku mengambil nafas dalam-dalam seperti yang di instruksikan oleh mama dan perawat.
Sesekali mama mengelap kringat yang mengucur di keningku. Mama membacakan
doa-doa dan tetap memegangi tanganku yang erat itu. Aku berteriak-teriak
menahan sakit. Saat seperti ini bayangan mamaku kerap kali muncul. Aku jadi
merasa berdosa sekali karena pernah melukai hatinya dengan sikap dan
perkataanku. Seperti ini rasanya menjadi mama yang harus berjuang antara hidup
dan mati. Aku berjuang dengan sekuat tenaga sampai aku mendengar suara teriakan
bayi memengkakan telinga. “Selamat Ngel…dia udah lahir” bisik mama dengan
senyum lebar kearahku. Aku tersenyum kecil karena lemas. Sang dokter memberikan
bayi merahku untuk diku dekap sesaat sebelum ia di bersihkan. Ada tradisi
pendekapan anak setelah lahir,agar si anak mengenal siapa ibunya,secara
filosofi. Aku mendekapnya dengan sisa
tenaga yang tersisa. Membisikkan doa dan menyelipkan kaliamat yang akan selalu
ku ingatkan untuknya. “Welcome to the
world, sayang.Tuhan menjagamu,mama Angel dan papa Marcell disampingmu
selalu” bisikku. Setelah itu ke berikan bayiku untuk di bersihkan. Kusuruh mama
untuk melihatnya. Aku tak mau bayiku tertukar dengan bayi lainnya. Mamapun
menyetujuinya. Hal yang paling menyenangkan saat ini adalah memeluk putra pertamaku, Mosses. Aku rela tak tidur meski aku lelah sekali setelah persalinan yang hebat ini. Pukul tiga dini hari,aku masih mendekap putraku. Sambil menunggu Marcell yang kata mama ia sedang dalam perjalanan balik ketika papa mengabarkan bahwa aku melahirkan. “Ngel…Mosses di tidurin di box aja. Biar kamu bisa relax dan istirahat…”mama menyarankanku. “Iya dech ma,minta tolong ya ma…”jawabku sambil menyerahkan bayi mungilku ke pelukan mama. “Kamu nggak makan dulu,Ngel?ato mau papa belikan?” tawar papa. “Hmss..nggak usah dech,ntar aku telpon Marcell aja pa,biar sekalian di belikan dijalan. Papa sama mama istirahat aja ya…” jawabku pelan. Papa dan mama pun menurut, mereka duduk di sofa dan terlelap. Sedangkan aku asyik mengup-load foto-foto bayi kecilku. Lama kelamaan aku lelah juga dan ikut terlelap. Ini adalah pagi pertamaku menjadi seorang mama. Aku duduk dikursi roda dan berjemur bersama Mosses kecil di taman rumah sakit. Sedangkan mama dan papa sedang sarapan di kantin. Sejak semalam mereka belum makan. Marcell pun tak kunjung datang. Aku menghubungi ponsellnya juga tak berhasil. Aku tak tau keberadaannya kini. Ku minta papa untuk menelponnya lagi. Sedangkan mama dan papaku dalam perjalan untuk menjenguk cucu pertamanya.
Mama dan papa mertuaku tergopoh-gopoh
dan segera menghampiriku yang sedang melepas rindu pada orang tua ku yang baru
tiba. Dengan wajah panik,mereka berdua pamit untuk pulang. Saat aku
tegur,mereka hanya mengatakan bahwa putri bungsu mereka sedang kecopetan. Lalu
mereka pun berlalu. Sebelum mereka pergi, mereka sempat berbicara dengan papa
dan mama. Aku tak tau apa yang mereka sembunyikan. Yang membuatku aneh,mama dan
papa ku meninggalkanku sejenak dengan wajah yang memerah.
Sejak hari itu, kedua mertuaku tak lagi
menengokku kerumah sakit. Entah kenapa? Saat ku telpon,mereka tak
mengangkatnya. Yang membuat aku galau,ketika Marcell tak juga datang
menjengukku,menengok anak kami.
Poncellnya tak aktif dan buat aku kian tak tenang. Sudah dua hari,seharusnya ia
sudah pulang. Toch dengan pesawat hanya menghabisakan waktu satu jam. Aku
was-was sekali, namun mama dan papa selalu menenangkanku. Untuk sesaat aku
tenang dan kembali bersama dunia baruku dan Mosses kecilku.
Hari ini aku sudah diijinkan pulang oleh
dokter. Aku bahagia sekali, setelah hampir satu minggu lebih aku di terdekam di
rumah sakit. Sejak aku sakit hipertensi dan dilanjutkan dengan melahirkan. Aku
sudah tak sabar untuk pulang,tapi lagi-lagi Marcell membuat aku geram. Ia tak
datang,aku tak sabar lagi. Kemana sebenarnya dia??? Aku sudah bosan mendengar
jawaban mama dan papa. Aku sudah tak sabar lagi.
“Looohh…kamu kok duduk lagi…ayo pulang…”
ucap papa yang sudah angkat-angkat barang. “Nggak pa,tanpa Marcell aku nggak
mau pulang…”jawabku jutek. “Ngel…nggak usah kayak anak kecil gitu napa..” “No
Pa!! Aku merasa ada sesuatu yang ganjil…sepertinya semua orang sedang
menyembunyikan sesuatu dariku…”aku mulai menyelidik. Mama dan Papa saling
berpandangan, menghela nafas lalu menghampiriku. Mama menggendong Mosses,sedang
papa mengelus punggungku. “Ada apa??” aku makin penasaran. Mereka diam cukup
lama. Sedangkan dadaku sudah bergemuruh hebat. Yang aku bayangkan,setelah ini
mereka akan tertawa dan mengatakan “kena dech..” dan Marcell datang dari balik
pintu dengan membawa bunga. Aku tersenyum kecil dengan anganku sendiri, tapi
setelah sekian menit. Yang kuharapkan tak kunjung muncul. Aku makin gelisah.
Kringat mulai mengucur di ruangan ber-ac ini. Tangan dan kakiku pun ikut
berkeringat. Menjadikan suhu badanku dingin.
“Marcell….kecelakaan pesawat…” ucap papa
tiba-tiba. Aku tersentak dan rasanya tubuhku terkena sabaran petir dan seketika
hancur berkeping-keping. Aku kaku, tak dapat bergerak,bahkan berbicarapun aku
tersendat. Tak ada kekuatan. “Pesawatnya tergelincir dan terbakar…Seluruh penumpang
menjadi korbannya…”papa menambahkan dan membuat aku lemas,terjatuh tak sadarkan
diri.Aku menangis histeris dalam tidurku. Lalu seseorang membangunkan aku,sampai mataku terbuka. Kulihat mama dengan wajah memerah. Kembali aku berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehat. Mama memelukku erat. Aku lemas dalam pelukannya. Meluapkan segala emosi yang tak terungkapkan. Aku gelap,aku kehilangan arah dan aku tak tau harus berbuat apa. Tak ada yang dapat ku pegang,karena semua anggota tubuhku lemas. Aku tak berarti, seperti lembaran kertas yang tinggal menunggu kapan angina membawanya terbang. “Ngel…sadar…Ngel…”aku mendengar mama merintih dalam pelukanku. Aku mendengarnya,namun tak mampu menyahut. Aku merasa bahwa jiwa dan tubuhku terpisah. Aku menangis sesenggukan didalam takxi, aku tak tau harus berbuat apa. Rasa kehilangan itu begitu menyiksaku,menusukku hingga menembus tubuhku. Semua itu tak terungkapkan. AKu hanya bisa meraung dan meratap. Papa memulukku erat,sedangkan mama yang menggendong Mosses ikut melelehkan air mata.
Takxi yang kami naiki berhenti di rumah
mertuaku. Ramai sekali,semua orang menggunakan pakaian berwarna hitam,suasana
haru biru. Papa menuntunku yang lemas berjalan menuju kedalam rumah. Yang
pernah mengukir kebahagiaan disaat aku menikah dan kini,dirumah ini juga
menjadi penutup kebahagiaanku menjadi duka terdalam. Banyak orang melihatku
dengan prihatin, tapi pandanganku kabur,akibat air mata yang tak terbendung.
Sampai didalam aku melihat sebuah peti mati yang terbuka,hanya kain putih
berbordir yang menghiasinya, lengkap dengan sebuah foto Marcell yang sangat
tampan. Aku mencoba berontak dari dekapan papa dan berlari kearah peti
itu,namun kakiku yang lemas tak sanggup melakukannya. Aku jatuh tepat didekat
peti itu,Aku menangis terisak,sesenggukan dan berteriak-teriak tak sadar. Aku
memanggil-manggil namanya,memukul-mukul peti berharap isi dalam peti akan
bangun. Tangisanku membuat semua yang berada dalam ruangan itu menjadi terharu
dan lebih sedih lagi. Mama mertuaku memeluk aku dan kami menangis bersama-sama.
Cukup lama,bahkan teramat lama.
Aku meronta saat papa dan mamaku
melarangku ikut ke pemakaman. Aku histeris dan akhirnya dengan pengawasan
ekstra papa menuntunku masuk ke mobil jenasah bersama kedua mertuaku dan adik
iparku. Aku memeluk peti yang berada dihadapanku,menagis miris dan sesekali
meronta-ronta. Bahkan aku tak sanggup melihat kondisi Marcell yang sudah hangus
terbakar. Hanya satu yang menjadikan aku percaya bahwa itu adalah
Marcell,adalah cincin yang berada dijari manisnya yang terukir namanku.Sedangkan
mamaku mengurus Mosses dirumah. Tiba
di pemakaman,papa tetap memelukku. Sebab aku tak mampu berdiri sendiri. Di
pemakaman sudah ramai kerabat dan teman-teman Marcell dan rekan-rekan kerjaku.
Karangan bunga menghiasi pemakaman ini. Aku berjalan dengan isakan yang tak
terhentikan. Aku tak tau,seperti apa hidupku tanpa Marcell. Rasanya sesak
sekali bagaimana perjuangan itu itu berakhir disini. Aku belum terima dengan
semua ini. Ini seperti mimpi,aku ingin bangun dan melihat wajah ceria Marcell
tersenyum di sampingku. Aku menggigit bibirku agar cepat terbangun,namun sampai
bibirku mengeluarkan darah,aku tetap tak terbangun dan kembali tangisku
meledak, terlebih ketika peti sudah masuk ke liang lahat. Aku makin histeris
dan ingin sekali rasanya loncat dan mengikutinya,namun cengkraman papa terlalu
kuat. Aku menangis di sisi lubang yang sudah mulai ditanam. Mulai menyesali
semua yang terjadi. “Celll….bilang sama aku…aku harus gimana tanpa kamu….” Aku berteriak-teriak
histeris dan sejadi-jadinya,sampai suaraku hilang,serak dan aku tak perdulikan.
Aku biarkan semua yang kumiliki hilang asal Marcell kembali. Aku mencoba
membuat perjanjian dengan Tuhan. Tapi semua itu tak sejalan dengan apa yang aku
mau.
Semuanya tetap sia-sia. Aku tak
terima,dihari kebagiaan Mosses harus dihadiahi meninggalnya Marcell. Untuk apa
ada Mosses, jika aku harus kehilangan Marcell. Aku sakit….dan tak tertahankan
lagi.
Dua tahun berlalu…
“Maamaaaa…..” Jeritan itu membuat aku
binggung mencari-cari asal suara itu di tengah Mall yang megah ini. Aku
binggung dan kelimpungan sendiri. “Mosses….”aku ikutan berteriak sambil
mencari-cari. Tak lama kemudian aku melihat Mosses di gendong seorang pria,setelah
dekat ia turun dan berlari kearahku. Aku berlutut dan memeluknya erat. “Jangan
kabur dari genggaman tangan mama lagi ya…”aku memperingati. Pria yang
mengendong Mosses mendekatiku. “Besok-besok tolong lebih hati-hati ya
bu,mall-nya lagi ramai..” katanya memperingati. AKu melepas pelukan Mosses,lalu
berdiri dan memandangnya. Aku cukup tertegun melihatnya. Pria itu pun sama
sepertiku. “Irfan…”Aku berdesis. “Angel…ini…. Ini anakmu??”ia terbata. Aku
mengangguk pelan.
Pertemuan itu menjadi awal kebahagian
yang telah hilang sejak terkubur bersama Marcell. Irfan yang sudah keluar dari
penjara,membuka usaha toko komputer di Denpasar dan sedang bertemu dengan klien
disini. Ia belum menikah sampai saat ini, masih berharap akan menemukanku tanpa
pendamping. Dan doanya terkabul dihari ini. Ia menemukanku,sebagai single parent beranak satu.
Kemunculan Irfan membuat aku bangkit
dari keterpurukan dan kesedihan,meski sudah dua tahun tapi rasa kehilangan itu
tak pernah hilang. Kerap kali aku menangis seorang diri sambil berbicara dengan
fotonya. Aku selalu berharap ia ada disampingku saat aku membuka mata dipagi
hari,namun semua itu hanya khayalanku saja. Aku berbicara sendiri,tentang
kenakalan-kenakalan Mosses dan tentang tumbuh kembangnya,lalu aku menangis
histeris. Itulah yang buat aku tak bisa move
on. Dengan satangnya Irfan, ia membawa warna baru untukku. Ia menyanyangi
Mosses. Dan aku bisa
melihat Mosses tertawa lepas merasakan kasih sayang seorang papa yang tak
pernah ia dapatkan sejak ia lahir. Proses itu begitu panjang,penuh pertimbangan
dan banyak keraguan yang menimpaku. Tapi akhirnya,Irfan melamarku. Dan semua
orang menyetujuinya,termasuk mertuaku. “Jika kamu bahagia,lakukan itu…” kata
mama mertuaku dengan bijak.
“Ini adalah kekuatan cinta,Ngel. Anugrah
cinta yang tak pernah salah sasaran….”bisik Irfan ditengah pemberkatan
perkawinan kami. Aku tersenyum kecil sambil memandangnya dengan wajah ceria
yang baru ketemukan lagi.
“Terimakasih Tuhan…” hanya itu yang bisa
aku ucapkan. Aku mulai bisa bersyukur setelah melalui masalah-masalah dan
kegentingan yang melanda ku. Ternyata rencana Tuhan lebih indah dari apa yang
ku pikirkan. “Sebab Tuhan memberikan apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan”
SELESAI
Ini
adalah cerita fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama,tempat,tokoh,waktu dan
peristiwa hanyalah kebetulan belaka.
Written
by :
Putu
Dee Saraswati
Misol
23.06.14 3:01pm

.jpg)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar