THE SECOND CHANCE
Aku
berjalan bergegas memasuki lorong-lorong bandar udara Ngurah Rai. Belum banyak
aktifitas,dikarenakan masih terlalu pagi untuk penerbangan pertama. Gemericik
air sisa hujan semalam masih menbuat suasana dingin sampai ketulang. Tiba didepan
pintu penerbangan domestik aku segera memperlihatkan tiketku kepada petugas,
dan aku mulai bernafas agak lega diantara desahan nafas tersengal-sengalku
karena waktu untuk check in masih tersisa sebelum masuk kepesawat. Aku
mengiya-kannya, lalu tersenyum kecil. Aku menoleh kebelakang sambil menanti
Hendy yang membawa koperku. Setelah dekat, ia memberikan koper besarku.
"Hati-hati ya,Ta..aku akan selalu merindukanmu.." bisiknya sambil
memelukku sebelum aku masuk. Aku tersenyum kecil, menahan sedikit kesedihan
akibat perjalanan dinasku ke Surabaya. Setelah ia mencium keningku, aku segera
masuk dan pandangan kami terpisah oleh pintu kaca. Aku segera check in dan
Hendy masih terus memandangiku sampai benar-benar hilang dari pandangannya.
Perjalanan
dinasku ini untuk yang pertama kalinya terlebih untuk waktu yang belum bisa
ditentukan. Perusahaan tempat aku bekerja ini, merupakan perusahaan yang
bergerak dibidang Distributor otomotif mobil dan motor no dua di Indonesia yang
mengambil lisance dari Jerman. Semula planningnya untuk sebulan,menggantikan
posisi finance Untuk sementara di kantor Surabaya yang resign seminggu yang
lalu,Tapi sampai aku berangkat pihak kantor pusat malah mengatakan bahwa
posisiku di Surabaya sampai ada pengganti yang baru. Dan aku tahu persis
mencari kandidat itu nggak gampang, meski banyak lulusan terbaik di kota itu.
Yaaa mau gimana lagi, ini tugas dan aku harus jalani, sedangkan pekerjaanku di
Denpasar harus di handle rekanku yang lain. Karena personil administrasi di
Denpasar ada dua orang jadi masih bisa jalan, nggak seperti di Surabaya yang
hanya sendirian, lumayan keteteran kalau harus menghandle finance, stock dan
penjualan.
Aku
segera beranjak dari dudukku ketika dari pengeras suara diumumkan bahwa,
penumpang tujuan Surabaya diminta untuk segera naik kedalam pesawat. Untuk
menuju kedalam pesawat, aku harus naik suttle bus,karena jarak dari ruang
tunggu menuju ke pesawat agak jauh. Terlebih saat ini, bandara Ngurah Rai
sedang ada renovasi yang membuat semakin luas dan semakin bagus. Suttle bus
berhenti tepat dibawah pesawat, tanpa banyak bicara penumpangnya berhamburan
menuju ke perut pesawat. Sapaan ramah dari sang pramugari dan awak pesawat
lainnya tidak begitu dihiraukan,karena masih sibuk mencari kursi masing-masing.
Aku tersenyum kecil,ketika menemukan kursiku masih kosong dan aku duduk didekat
jendela,sambil merapikan sabuk pengamanku, aku mengabari Hendy bahwa aku udah
duduk manis dan tinggal lepas landas. "Cin..aku berangkat ya..i will
always miss you.."bisikku sebelum menutup ponselku. Lalu tersenyum kecil
sambil melihat landasan yang masih basah. Titik-titik air mata mulai merembet
keluar. Setelah mematikan kedua ponselku, aku memejamkan mataku karena rasa
kantuk akibat bangun terlalu pagi, demi penerbangan pertama ke Surabaya.
Aku dan Hendy punya panggilan sayang yaitu
'Cin dan Ta' kadang kalau aku sebel sama dia, aku suka manggil dia Cina
^_^ Hubungan kami sudah terjalin empat
tahun yang lalu. Saat aku dalam keterpurukan akibat patah hati yang kuderita
dan Hendy datang dengan sejuta cinta. Hendy adalah keturunan Cina-Bali,
tubuhnya proposional, tegap dengan wajah yang baby face, kadang orang ngak
nyangka kalau dia udah berumur hampir kepala tiga. Banyak orang yang memanggil
dia Afgan. Postur tubuhnya dan lesung pipinya juga kacamata tipisnya itu
membuat ia benar-benar mirip dengan si pelantun melankolis itu. Mungkin dia
akan jadi pemenang saat ada kompetisi mirip artis :). Saat ini ia sedang meniti karir sebagai
seorang supevisior koki disebuah hotel bintang empat di bilangan Kuta. Makanya
tubuhku bongsor dan sedikit over weight karena Hendy memberikan aku makanan
kelas atas.
Penerbangan
selama empat puluh lima menit berakhir sudah. Pesawat mendarat dengan tenang di
bandara Juanda. Aku menjadi penumpang terakhir yang turun dari pesawat. Aku
menghirup udara kota Surabaya dalam-dalam. Ada rasa rindu yang mendalam. Sudah
hampir empat tahun lebih,aku tidak menginjakan kakiku di kota ini. Kota
kelahiran mamaku dan tempat aku tumbuh menjadi seorang remaja. Aku segra
melangkahkan kaki untuk segera keluar dan menemui si penjemputku yang tak lain
adalah supir dari kantor. Meski hari ini hari minggu, paling tidak aku bisa
menyiapkan energiku untuk memulai hari baruku esok. Aku celingukan sambil
menelpon si penjemputku yang belum ku temukan. Tapi tak lama kemudian aku
tersenyum saat melihat seorang pria membawa papan nama atas namaku.
"Permisi, dengan Pak Robin ya..?" ucapku setelah dekat dengannya.
"Mbak Saras..??" tanyanya meyakinkan. Aku mengangguk pelan. Iapun
mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya. "Mari mbak,biar saya bantu
bawa kopernya.." katanya sopan sambil mengambil alih koperku. Dan kami
meninggalkan bandara dengan menaiki sebuah mobil daihatsu grand max yang
biasanya untuk mengirim barang, sama halnya di Denpasar.
Mobil
yang dikendarai oleh Pak Robin melaju pelan, menyusuri jalanan ibu kota. Aku
duduk di sebelahnya dan kami tak banya bicara. Hanya sesekali aku menjawab
pertanyaan dari Pak Robin. Tak lama kemudian mobil yang kutumpangi berhenti
disebuah rumah bertingkat. Aku memandangnya dengan agak menyelidik. "Mbak,
ini kos-kosan paling dekat dengan kantor...."katanya yang mencoba menjawab
rasa penasaranku. "Disini lengkap kok,Mbak..semua sudah ada,jadi tinggal
ditempati saja...yaaa kalau dari sini kekantor paling makan waktu dua sampai
tiga puluh menit kok..."terangnya.Aku cuma mengangguk pelan. "Tapi
Mbak tenang aja, saya akan antar dan jemput Mbak Saras kok.." katanya
lagi. Aku tersenyum kecil. "Makasih ya,Pak. Saya jadi merepotkan Bapak.
Saya cukup tiga sampai tujuh hari saja untuk mengenal daerah sini, toch saya
kan orang Surabaya juga,Pak" "Iya, ngak apa-apa kok,Mbak. Sudah tugas
saya. Mari Mbak saya antar ke dalam" katanya sambilnturun dari mobil. Aku
mengikuti Pak Robin yang sudah mendahuluiku masuk kedalam. Aku bertemu dengan
si pengurus kost, dan memberikanku kunci kamar yang berada dilantai dua. Pak
Robin membantuku sampai di depan kamar, kemudian ia pamit. Aku segera masuk dan
mengunci pintu. Melihat sekeliling kamar baruku, fasilits dari kantor. Didepan
pintu masuk, terpasang televisi LCD yang bersebelahan dengan kulkas.Ranjangnya
pun masih berbalut plastik yang berhadapan dengan lemari kayu, yang mana
berdekatan dengan meja tulis lengkap dengan teko electrik dan sepasang gelas.
Sedang di dekat kamar mandi ada sebuah pintu balkon yang bisa melihat jalan
raya. Belum lagi pendingin ruangan yang terletak tepat diats pintu balkon. Aku
menutup pintu dan menyalakan ac agar udara tidak apek. Setelah memasang sprei
beserta guling dan bantalnya yang sudah disediakan di lemari, aku merebahkan
diriku untuk melapas lelah. Meski perjalanan tidak begitu jauh, tapi cukup
menguras energi.
Baru
saja mataku terlelap beberapa menit, ponselku berdering. Rasa pusing mulai
bergelimang dalam kepalaku. Dengan mata setengah terpejam aku merainya dan
segera mengangkatnya. "Saraaaasss....where are you??" teriak seorang
gadis disebrang sana. Aku terkaget dan kini mataku sudah benar-benar melek. Aku
memandang LCD pada layar ponselku dan tertera nama Febry.
"Hms...iya,Feb..aku udah dikost nich. Kostnya disediain dari kantor, ini
baru aja nyampek"jawabku yang masih lemas. "Ya ampun, kenapa ngak
bilang?kan aku bisa jemput kamu di airport.." ceroscosnya. "Ngak
apa-apa kok..toh udah dijemput sama supir kantor, tenang aja.." "Ya
udah kalo gitu, buruan mandi ntar lagiaku jemput ya.." triaknya lagi. Aku
hanya mendahem. "Ras, kak Luna udah dirumah loh..dia kangen banget sama
kamu.."katanya lagi. Aku mulai tersenyum sambil terbahak. "Ntar
malem, kita gila-gilaan lagi yaa..."teriakku. "Ya udah buruan mandi
dan sms alamat kostmu, ntar aku pinjem mobilnya kak Marcell buat jemput
kamu.." "Haaah...siapa?" Aku bertanya lagi,untuk meyakinkan
bahwa nama yang disebut tidak salah kudengar. Karena aku agak sedikit antipati
dengan nama tersebut. Bisa dikatakan trauma masa lalu dan sering beranggapan
bahwa pemilik nama itu memiliki sikap yang sama, meski pada kenyataannya tidak
selalu begitu. Nama Marcell ada banyak sekali dan memiliki sikap dan
kepribadian yang heterogen,hanya saja aku yang terlalu terbawa suasana masa
lalu yang suram. "kak Marcell itu tunangannya kak Luna,kamu belum tau
ya?" Ceroscos Febri. "Belum...lalu gimana kondisi kak
Luna..."aku setengah berbisik. "Baik..semuanya baik, dia udah
sehat,Ras. Sejak operasi transplatasi itu berjalan lancar,dia ngak pernah kumat
lagi. Terlebih sekarang dia udah punya tunangan yang begitu mencintainya. Dan
kabar baik lainnya itu, mereka akan nikah tahun depan.."ceritanya dengan
tawa bahagia. Aku juga ikut tertawa, rasanya senang mendengar kakak sepupuku
akan menikah. "Ya udah..ntar aja lanjutin ceritanya,aku mau mandi dulu.
Buruan jemput ya,aku udah ngak sabar ketemu sama kak Luna..." "Ok,
see you, Ras.."jawab Febry disebrang sana. Setelah menutup ponselku dan
segera mandi.
Aku
segera turun saat Febri menelponku yang mengabarkan bahwa ia sudah di depan
kosku. Aku melihat sebuah mobil avansa biru metallic yang menyilaukan saat
tertimpa panas matahari. Tanpa banyak kata, aku segera naik. Teriakan heboh
dari sepupuku yang satu ini membuat suasana panas jadi adem. “Ras, kayaknya
kamu tambah anggun aja dech..” komentnya saat mobil sudah mulai melaju sambil
melirikku. Aku Cuma tertawa terbahak. “Kalau belum kenal biasanya akan koment
gitu..” ucapku dan masih tertawa. “Oh ya,kapan acara kawainanmu sama si chef
itu?” “Belum tau..yang jelas pasti kak Luna duluan..” “iya tapi kan nggak
mungkin gini-gini aja toh..pasti ada kejelas donk..ayo cerita dulu..kita kan
udah puluhan taun nggak ketemu..”rengeknya. “Lebay dech..sampai puluhan
tahun..”aku ikutan tertawa. “Hendy sich pengennya akhir tahun depan,ya moga
lancar. Dia juga udah ngomong sama mama-papa tentang keseriusannya sama aku.
Sekarang tinggal nabungnya aja..” “Cie..cie..yang mau dilamar…terus..terus..”
“Ya gitu, kita lagi nabung untuk buat rumah. Dibali itu tanah mahal, jadi punya
tanah dua are aja udah untungnya luar biasa…” “Kalau emang mahal,kenapa ga
hijrah aja kesini?kan seru biar kita bisa kumpul-kumpul terus..”celoteh Febri.
“Nggak ahh..justru karena ada kamu makanya aku nggak mau…” candaku. Dan kita
terbahak kembali. “By the way, gimana kuliahmu,Feb?” “Lancar..tahun depan aku
wisuda. Saat ini aku nyambi kerja di kantor telekomunikasi di bagian front
office..” “Terus gebetanmu gimana??” “Gebetanku banyak banget,Ras..”jawabnya
sambil terbahak. Sepupuku Febri ini terkesan sebagai anak yang sedikit tomboy,
bicara apa adanya dan tak mau mengalah pada keadaan,bisa ku bilang dia cewek
yang suka petualangansangat berbeda jauh dengan kakaknya, Luna. Kak Luna
terkesan feminim dan tak banyak bicara. Dan sejenak kami terdiam dalam kemacetan
jalan. “Kabar Kak Luna gimana?”tanyaku memecah kesunyian. “Aku bahagia,Ras. Kak
Luna akhirnya sebuh setelah dapet donor janntung. Keinginan hidupnya itu lebih
kuat saat ketemu sama Kak Marcell..” “Kak Marcell??”aku kembali mengerutkan
dahiku sambil memandanginya. “Iya,Kak Marcell. Mereka bertemu sekitar empat
tahun yang lalu saat Kak Luna sedang ikut seminar. Kak Luna di undang kampusku
sebagai pembicara dan kebetulan juga Kak Marcell jadi pembicara juga. Mereka
saling kenal dan pacaran. Kak Marcell itu benar-benar kayak pelita dalam hidup
Kak Luna yang gelap dan seakan nggak ada harapan. Kak Marcell emang bener-bener
hebat dimataku, dia mati-matian bantuin kak Luna untuk cari donor
jantung,terlebih kak Marcell punya chanell dimana-mana. Dia orang yang
pinter,asyik untuk diajak ngomong dan selalu nyambung dalam konteks apapun
itu.Agamanya juga bagus,aku kagum banget punya kakak ipar kayak dia, Percaya
dech sama aku,kamu pasti akan seneng duduk lama-lama sama dia…”cerita Febri
panjang lebar. Aku jadi penasaran banget sama sosok Marcell yang diceritakan
oleh Febri, meski sebenarnya aku nggak begitu suka dengan siapappun yang
bernama Marcell, mungkin yang satu ini pengecualin.
Mobil
avansa metallic ini berhenti tepat didepan rumah mami babtisku,alias rumah
Febri. Yang mana Mamiku adalah kakak kandung tertua dari mamaku. Tanpa
basa-basi aku segera masuk dan mendapati keluarga sepupuku sedang makan siang.
Satu persatu kupeluk dengan tawa kebahagiaan. Nggak terasa aku udah jadi tante
dan punya tiga keponakan dari dua sepupu laki-lakiku yang notabene adalah
kakak-kakak dari Kak Luna dan Febri. Ku gendong malaikat-malaikat kecilku satu
persatu sambil tertawa terbahak. Ada secuil rasa bahagia meski orang-orang
tercintaku jauh dipulau sebrang sana.
Aku beranjak dari kamar Febri untuk
segera kembali kekost baruku.Aku ketiduran akibat kelelahan dan terus saja
diajak ngobrol sama mami dan yang lainnya. Meski semula mami melarangku dan
menyuruhku untuk menginap tapi aku sebisa mungkin menolak dengan berbagai alas
an.Febri sedang pergi dan tak bisa mengantarku,begitu pula dengan kedua kakak
lelakiku yang sudah pulang kerumah mereka masing-masing. “Ras, kamu tunggu
bentar ya. Mami telepon Luna sama Marcell biar mereka yang anterin kamu…”ucap
mamiku yang tak mau aku pulang sendirian terlebih jam sudah menunjukan pukul
delapan malam. Aku hanya mengangguk pelan dan duduk diruang tamu masih dengan
terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari luar dan derap
langkah kaki orang yang sedang masuk. “Ras, kamu cuci muka dulu dech,itu Luna
sama Marcell udah datang dari gereja jadi biar dia yang tak suruh nganterin
kamu..”ucap mami sambil mengelus rambutku. Aku mengikuti saran mami tanpa
banyak kata karena mataku yang masih mengantuk. Mataku mulai terbuka dengan terang
saat dinginnya air membasuk mukaku. Sisa-sisa hujan bulan November mempengaruhi
air tanah dirumah ini. Samar-samar aku dengar suara mami,kak Luna dan suara
seorang pria yang tak asing bagiku,hanya saja aku masih mengingat-ingat siapa
pemilik suara itu. Dengan penasaran aku kembali keruang tamu untuk menemui
mami. Saat aku tiba diruang tamu,aku agak terkejut saat mami duduk bersama pria
yang taka sing bagiku. “Ras, sini..kenalin ini Marcell. Calon suaminya
Luna…”kata mami mengenalkanku pada calon menantunya itu. Aku terdiam lama dan
masih memandangnya dengan pandangan kosong,kaget dan tak karuan. Begitu pula
dengannya yang jadi salah tingkah. Lalu ia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Aku menyambutnya dengan tangan gemetar dan cepat-cepat menarik tanganku. Aku
binggung,tak tau harus berbuat apa,lalu aku membalikkan badanku untuk kembali
ke kamar Febri. Jantungku berdebar kencang,ada rasa sakit yang menyergapku.
Seakan tak terungkapkan bagaimana sakitnya.Merintih dan menangispun tak cukup
untuk menggambarkan rasa sakit itu. “Raaassss….”kak Luna tiba-tiba masuk
kekamar Febri. Aku binggung dan mencoba untuk tidak memandang kak Luna. “Iya
kak,kenapa?” “Udah ketemu Marcell?” “Udah”jawabku singkat dan masih mengalihkan
pandanganku. “Menurutmu dia gimana?”tanyanya lagi. “Baik”jawabku singkat dang
segera mengambil tasku. Aku ingin cepat-cepat meninggalkan rumah ini dan tak
berharap untuk datang lagi. “Aku mau pulang,kak. Udah malem,besok harus kerja
pagi..”ucapku sambil pergi meninggalkannya dari kamar Febri. Aku meninggalkan
kak Luna sendirian untuk pamit ke mami,kak Luna sedikit merasa tak nyaman atas
perlakuanku tapi aku tak pedulikannya. "Mi..aku pamit mau pulang
ya.."bisikku sambil mencium tangan mami. "Loh Ras,kamu mau
kemana?" mami menanyaiku yang terburu-buru pergi. "Aku mau
pulang,Mi.." "Tunggu sebentar,Ras..biar Marcell dan Luna yang
mengantarmu..." cegah Mami,tapi aku tak perdulikan. Saat ini aku
benar-benar shock,binggung dan tak tau harus berbuat apa. Dadaku sesak ingin sekali aku teriak dan
menangis sekeras-kerasnya tapi aku tak dapat melakukannya disini dan aku harus
bisa menahan sesak hatiku sampai tiba dkosku. Badanku gemetaran menahan gejolak
dari dadaku yang hampir meledak namun aku masih bisa mengendalikannya.
Kak Luna beberapa kali menoleh kearahku yang
duduk dijok belakang,ada kekawatiran yang ia tunjukan. Akhirnya dengan terpaksa
aku menerima tawaran Kak Luna untuk mengantarku pulang karena takxi yang ku
tunggu tak kunjung datang. "Ras...kamu ngak apa-apa?" tanyanya
meyakinkanku. Aku menggeleng dengan wajah pucat. Kak Luna hanya menghela
nafas,kemudian menoleh kearah si pengemudi yang tak lain adalah kekasihnya.
Sempat beberapa kali kekasih kakakku itu melirik aku lewat kaca spion
dalam,tapi aku mengacuhkannya. Saat ini,aku hahya ingin cepat-cepat sampai di
kos dan menangis dengan lega.
"Kak
Luna..makasih ya. Aku masuk dulu" pamitku sebelum menutup pintu mobil.
Tapi sedikitpun aku tidak pamit pada kekasih kak Luna. Aku malas.
"Hati-hati ya, Ras. Kalau ada apa-apa telpon kakak ya..."ucap Kak
Luna yang masih kawatir padaku yang menurutnya aneh. Aku hanya mengangguk pelan
dan segera berlari masuk kedalam kos baruku dengan linangan air mata yang sudah
mendesak-desak sedari tadi. Aku agak berlari menuju ke kamar kostku yang
terletak dilantai dua, suasana agak sedikit ribut dari high heels yang ku
genakan. Aku masuk kekamar dan menjatuhkan badanku diatas kasur spring bed,
menangis sekencang-kencangnya dan menggigit bantal. Linangan air mata pilu itu
begitu dalam hingga aku tertidur dalam keadaan yang masih meratap.
Aku
terbangun karena ketukan pintu yang mendorong mataku untuk terbuka. Aku
mengucek mataku beberapa kali, begitu sembab dan sedikit bengkak. Dengan malas
aku membuka pintu tanpa banyak pikir panjang. Aku melotot saat melihat si tamu
seorang pria yang tak asing berdiri di
hadapan ku. Pintu yang semula ku buka kini ku tutup paksa, namun pria itu
menghalanginya dengan sangat kuat,sampai aku tak bisa lagi menahannya. “Buat
apa kamu datang??” bentakku yang kembali terisak. Pria itu hanya diam dan mulai
masuk.“Ras, aku mohon…”bisiknya.”Sudah,Cell…jangan sampai ada yang melihat kita,terlebih kak Luna ataupun Febri..” “Ras, aku sudah pernah kehilanganmu dan kini aku ngak mau kehilangmu untuk kedua kalinya. Dan aku ngak mau peduli. Aku sudah nekad,Ras. Aku sudah cukup terluka selama ini….” Marcell kemudian menarik tanganku dan memaksaku untuk naik dalam mobilnya. “Kangan Paksa aku,Cell…”bentakku dan kembali turun. Aku sudah terluka dengan sikapnya selama ini,dan tak mau terluka untuk kedua kalinya terlebih kini dihadapanku ada kak Luna yang merupakan rivalku sendiri. “Ras…”Marcell mulai kesal. “Aku tak mau,Cell..aku tak mau menyakiti diriku sendiri dan kak Luna…” “Ok,bila itu maumu, kita akan temui Luna dan bongkar semuanya…Selama ini yang ia tau adalah aku yang mengejarnya,tanpa ia tau bahwa historynya…”ucap Marcell mengancamku. Aku terdiam, menghela nafas panjang. “Ok…antar aku kekantor,Cell..”ucapku lemas. Aku masih mengorbankan perasaanku untuk kak Luna.“Ras…pelankan suaramu…”bisiknya. Aku duduk dipojok ruangan dengan memeluk bantal dan lagi-lagi menangis. Untuk sejenak suasana tenang kembali. “Buat apa kamu datang kesini?kamu sadar ini jam berapa?silahkan kamu pulang karena aku tak kenal kamu dan jangan pernah datang lagi…”usirku dengan agak tinggi. Pria itu memandangku sejenak lalu menghampiriku, dan memelukku. Aku meronta tapi tenaganya lebih kuat. Akhirnya aku pasrah dan terdiam diantara isak tangisku dan ia pun ikut menangis di pundakku. “Maafkan aku,Ras...Aku tau, aku tak pantas untuk dimaafkan…Tapi aku minta dengar dulu penjelasanku ini…”bisiknya. Aku tak menjawab dan masih menangis dalam dekapannya. Setelah puas ia melepas pelukannya dan duduk disampingku. Kami sama-sama diam larut dalam suasana hening, hanya suara cicak yang sedang berkejaran memburu nyamuk. “Kak Luna tau kamu datang kesini” aku membuka pembicaraan. Dia menghela nafas panjang. “Nggak, setelah mengantarnya pulang,aku langsung kesini..aku ingin menyelesaikan masalah kita…”jawabnya pelan. “Dasar pengecut…jika kamu tidak bertemu denganku disini mungkin kamu ngak akan menyelesaikan masalah, begitu????Dasar pecundang…” “Bukan seperti itu..aku ngak sepicik yang kamu pikirkan,Ras..” “Lalu apa?? Kamu tau betapa sakitnya aku sejak kamu pergi…hilang tanpa kabar..kamu piker aku barang yang bisa kamu campakkan begitu saja??aku hampir gila mencarimu kemana-mana. Aku piker, tiga tahun adalah waktu yang cukup banyak untuk mengenal kamu,tapi ternyata tidak. Kamu pergi gitu aja tanpa pesan,tanpa kata-kata putus..aku mencarimu tapi taka da yang tahu. Bahkan keluargamu pun mengatakan hal yang sama. Kejam kamu,Cell…Nyesel aku kenal kamu, nyesel banget aku pernah ngasih cintaku yang besar buat kamu. Ternyata kamu nggak punya tanggung jawab...”makiku sambil menangis tersedu-sedu. “Aku terima,Ras. Apapun yang kamu katakana…” “Kamu memang Pengecut dan sumpah serapahku itu pantas buat kamu..Ngerti…”Aku meninggikan nadaku. Pria benrama Marcell itu hanya memandangku sejenak. “Terusin apa yang jadi uneg-uneg kamu…” katanya lagi yang membuatku makin mendidih. Marcell memelukku lagi dan menghapus sisa-sisa air mataku. “Aku tersiksa,Cell..aku hampir gila untuk mencarimu…Kalau kamu mau menghancurkanku..maka kamu sudah berhasil menyeretku pada lubang kehancuran…”ungkapku yang sudah mulai bisa mengendalikan diriku meski dadaku masih sesak sekali. Meski kebencianku membara tapi aku tetap tak bisa menolak pelukannya. Aku lemah dihadapnya. “Aku shock,Cell..saat aku tau bahwa kamu adalah kekasih kak Luna, anak dari Mami babtisku. Aku ingin teriak, aku ingin memukulmu,ingin membentakmu..permaian apa yang kamu perankan untuk menghancurkan keluargaku..Sesak,Cell…sesak banget di dadaku..aku nyaris pingsan andai aja aku tak bisa mengendalikan diriku…” kataku dengan masih terisak. Marcell masih tetap diam tanpa menjawab ku. Suasana hening kembali,meski begitu aku belum sadar bahwa jam masih menunjukan pukul dua belas malam."Ras...ijinkan aku untuk menjelaskan semuanya..."ucap Marcell setelah lama terdiam. "Jangan harap aku akan mempercayaimu lagi,sudah cukup kamu buat aku hancur dan aku tak akan pernah percaya padamu lagi.."tukasku. "Ini tentang aku dan Luna..."katanya lagi. Aku membuang muka dan lagi-lagi air mata ini berlinang dengan derasnya. Aku menggigit bibirku untuk menahan prih hatiku. Marcell menghela nafas panjang,ia memandangku. Entah ia merasa bersalah,iba atau apapun itu,aku tak lagi memperhatikannya. Buatku,semua sudah berakhir dan ia tak akan bisa memperbaiki lagi,terlebih memata hatiku yang sudah hancur berkeping-keping atas perbuatannya kepadaku. "Ras,aku..." Saatvia mulai bicara,tiba-tiba ponselku berdring. Cepat-cepat aku mengangkatnya dan mencoba menyembunyukan suara serakku. "Ta,udah bobok sayang?"sapa lembut seorang pria disebrang sana. Aku mendahem. "Iya..Cin"jawabku dengan berbisik. Aku tak mau Hendy tau aku menangis,terlebih aku bertemu dengan seorang mantan yang sudah menyakitiku. "Kamu ngak apa-apa,Ta?"tanyanya dengan nada curiga. "Iya...aku ngak apa-apa...hanyabsaja aku belum terbiasa,aku kangen rumah,kangen kamu. Aku jadi pengen pulang..."ceritaku bohong. Dan akhirnya aku tak lagi menahan tangisku ini. "Udah,Ta..jangan nangis lagi ntar aku malah kepikiran sama kamu..jangan buat aku nekad malam ini juga untuk ke surabaya..."candanya. Aku mulai tersenyum. "Ok,gini aja,Ta. Sabtu besok aku akan ambil cuti dua hari buat nemuin kamu di surabaya,gimana?" "Yang bener,Cin?" "Iya..aku serius. sabtu pagi,saat kamu buka pintu kamarmu,kamu akan liat aku didepanmu"janji Hendy. Aku tersenyum lebar. Saat-saat galau dan perih seperti ini aku sangat membutuhkannya. Meski aku tak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya tapi paling tidak berada disampingnya membuat aku merasakan ketenangan. "Makasih ya,Cin..."bisikku. "Iya,Ta. Sekarang kamu bobok ya,udah malam..ini aku juga baru sampai rumah. Sejak sore tadi aku kepikiran kamu terus,Ta. Ternyata firasatku bener,kamu lagi sedih..." "Iya Cin,makasih ya...makasih buat semuanya,untuk cintamu yang begitu besar buat aku. Love you,Ta.."bisikku sebelum mengakhiri pembicaraanku dengan Hendy. Setelah mati,aku menaruh ponselku diatas ranjang. . "Pacar kamu??" tanya Marcell penuh selidik. "Lebih tepatnya malaikat penolong. Dia datang disaat aku jatuh dalam keterpurukan..."jawabku jutek lalu mengacuhkannya lagi. Marcell hanya diam mendengar jawabanku. “Kamu tau,aku mulai membenci long distance direction. Karena apa??Karena kamu yang sudah menghilangkan kepercayaanku pada semua pria…”kataku semakinsinis. “Mungkin kmu aalah pelajaran buatku untuk tidak mudah percaya sepenuhnya pada mulut lelaki, terlebih lelaki yang keberadaanya jauh..aku menyesal,Cell..menyesal sekali pernah mengenalmu selama tiga tahun…” “Aku memang tak pantas untuk dimaafkan,Ras…”bisiknya lagi. “Andaikan kamu tau,Ras..meski begitu,aku tak pernah berhenti untuk mencarimu,disinipun aku terluka. Sungguh,aku tak ingin menyakitimu, tapi wktu itu Luna dalam keadaan kritis…”Marcell mulai bercerita dan tak mengubris kata-kataku. Aku diam, mencoba untuk menahan emosiku dan memberikan ia kesempatan untuk bercerita. Meski aku tak yakin seratus persen benar,sebab aku masih tidak terima. Kenapa harus dengan cara seperti ini?Kenapa harus aku yang menjadi korbannya?Lalu kenapa juga harus Luna??Kenapa..?Dan masih banyak pertanyaan kenapa yang ingin aku lontarkan pada Marcell. “Aku bertemu dengan Luna disebuah seminar, aku tak pernah mengenlnya sebelumnya, sampai suatu ketika Febri mendatangiku. Dia bercerita tentang keadaan Luna yang waktu itu sedang di Rumah Sakit. Febri mengatakan bahwa Luna menyukaiku,dan Febri memintaku untuk menjadi kekasih untuk Luna. Aku sudah berkali-kali menegaskan bahwa aku sudah memiliki calon istri,yaitu kamu,Ras. Tapi Febri nekad dan menemui orang tuaku danmemohonnya untuk Luna….Entah ini suatu kebetulan atau apapun itu, tapi ini terjadi. Ayah Febri, Papi Babtismu adalah teman semasa SMA Papaku. Mereka pun turut menekanku untuk menjalin hubungan dengan Luna. Terlebih saat itu Luna masih dirumah sakit.Aku tak dapat berbuat apa-apa,Ras. Dadaku rasanya mulai retak dengan perlahan-lahan karena harus meninggalkan orang yang aku cintai,yaitu kamu,Ras. Kamu tau,aku tak mungkin melawan kehendak Papa dan Mamaku, mereka sudah tua dan selalu menuntutku untuk menikahimu,tapi saat itu aku masih memikirkan kuliahmu,masa depanmu,maka dari itu aku menunda untuk sementara waktu. Tapi dengan kejadian ini aku makin terjepit. Aku binggung dan tak tau harus berbuat apa? Jika aku menemuimu dan memutuskan hubungan kita,aku tak sanggup melihatmu menangis,terluka dan itu sama saja mengiris hatiku sendiri. Pada akhirnya kuputuskan untuk pergi tanpa jejak. Dengan harapan kamu akan membenciku dan semakin cepat melupakanku. Sebenarnya akulah korban dari kedilematisan ini…sedikitpun aku tak pernah mencintai Luna,meski sudah empat tahun aku bersamanya. Menciumnya saja aku tak pernah. Aku selalu terbayang-bayang dirimu,Ras. Aku selalu menunda ajakan pernikahannya,aku belum rela Ras. Selama ini aku masih berharap bisa bertemu denganmu, dan pergi meninggalkan Luna,meninggalkan kota ini dan mulai siap meninggalkan kedua orang tuaku. Perih,Ras...Tapi tak seorang pun yang tau tentang itu. Beberapa kali aku ke Bali untuk mencarimu, tapi aku tak menemuknmu. Hingga tadi sore…aku melihatmu lagi setelah empat tahun aku pergi meninggalkanmu. Tak pernah terfikir sedikitpun olehku,bahwa kamu dan Luna adalah saudara sepupu….”Cerita Marcell panjang lebar dengan wajah yang sedih. Dia memandangku,lalu menggengam tanganku. Aku terdiam,dan mulai berfikir tentang semua cerita Marcell. Tiba-tiba Migran menyerangku,mungkin akibat aku berfikir terlalu keras tentang kebenaran ceritanya. Seperti sebuah sinetron tapi inilah kenyataan yang menyakitkan antara aku,Marcell dan kak Luna. Aku keluar dari kamar kosku dan duduk di teras luar untuk menanti kedatangan Pak Robin yang akan mengantar-jemputku sampai beberapa hari kedepan hingga aku hafal jalan untuk ke kantor. Suara klakson didepan membuatku beranjak dari dudukku untuk menghampiri Pak Robin yang sudah menungguku didepan. Saat aku tiba digerbang,aku agak sedikit kaget, sebab yang menjemputku bukanlah Pak Robin yang kuharapkan,tapi mobil Marcell. “Pagi,Ras…”sapaan itu begitu hangat terdengar saat Marcell keluar mobil dan mendekatiku. Aku tersenyum kaku. “Ayo masuk,Ras. Aku akan mengantar-jemputmu setiap hari selama kamu disini..”katanya dengan senyum yang merekah sambil membukakan pintu mobil. “Nggak,Cell..lebih baik aku menunggu jemputan yang memang seharusnya menjemputaku…”jawaku tegas. Senyum Marcell mulai memudar lalu mengengam tanganku.
Hari
pertama dikantor cabang Surabaya benar-benar membuatku sibuk,dengan segala
penyesuian yang ada. Dan pikiranku menjadi terpecah-belah dengan datangnya
Marcell dan segala penjelasnya. Meski kebencianku lebih besar,tapi datangnya
dia dengan segala kisahnya itu aku mulai percaya bahwa yang ia katakan adalah
benar. Ada setitik rasa iba dan getaran yang entah dari mana datangnya. Rasa
rinduku yang sempat terkubur, kini mulai longsor dan ingin melampiaskan pada
sosok yang kini ada dihadapanku.
Aku
keluar dari kantor tepat jam enam sore, bersamaan dengan rekan-rekan baruku di
kantor cabang Surabaya. Saat melihat keluar gerbang, kudapati mobil Marcell
sudah terparkir rapi. Ia melihatku dan tersenyum ramah, aku membalasnya dan
segera masuk kedalam mobilnya tanpa di komandoi lagi dan tanpa adanya pemaksaan
seperti tadi pagi. “Udah lama nunggunya?” tanyaku saat aku baru duduk. “Sepuluh
menit”jawabnya singkat dan mulai menjalankan mobilnya. “Gimana kerjaanya??”
tanyanya membuka pembicaraan. “Lumayan…hanya perlu membiasakan diri saja dengan
lingkungan sekitar. Untuk kerjaannya kan sama saja seperti di Denpasar…Kalau
kamu sendiri gimana??” “Yaa bisa
dikatakan sedikit padat untuk pembuatan laporan dan administrasi, sedangkan
untuk kegiataan lapangan masih belum terlalu,kalaupun ada juga ngak begitu
padat.Jadi bisa dikatakan masih bisa teratasi dengan waktu delapan jam.
Artinya,aku masih punya banyak waktu untuk kita…”jawabnya santai sambil
tersenyum,namun pandanganya tetap kedepan dan berkosentrasi pada menyetirnya.Aku tersenyum kaku, memandangnya sejenak lalu
mengalihkan pandanganku. “Kita mampir buat makan dulu ya,Ras..baru setelah itu
aku mengantarmu pulang…” ajaknya. Aku hanya mendahem tanpa menolak sedikitpun.
Dan sejujurnya akupun tak dapat menolak semuanya,kedatangan Marcell
kembali,ungkapan permintaan maafnya yang tak dapat ku hindari dan banyak hal
yang merubah posisi hatiku. Aku mulai dilematis dengan keadaan ini. Satu sisi
aku tak mau menerima kedatanganya lagi,tapi entah kenapa hati melonjak
kegirangan saat ia datang. Aku ngak mau menjadi gadis munafik, aku masih saying
sama Marcell. Seakan ingin mengalahkan semuanya, cintaku yang belum usai dan
terpendam untuknya ingin kulanjutkan. Namun saat keegoisan itu
muncul,terbayang-bayang dua sosok yang sudah ku korbankan. Kak Luna dan Hendy.
Akan tetapi saat ini dan detik ini juga ke egoisanku lebih besar dan
baying-bayang kedua orang itupun pergi dan lenyap seketika terbawa angin.
Marcell
mengandeng tanganku,ketika kami baru keluar dari mobil. AKu hanya memandang
Marcell dengan seulas senyuman,begitu pula dengannya yang tersenyum lebar. Ia
mengajakku kesebuah resto yang
menyajikan iga bakar. “Ras…aku ngak akan pernah lupa makanan kesukaanmu..”bisik
Marcell saat kami mulai memasuki resto dan dia memeluk pinggangku. Aku
tersenyum kecil da nada rasa bahagia yang tak dapat ku ungkapkan. Masa-masa
yang ku piker tak pernah aka nada lagi dan terkubur dalam-dalam,kini malah
terulanng lagi. Namun sayang dengan status yang tidak sama lagi seperti dulu.
Meski perih,tapi aku menekmatinya meski hanya untuk sesaat saja.
Aku
duduk berhadapan dengan Marcell, agak sedikit canggung tapi Marcell tetap bisa
membuat suasana menjadi lebih baik. Ia menggengam tanganku,memandangku dan
ngutarakan banyak cerita yang akhirnya bisa membuatku tersenyum dan tertawa
lebar. Detik-demi detik berlalu, penggunjungpun kian banyak seiring dengan
malam yang mulai merayap perlahan. Kami masih asyik bercerita sembari menanti
pesanan untuk kami makan. Disaat yang bersamaan pun,live music yang disediakan
diresto ini mulai berkumandang lagu-lagu melankolis yang membuat suasana kian
romantis. Salah satunya lagu yang menjadi kisah sedih antara kami ‘Mendendam’ “Mungkinkah
kembali,segala rasa yang telah hilang walau hati kecilku masih mencintaimu. Tak
ingin ku bertahan,meski kadang mendendam… akankah kau bahagia bila cinta tak
ada..untuk dirimu lagi…” aku mulai mengikuti lirik lagu si penyanyi
meski aku merubah sedikt liriknya, sambil
memandang wajahnya. Marcell hanya
memandangku lekat-lekat tanpa ekspresi, sedangkan aku mulai memalingkan wajahku
dari pandangan matanya itu.
Marcell
mengantarku pulang kembali ke kos-kosanku tepat pukul sepuluh malam.
“Thank
You,Cell…”bisikku sebelum aku keluar
dari mobilnya. Marcell hanya tersenyum kecil. “Ok, sampai ketemu
besok…”balasnya. Aku pun segera turun dan tanpa menoleh lagi ke arahnya. Aku
segera masuk kekamar dan merebahkan badanku diatas ranjang. Aku lelah,tapi
lelah itu terbayarkan oleh datangnya Marcell. Hanya saja kegalauanku tak pernah
berhenti. Aku mencoba tenang, menarik nafas panjang dan mulai berfikir jernih
dengan sebuah komitment untuk tak mengecewakan Hendy dan tetap teguh pada
kesetiaan Hendy. Tapi susah untukku melakukan itu, tapi dengan begini aku malah
menimbulkan masalah baru yang seharusnya taka da masalah. Aku pusing dengan
kedilemaanku ini yang akhirnya menjatuhkanu pada lubang kehancuranku sendiri.
Aku yang tak pernah rela ditinggalkan oleh Marcell begitu saja, kini malah
harus menerima kenyataan bahwa calon kakak iparku adalah mantan kekasihku
sendiri. Rasanya hatiku teriris-iris dan tak tau harus bagaimana lagi bersikap.
“Morning,Ras…”sapaan itu mengagetkanku ketika
aku membuka pintu kamarku. “Mor..morning,Cell….”jawabku dengan gelagepan. “Ada
apa pagi-pagi udah datang?” “Aku pengen
ngajak kamu jalan-jalan aja..”jawabnya singkat. “Ini kan hari sabtu,kamu dan
aku sama-sama libur jadi tidak ada alasan kamu untuk nolak aku kan?”katanya
santai sambil masuk kedalam kamarku. “Iya sich,tapi seharusnya kamu pergi
dengan kak Luna dan bukan aku, kata kak Luna kalian akan pergi ke Malang hari
ini..selain itu aku akan pergi ke airport…Hendy datang dan aku ingin
menjemputnya…” “Ohh begitu…oke..aku akan
segera pergi dan menikmati hari liburku dengan Luna. Baiklah aku akan pergi dan
selamat bersenang-senang,Ras…”jawabnya lesu dan segera meninggalkan kamarku
tanpa pamit lagi. Aku sedikit menyesal sudah mengatakan hal itu,tapi aku memang
harus tegas dan tak boleh terus berharap pada sebuah kemustahilan. Sesaat
setelah ia pergi, aku segera meninggalkan kamarku dan bergegas menjemput Hendy.
“Cepat
masuk…!!!aku akan mengantarmu ke airport…”teriak Marcell dari dalam mobil. Aku
tak menolak dan mengikuti perintahnya. Aku duduk disampingnya dan hanya
memandangnya yang sedang merokok dengan wajah yang bête. “Sejak kapan kamu
ngerokok,Cell???”aku mulai berkomentar. “Sejak bertemu Luna. Hanya ini
satu-satunya cara agar aku bisa menepis rasa rinduku buat kamu…”jawabnya acuh.
Aku diam dan rasanya aku ingin sekali menangis tapi ngak tau harus menangis
buat siapa? Cerita-cerita dalam kisah fiktif itu terjadi padaku dan tak dapat
ku hindarkan lagi. Aku menggigit bibirku dan linangan air mata mulai mencair
dihadapnnya. Marcell meraih tanganku dan memelukku. “Ras…aku tak ingin seperti
ini lagi…aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Pergi dari sini dan melupakan
semuanya…Aku ngak bisa Ras…ngak bisa lagi hidup tanpa kamu…Tuhan ngasih kita
kesempatan untuk bertemu,artinya Tuhan memberikan kita kesempatan kedua untuk
kembali seperti dulu…” bisiknya sambil memelukku dengan erat. Tapi tetap saja
aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku makin terpojokkan dengan keadaan seperti
ini. “Maaf,Cell…aku tak tau harus berbuat
apa…aku binggung…” “Bilang sama aku,Ras..Kalau kamu masih mencintai aku..bilang
yang jujur,Ras…” “Aku ngak
tau,Cell..ngak tau..aku binggung harus jawab apa??” “Kenapa harus
binggung,Ras?” “Katakan apa yang ada didalam hatimu..katakan saja….”Marcell memaksaku.
Dan aku hanya bisa diam diantara isak tangisku. Kalau aku jawab yang
sebenarnya,aku akan menyakiti banyak orang dan semua akan hancur. Jika aku
mengatakan tidak,artinya aku sudah harus siap kehilangannya dan harus menangung
perih ini untuk selamanya, melihatnya menjadi kakak iparku sendiri. “Jangan paksa aku,Cell. Karena aku ngak bisa
menjawab…”bentakku. “Ok,kalau kamu ngak bisa jawab..sekarang kita temui Luna
dan katakana semuanya..Aku sudah muak dengan semua ini..”ancam Marcell. Aku
memegang lenganya dan menariknya agar ia tak melakukan hal senekad itu.
“Cell…kalau kamu melakukan hal itu kamu sama saja membunuh kak Luna dan tambah
melukai aku..Aku dan kak Luna adalah saudara sepupu,apa kamu mau
memporakpondakan hubungan keluarga kami?Kamu tak memikirkan bagaimana perasaan
kak Luna,Mami dan keluargaku yang lain juga Hendy…kamu sama saja membunuh aku
secara perlahan-lahan,tau kamu…” aku membentaknya lagi dan segera keluar dari
mobilnya. Aku makin perih dengan kondisi seperti ini dan pergi untuk mencari
takxi. Tak ku hiraukan lagi teriakan Marcell yang memanggil namaku.
Aku akhirnya bertemu dengan Hendy dan sedikit
melupakan Marcell dengan mencoba bersenang-senang dengan kekasihku. Dihadapan
Hendy, aku mencoba untuk tersenyum tapi hatiku tak ada disini. Pikiranku
melayang-layang tak tentu arah. Sampai Hendy pulang kembali ke Bali, dua hari
itu aku habiskan dengan pikiran yang kalut.
Aku ngak tau akan sampai kapan ini menyiksa. Aku bahkan segera mengambil
keputusan dan mengajukan kepada atasanku di Jakarta untuk pulang kembali ke
Denpasar. Mungkin dengan berjauhan dengan Marcell akan membuatku lebih
baik,tapi permohonanku ditolak. Karena aku baru satu minggu di Surabaya.
Artinya masih ada tiga minggu lagi yang harus aku lalui. Jujur aku tersiksa dengan
keadaan ini. Andai saja kekasih Marcell bukanlah kak Luna, mungkin itu akan
lebih baik. Tapi kenyataanya toch tidak begitu, semakin dekat dengannya, aku
makin merindukannya. Makin bergantung padanya dan makin tak bisa lagi
melupakanya. Ini yang membuatku makin dilemma. Marcell pasti memilih aku, tapi
tidakkah aku melihat kak Luna dan Hendy. Melihat keluarga mami yang akhirnya
memandangku rendah meski tak tau cerita yang sebenarnya belum lagi dengan orang
tua Marcell yang tak begitu menyukaiku, Dan kejengkelan keluargaku dan keluarga
Hendy. Terlebih keluargaku dan keluarga Hendy sudah sangat akrab. Relakah aku
bila harus menghancurkan kepercayaan mereka? Aku menangis disudut kamar,
menggigit bibir menahan perih hatiku dan tak tau harus berbuat apa. Sebenarnya
ini sangatlah sepele dan tidak ada masalah. Akan tetapi yang membuatku menjadi
masalah adalah….masalah hati dan cinta yang belum terselesaikan.
Aku
membuka pintu kamarku dengan malas saat pintunya digedor-gedor beberapa kali.
“Kak Luna….” Bisikku kaget ketika pintu terbuka, kak Luna tersenyum lebar.
“Hallo sayang…hari ini ada acara ngak?” Tanya kak Luna to the point. Aku
menggeleng pelan dengan expresi panik. “Kenapa kaget kayak gitu,Ras?” tanyanya
sambil masuk kedalam kamarku. “Ngak..ngak ada apa-apa kok kak…”jawabku gugup.
Lalu mempersilahkannya masuk dan ia duduk didekat ranjangku. “Ada apa,Kak??”
tanyaku penasaran sambil duduk disampingnya. “Kamu hari ini libur kan??aku mau
mengajakmu jalan-jalan…dari pada boring di rumah sendirian..”jawabnya riang. Aku
menghela nafas panjang sambil tersenyum kecil. “Kita berdua aja??” “Ngak..sama
Marcell dan Febri juga Moses…” jawab kak Luna dengan senyum lebar.
“Ohhhh…”bisikku pelan. “Ok..tunggu sebentar ya,kak..”jawabku pelan sambil masuk
ke kamar mandi untuk menganti bajuku. Jujur,aku ingin menolaknya terlebih bila
pergi bersama Marcell yang membuat ku tak dapat berbuat apa-apa, tapi setiap
melihat mimik muka kak Luna membuatku tak kuasa untuk menolaknya.
Aku digandeng kak Luna dengan erat saat
keluar dari kost menuju ke mobil Marcell. “Hallo semua..”sapaku kikuk. “Hai
Ras…”sapa Febri ramah, aku hanya tersenyum kecil dan duduk didekat Moses, putra dari mas Frans
yang masih berusia tiga tahun.Kakak kedua kak Luna. Sedang Marcell tidak
menjawab sapaanku hanya diam dan melirikku dari kaca spion dalam. Tanpa senyum.
Aku paham,dia bersikap seperti itu karena ada perasaan kesal pada keadaan. Tapi
untuk apa kesal dan mengutuki keadaan? Walau aku tersiksa toch juga tak dapat
mengubah keadaan.
Kami
pergi ke Tunjungan Plasa (TP). Jalan bersama-sama memasuki satu toko ke toko
yang lain.Hanya sekedar melihat-lihat dan sesekali kak Luna mengandengku dan
meminta pendapatku tentang barang yang ia suka.Terkadang aku sengaja
mengalihkan keadaan dengan mengendong Moses, sedangkan Febri sibuk dengan
handphonenya, begitu pula dengan Marcell dan kak Luna yang berjalan beriringan
terus.
Aku
perih melihat memandangan seperti itu, ingin menangis tapi apa alasanku
menangis?? Aku hanya bisa memeluk Moses erat. “Kak…aku dan Moses ke timezone aja
ya…”pamitku pada kak Luna karena sudah ngak bisa lagi menahan perasaanku.
Mereka mengiyakan, aku berjalan pelan menuju timezone hanya untuk membahagiakan
hatiku. Aku mengajak Moses bermain di dunia bola. Sambil ia bermain, aku pun
ikut melempar-lempar bola kearahnya sampai aku terjatuh karena sebuah bola
besar yang dilempar kearahku. Moses hanya tertawa melihatku yang meringis dan
menutup kedua pipiku yang terkena lemparan bolanya. Tiba-tiba,sebuah tangan
membantuku berdiri. Aku melihatnya dan terbengong. “Cell…”bisikku. Marcell
tersenyum dan membantuku berdiri. “Ayooo kita maen lagi…”ucapnya sambil
melempar-lempar bola kecil kearah Moses yang membuatnya tertawa cekikian.
Setelah puas, Marcell mengajaku untuk bermain boom-boom car. Aku duduk bersama
Moses dan Marcell sendirian. Moses
tertawa terbahak-bahak saat beberapa kali Marcell menabrak mobil kami. Aku bahagia sekali meski
hanya sesaat. Aku mulai membayangkan, seandainya aku bersama Marcell dan
memiliki seorang putra mungkin akan sebahagia ini. Setelah turun dari boom-boom
car Marcell membantuku turun dan menggendong Moses yang kegirangan. Marcell
memeluk pinggangku dan mengajakku ke café ice cream. “Aku senang melihatmu
tertawa…”bisik Marcell. Aku tertawa semakin
lebar dan memeluk tangan Marcell. Aku hanya mengumbar senyum tanpa
menjawab apa-apa. Meski dalam hati aku bahagia sekali dan tak ingin kejadian
ini berlalu. Marcell memelukku lebih erat dan tiba-tiba ia mencium keningku.
Aku sedikit terkejut dengan aksinya tapi aku bahagia meski ada rasa cemas dan
takut bila tiba-tiba kak Luna datang dan memergoki kami. Entah apa yang terjadi
nanti…
Marcell
mengangkat handphonenya,berkata sedikit dan segera menutupnya kembali. “Kita ke
lantai 5,mereka udah nunggu buat lunch di pizza…”ucapnya pelan. Dia menggandengku
untuk segera meninggalkan café ice cream meski kami belum sempat untuk memesan
apapun.
Kami mulai dekat dengan restoran
ala Italy siap saji,aku sengaja berjalan lebih pelan dan membelakangi Marcell
sqmbil menunduk saat melihat kak Luna dan Febri yang memperhatikan gerak-gerik
kami dari kejauhan. Aku tak ingin menyakiti siapa pun,meski aku sadar
perbuatanku ini salah dan tak seharusnya aku lakukan. "Hallo
sayang..gimana mainnya?puas?main apa aja tadi sama Tante Saras dan Papi?"
Tanya kak Luna pada Moses yang turun dari gendongan Marcell. "Iya
mami...puas..seneng banget..tadi tante Salas sama papi maen mobil-mobilan telus
papi nablak-nablak mobil aku sama tante Salas..."cerita Moses dengan
lucunya yang membuat kak Luna dan Febri gemas. "Terus ngapain lagi?masak
cuma main mobil-mobilan aja?" "Maen lumah bola..aku lempal bola ke
tante Salas..telus tante Salas nangis telus tante Salas di tolong papi"
ceritanya sambil ikutan tertawa, begitu pula dengan kami yang terbahak-bahak
mendengarnya. "Aku menutup pipiku waktu Moses melempar bola yang gede
sampe aku terjatuh.."aku mencoba menjelaskan. "Gimana tadi waktu
tante Saras nangis,sayang?" "Huuuuuhuuuuuhuuuu.....gitu
mami"jawab Moses meniru gayaku dengan berpura-pura menangis sambil
memegangi pipinya yang juga tembem itu. Suasana makin ramai dibuatnya. Hanya
Marcell saja yang tak begitu tertarik,ia hanya tersenyum kecil,itupun terpaksa.
"Ya udah kalau gitu,Moses mau maem apa sekarang?"tawar Febri.
"Mau es kliiimm..tadi mau di beliin es klim sama papi,tapi ngak jadi. Papi
cepet-cepet pelgi gendong aku sama gangeng tante Salas..."jawab Moses
dengan polosnya. Deg...aku dan Marcell saling berpandangan. "Hms...waktu
itu aku kesandung kak, terus kak Marcell menolongku.."aku cepat-cepat
menjelaskan. Kak Luna hanya tersenyum kecil. "Ya udah Moses pesen es cream
apa? Biar tante yang pesenin..."aku mulai mengalihkan pembicaraan.
"Iya...makasi tante.."jawabnya girang. Dan cepat-cepat aku memanggil
seorang waitres untuk memesan es cream Moses dan yang lain tak membahas itu
lagi. "Ayooo kita makan...tuch pizzanya udah dingin..." ucap Marcell
yang dari tadi diam. Aku mengerti maksudnya,agar kak Luna dan Febri tak ingat
lagi ucapan Moses. Aku hanya menghela nafas panjang. Mungkin ini terakhir
kalinya aku untuk ikut jalan-jalan bareng. Aku tak mau lagi ikut acara-acara
seperti ini. Terlebih ada Marcell,lebih baik aku tak ikut. Perkataan Moses
cukup membuat aku sedikit shock. Anak kecil tak bisa berbohong, dan ia bisa
mengatakan apa yang dilihatnya.
“Cell..sepertinya kita lebih baik ngak usah
dulu ketemuan dech..Aku ngak mau kalau hadirnya aku malah akan menyakiti banyak
pihak”kataku membuka pembicaraan ketika kami baru duduk di sebuah restoran siap
saji untuk dinner. Marcell menatap aku lekat-lekat namun aku menunduk dan tak mau
menatapnya,takut air mataku akan jatuh dan aku tak mau ia melihatku menangis.
“Aku baru mau ketemu kamu saat kamu sudah resmi menikah dengan kak Luna”kataku
dengan senyum yang dipaksa. “Dengan begitu aku punya keyakinan bahwa pintu
sudah tertutup rapat untuk kita berdua. Rasanya lebih baik daripada harus
seperti ini,kamu sama saja memberi harapan palsu..”tambahku lagi.
“Cukup..Ras!!aku ngak mau membahas soal ini untuk sekarang..”Marcell memotong
pembicaraanku. “Mau ngak mau kita tetap harus membahasnya.Aku ngak mau seperti
ini terus,kucing-kucinga dan merasa bersalah..Asal kamu tau,tiap saat aku
selalu takut untuk membawa handphoneku. Takut ada telpone atau sms masuk dari
kak Luna..”bentakku. “Kamu udah benar-benar ngak mau berjuang,Ras?Apa ngak ada
kesempatan kedua buat hubungan kita,Ras?” “Bukan masalah mau atau tidaknya
berjuang,Cell…tapi semuanya udah percuma. Toch semuanya udah terlanjur
terjadi…apa itu semua salahku? Kamu pergi begitu saja,apa itu salahku?Dan
sekarang kamu mau menikah dengan kak Luna,apa itu salahku? Kamu menuruti
kehendak orang tuamu, apa itu juga salahku? Pikir baik-baik,Cell!! Yang merasa
bersalah itu kamu dan bukan aku!!! Karena rasa bersalahmulah yang nantinya akan
membuat keadaan makin porak poranda..”jawabku ketus dan segera peranjak pergi
meninggalkan Marcell mengejarku,kemudian menarikku dan memelukku. Aku mencoba
memberontak tapi ia lebih kuat menahanku. Akhirnya aku pasrah dan menangis
didadanya. Aku ngak perduli lagi dengan pandangan orang yang lalu lalang
disekitar kami.
“Ras…”Marcell menggengam tanganku saat mobil
yang ia kendarai sudah berhenti didepan kosku. Aku diam tak menyauti. “Maaf
kalau aku selalu membuatmu menangis…Aku sebenarnya juga tak mau seperti ini.
Aku ingin memilihmu dan kita pergi jauh…” “Tapi itu tak akan mungkin
terjadi,Cell…”jawabku pelan. “Iya…Ini semua salahku,Ras..Maafkan
aku..”bisiknya. “Sudahlah,Cell…toch kita tak akan bisa kembali kemasa lalu. Aku
mohon,Cell untuk saat ini jangan jemput aku dulu. Aku ingin berfikir..aku sudah
memaafkanmu…”jawabku tanpa expresi. “Mau aku antar ke kamar?”tawarnya. “Ngak
usah,makasih.Aku bisa sendiri. Tolong perhatikan kak Luna,akhir-akhir ini dia
merasa aneh karena kamu jarang menjemputnya,jangan buat dia khawatir,Cell.
Cintanya buat kamu lebih besar dari pada cintaku padamu…Aku
menyerah,Cell”ucapku pelan,lalu turun dari mobil Marcell dan tak menoleh lagi
kearahnya. Aku menghela nafas panjang dan titik-titik air mataku mengalir.
Rasanya sama seperti waktu itu Marcell pergi meninggalkanku. Perih dan tak
mampu untuk berteriak.
Aku
meyakinkan hatiku bahwa jodohku adalah Hendy dan bukan Marcell. Sudah beberapa
hari ini aku masih perih dan masih malas untuk menghubungi Hendy,aku selalu
beralasan sibuk bila ia tiba-tiba menelponku. Kini sudah saatnya aku
memperhatikan Hendy,mungkin lebih tepatnya mengalihkan perasaanku yang tak
tersampaikan pada Marcell ke Hendy. Terkesan jahat, tapi aku tetap tak dapat
membohongi perasaanku pada Marcell. Meski tak ada lagi kesempatan kedua untuk
kami bersatu. Aku mulai merelakan Marcell dan kak Luna walau perih.
“Hallo
Ras…Ras… Luna masuk rumah sakit lagi…”ucap mami panic dari sebrang.
“Haaaa…kenpa lagi kak Luna,mi?” “Jantungnya kumat lagi,Ras…pulang kerja kamu
bisa datang kesini kan?” “Ahhhh…i…iy…iyaaa.mi…”aku tergagap dan ketakutan.
“Ras,nanti mam isms alamat rumah sakitnya ya,sekarang Luna masih di UGD,mami
takut,Ras…”ucap mami sedih dan sedikit serak. “Aku akan doain yang terbaik buat
kak Luna,Mi…nanti aku kesana ya…” “Mami tunggu ya,Ras..”katanya sebelum menutup
telponenya. Aku terdiam setelah menutup handphoneku. Dadaku begdegup lebih
kencang,ada perasaan takut dan campur aduk rasanya. Aku mengambil phonecellku
dan menelpon Marcell. “Cell,kak Luna…masuk UGD..”kataku lemas. “Iya,mamanya
baru saja mengkabariku. “Aku sedang perjalanan kesana…”jawabnya datar.
“Cell,aku takut sesuatu terjadi pada kak Luna…” “Ngak ada yang terjadi,Ras.
Kamu tenang aja…” “Tapi,Cell…” “Sudahlah,sekarang kamu kerja aja dulu yang
bener,nanti sore aku yang jemput kamu…” “Hms…ga usah,aku naik takxi aja.
Keberadaanmu lebih diperlukan kak Luna..” “Ya terserah kamu”ucap Marcell mulai
badmood. Aku tau,sejak aku datang lagi dikehidupannya,perlakuannya ke kak Luna
berubah dan sekarang ia harus melakukan apa yang tak dikehendakinya. Mungkin
saat ini ia bisa menahan,tapi nanti…?Ia akan benar-benar berontak. Aku
tau,karena aku pernah menjadi yang terpenting dalam hidupnya.
“Aku
bergegas masuk ke sebuah Rumah Sakit
yang dimaksud oleh mami dalam smsnya yang dikirimkan padaku. Setelah bertanya
pada receptionis rumah sakit aku segera menghampiri kamar yang dimaksud. Pintu
kamar kak Luna tertutup rapat. Aku mengetuk kamarnya beberapa kali lalu masuk
meski belum dipersilahkan. Aku tersenyum kaku saat beberapa memandang
kedatanganku. “Hallo Mi…”sapaku yang baru membuka pintu,aku memandang
sekitar,Hanya ada Mami dan Febri yang duduk disofa dekat tempat tidur kak Luna,
Sedang Marcell duduk di sofa ruang tamu yang disekat dengan kamar mandi. Lalu
ada sebuah lorong kecil yang ditutup sedikit dengan korden untuk menuju ke
tempat tidur pasien. Kamar VIP selayaknya hotel bintang tiga di lantai dua.
Mami membalas senyumku. Tapi tidak dengan Febri. Sedangkan Marcell memandangku
dengan wajah yang tegang. Kemudian aku masuk kedalam kamar dan segera
menghampiri Mami dan Febri, Aku hanya melirik Marcell sesaat lalu menunduk.
“Ngapain kamu kesini?”Tanya Febri sinis. “Mau liat kak Luna”jawabku singkat.
“Seneng ya kamu,Ras?Liat kak Luna seperti ini dan berharap kak Luna ngak akan
sadar lagi,gitu?”Febri mencecar aku. Aku binggung dan jantungku berdegup lebih
kencang. Keringat dinginpun kluar tak karuan. “Feb,jangan bertengkar
disini..Luna sedang istirahat…”mami memperingati dengan lembut. Aku yang berada
di belakang mami tiba-tiba di tarik Febri dengan kasarnya. Aku memandang mami
dengan penuh pertanyaan,tapi mami diam dan akhirnya mengacuhkan aku. Dia hanya
memandang kak Luna yang terbaring lemah. Aku memandang Marcell dengan penuh Tanya,saat Febri menarikku
melewati ruang tamu. Aku dihempaskan didepan kamar. “Dengar Ras…aku sudah tau
apa yang kamu lakukan dengan kak Marcell. Tega kamu ya..”makinya dengan
menggebu-gebu. Aku memandang Febri dengan tegang. “Cukup..Feb!!!kita bicara
diluar…”ucap Marcell sambil menarik tangan Febri menjauhiku. “Ikut
aku,Ras…”perintah Marcell. Aku menunduk dan mengikutinya dari belakang.
Kami
bertiga duduk di sudut café rumah sakit. Aku duduk dihadapan Febri sedangkan
Marcell duduk disamping Febri. Pandangan Febri seakan ingin menerkamku.“Kalian
berdua memang kejam…”Febri mengawali pembicaraan. Marcell tak mengatakan
apapun,hanya memandangku sekilas. “Feb…aku ngak tau apa yang kamu bicarakan
itu?tolong jelaskan padaku…”pintaku lembut sambil memegang tangan Febri. Febri
memberontak. “Kamu ngak usah sok manis ya,Ras. Aku tau selama ini apa yang kamu
lakukan pada kak Marcell. Aku piker kamu adalah adik yang baik,tapi ternyata
kamu pembunuh berdarah dingin..selama ini kamu pacaran kan sama kak
Marcell??”bentak Febri. Deg….!!!rasanya aku baru saja menerima hantaman yang
cukup keras dan hingga tak bisa bernafas. Keringat dingin yang mengucur makin
keras. “Kamu tau,Ras..gara-gara perbuatanmu itu kak Luna sekarang terbaring
disana. Kemarin sore,dia melihat kalian bersama,kalian berpelukan dan kak
Marcell mengantarmu pulang. Saat itu aku ingin segera menamparmu tapi kak Luna
melarangku. Ternyata kamu bejat juga ya,Ras…Ingat Ras..dia adalah calon kakak
iparmu..kenapa mau kamu pacarin juga??Semula aku tak percaya,tapi beberapa kali
aku mengikuti dan ucapan Moses ketika kita pergi bersama,aku mulai mengambil
kesimpulan bahwa kalian berdua selingkuh..”Febri berteriak dan tak tahan,hampir
saja ia menamparku,tapi karena terhalang meja, tanganya tak sampai kearahku.
“Biar kamu tau,gimana shcoknya kak Luna melihat calon suaminya berpelukan
dengan adik sepupunya sendiri. Pernah kah kalian memikirkan perasaannya? Aku
ngak ngerti apa yang ada dikepala kalian ini?”teriak Febri dengan kesal.
“Feb,bisa kah kamu mengecilkan sedikit suara kamu?”bentak Marcell.
“Biarin..biarin…semua tau gimana perbuatan kalian yang sudah berkhianat..”Febri
makin teriak. “Kalau kamu tidak bisa tenang,aku akan pergi…Ayo Ras kita
pergi…”ucap Marcell diplomatis. “Kaaaakkk…kamu benar-benar keterlaluan…”pekik
Febri. “Apa kamu udah ngak cinta lagi sama kak Luna?” Marcell memandang Febri
dengan sangar. “Coba katakan apa aku pernah mencintai Luna?” “Lalu selama ini
apa?”Febri membentak. “Agar kamu tau,Feb!!! Siapa wanita yang ku tinggalkan
demi rengekanmu dan demi jantung Luna…Dia orangnya!!”ucap Marcell sambil
menunjuk aku yang terus menunduk. Febri terperangah menatapku dan memekik. “Saras….??ngak
mungkin kak Marcell..” “Apa yang kamu bilang ngak mungkin itu jadi mungkin
disini…aku meninggalkan dia demi rengekanmu,demi Luna,demi orang tuaku dan
semua demi kalian. Gadis didepanmu ini yang lebih mengenal aku,ku tinggalkan
dengan bekas luka yang tak terobati. Dan kami bertemu lagi sekarang. Aku tak
pernah tau bahwa Saras adalah sepupu kalian. Dan saat ia datang lagi,aku ingin
meminta maaf dan meminta kesempatan kedua darinya..." bentak Marcell.
Febri melempar air dari botol mineralnya ke arah Marcell."Kamu
gila,kak...!!!kamu ngak boleh lakukan itu pada kak Luna. Dia bisa mati
kak.."Febri berkata dengan geram. "Cukup,Feb,Cell..."pekikku.
"Dengar,Feb.Ok aku mengakui semuanya,aku
memang jahat. Aku sudah berusaha untuk memaafkan Marell dan mulai
menjauhinya,aku merasa berdosa pada kalian...dan kamu tenang aja,Feb. Aku tak
akan mengambil Marcell. Marcell akan tetap bersama kak Luna,karena aku sudah
tidak mencintai Marcell lagi,aku etap setia pada Hendy dan akan begitu untuk
selamanya..."jawabku tegas. "Jadi,kamu ngak usah khawatir..dan satu
lagi,jangan pernah panggil aku sebagai pecundang. Aku tak pernah merebut
siapapun meski ternyata kamulah yang merebut Marcell dari aku.."tambahku
lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua dengan isakkan air mata yang sudah
kutahan sejak tadi. "Ras...Saras..."Marcell mengejarku dan menarikku
tapi aku menghempaskan tangannya. "Cell jangan ikuti aku!!aku mau
sendiri..!!"bentakku saat Marcell jngin menenangkanku.
"Tapi,Ras..aku.." "Cukup,Cell!! Dari awal sudah ku katakan, kita
ngak usah lagi berhubungan,inilah yang kutakutkan..tapi kamu ngakmau
ngerti" "Semua sudah terlanjur,Ras. Toch mereka harus tau, bahwa
diantara kebahagiaan mereka,ada orang terdekat mereka yang menyelamat anak
mereka.." pekik Marcell. “Tapi sudahlah,Cell..mereka ngak perlu tau. Kalau
sudah begini, lalu aku harus bagaimana??” Aku mulai menurunkan nadaku. Dan
duduk di pinggir koridor rumah sakit sambil menangis. Beberapa orang yang lalu
lalang melihat kami dengan pandangan wajar. Di rumah sakit segala sesuatu bisa
terjadi,mungkin itu yang mereka pikirkan. Marcell mendekatiku,duduk disampingku
dan memelukku. Aku menangis
sejadi-jadinya dalam pelukan hanyatnya,menumpahkan segala rasa sesak yang
mengganjal di dadaku. Kalau sudah seperti ini apa aku masih sanggup bertemu
mami? dengan kak Luna,dengan semuanya.
Berjam-jam
aku duduk terisak ditemani Marcell. Beberapa panggilan dari Febri dan mami tak
di ubrisnya. Ia lebih memilih menenangkan diri denganku untuk sejenak.
“Cell,kembalilah…mereka membutuhkanmu”suruhku setelah cukup lama kami hanyut
dalam perasaan kami masing-masing. “Aku akan tetap disini ,Ras. Ini udah malam
dan aku ngak mau kamu sendirian disini..”tolaknya. Aku memandangnya dengan
seulas senyuman. “Cell,aku cewek yang tangguh dan ngak takut apa-apa. Kalau
udah tenang,aku pasti nyusul kamu kekamar kak Luna…Aku janji”ucapku.
“Tapi,Ras..”Marcell memegangi tanganku. Aku menghela nafas panjang sambil
memandang tangannya. “Cell,aku baik-baik saja. Justru kamu yang seharusnya ngak
disini. Kamu harusnya ada disana,nemenin kak Luna. Dia lebih membutuhkan
kamu..dia ngak salah,Cell. Dia shock ngeliat kita berdua dan dia wajar menaruh
curiga pada kita. Yang salah itu kita. Dia seperti ini karena dia sayang sama
kamu dan ngak mau kehilangan kamu. Kamu memiliki arti penting dalam hidupnya.
Aku bisa hidup tanpa kamu. Jadi jangan egois,Cell. Cukup aku yang merasakan
sakitnya kehilanganmu dan jangan ulangi pada kak Luna. Dia kakakku dan aku ngak
mau hal itu terjadi pada keluargaku. Ingat,Cell..aku baik-baik saja…”kataku
yang mencoba tegar dengan linangan air mata yang meleleh lagi. Aku melepas
tangannya dan menyuruhnya pergi,mencoba tersenyum dihadapannya meski rasa sakit
itu kini mengulitiku. Aku ngak tau harus berbuat apa. Aku menghela nafas
beberapa kali mencoba tenang dan menahan untuk tidak menangis lagi. Yang ku
butuhkan saat ini adalah sosok Hendy. Paling tidak ia bisa membuatku tenang.
Tapi yang ada hanya bayang-bayangnya saja yang membuat aku makin terpuruk.
Aku
mencuci mukaku di wastafle,memandang wajahku yang terlihat lebih segar.
Berulang kali aku bernafas untuk membuat diriku lebih rilex agar siap untuk
bertemu dengan mami. Setelah merapikan rambutku,aku berjalan pelan menuju ke
kamar kak Luna sambil menenangkan diri untuk bisa bersikap dihadapan mereka.
Aku
tiba didepan kamar kak Luna,terdengar riuh dengan beberapa orang didalamnya.
Yang pasti bukan hanya Marcell,mami dan Febri saja. Kembali aku menghela nafas
panjang. Bertampang manis seolah tak terjadi apa-apa. Ku beranikan mengetuk
beberapa kali. Terdengar orang yang menyilahkan masuk. Aku segera membuka
handle pintu dengan lebar. Kini semua mata tertuju padaku. “Selamat
malam…”sapaku dengan senyum yang lebar. “Tante Salas….”teriak Moses. Aku
tersenyum kecil. “Masuk,Ras….”suruh mami. Aku melangkahkan kakiku masuk dan
segera menghampiri mami dan keluarganya yang berkumpul mengelilingi kak Luna di
tempat tidurnya. “Kak..gimana,udah baikan?”sapaku setelah dekat dan melihat kak
Luna yang sudah sadar dan bisa tersenyum didekat Moses. Kak Luna hanya menjawab
dengan senyuman. Aku masih kaku berada ditengah-tengah mereka. Rasa canggung
pada mami dan keluarganya,terlebih ada papi,menantu dan cucu-cucu mami yang
kumpul disitu. Aku hanya berada didekat kak Frans sambil sesekali tersenyum
melihat polah Moses. Sebenarnya aku sangat ingin untuk segera pergi dan ngak
balik lagi. Aku cukup stress berada ditengah-tengah mereka. Sesekali aku
melihat Marcell yang duduk didekat kak Luna.
Aku
turun dari takxi dengan lemas. Ingin segera masuk dan merebahkan diriku diranjang.
Hari ini benar-benar menyita tenaga dan perasaanku. Aku ingin melupakan hari
ini,jika bisapun aku ingin membenturkan kepalaku ditembok agar saat aku bangun
besok pagi aku tak ingat apa-apa. Aku hela nafas panjang berkali-kali,harus
sampai kapan aku disini?aku sudah tidek betah dan ingin segera pulang ke
Denpasar. Rasanya hidupku lebih tenang disana.
“Mbak,wajahnya
kok pucet banget. Habis begadang ya?”tegur pak Robin yang pagi ini ku pinta
untuk menjemputku. Aku tersenyum kecil. “Iya,Pak. Saya kelelahan” jawabku
singkat. Dan aku tak mau banyak bicara,karena kepalaku masih sangat pening.Aku
hanya ingin segera tiba dikantor tanpa banyak pertanyaan lagi yang akan timbul
nantinya.
Aku
duduk didepan computer sudah hampir tiga jam,dengan memaksakan mataku untuk
terus melek dan memperhatikan angka satu persatu. Terasa sangat melelahkan
daripada hari biasanya. Aku menghela nafas dan meminum sisa dari kopi yang ada
dimejaku. Tak lama telpone dikantorpun bordering dan memecahkan kesunyian. Aku
mengangkat dengan sopan dan mendengar perkataanya pelan-pelan. Kabar gembira
buatku!! Dua hari lagi aku akan segera kembali ke Denpasar. Bersamaan dengan
hadirny si anak baru yang akan menganti posisiku disini. Aku tersenyum lebar.
Setelah menutup gagang telepon. Cepat-cepat aku membuka email dan segera
mencetak tiket keberangkatanku. Aku tersenyum dan membayangkan wajah Hendy yang
akan bersinar mendengr berita ini. Sudah hampir satu setengah bulan aku tak
bertemu denganya. Terakhir kali bertemu,waktu minggu pertama aku di Surabaya.
Sejak itu,dia ngak bisa lagi mengambil cuti walau hanya dua hari saja. Artinya
aku bisa merayakan natal bersama Hendy. Tiba-tiba saja ada rasa rindu yang
mendesak-desak didadaku. Entah rasa rindu yang timbul akibat dari pelampiasan
atau rasa rindu yang benar-benar iklas. Aku tak paham,tapi yang jelas aku hanya
ingin bertemu Hendy dan melampiaskan semuanya.
Sepulang
kerja aku tak langsung pulang. Tapi aku kerumah sakit terlebih dahulu,sekalian
pamit bahwa lusa aku akan balik ke Denpasar. Meski sebenarnya aku ngak pengen
menemui mami dan keluarganya terlebih kak Luna dan Marcell. Ada rasa segan dan
enggan untuk menemui mereka. Mungkin setelah ini,aku butuh waktu yang lama
untuk tidak menemui mereka sampai mereka menikah. Aku memberanikan diri dengan
sekuat tenaga untuk memasuki koidor rumah sakit. Tiba di depan pintu kamar kak
Luna,aku beberapa kali menghela nafas panjang hanya untuk menenangkan diriku
saja. Aku mengetuk pintu beberapa
kali,saat ku dengar perintah untuk masuk, aku baru membuka handle pintu dan
masuk. Ruangan sepi sekali,hanya ada desah nafas dan suara ac yang terdengar.
“kak Luna..mami..”panggilku sambil
melangkah ke ranjang kak Luna. “Iya..”jawaban dari seorang pria itu
menenangkan ku. Aku membuka korden yang menjadi sekat antara ranjang dengan
ruang tamu. “Permisi..”bisikku. Saat itu juga aku melihat kak Luna yang
terbaring dengan Marcell disebelah ranjangnya. “Oh..maaf kalau aku ganggu…kak.
Aku keluar aja dulu…”kataku cepat-cepat. “Ngak usah,Ras..sini aja nemenin
aku”ucap kak Luna pelan yang membuatku mengurungkan niat untuk pergi. Aku duduk
di sebuah sofa dekat ranjang. Canggung sekali rasanya. Aku hanya diam dan
menunduk,tak berani memandang kedepan. “Ras…”panggil kak Luna. “Iya…”bisikku
sambil menoleh ke arahnya. “Duduk sini…aku mau ngomong…” ajaknya yang
menyuruhku berada di dekat Marcell. Aku melakukan apa yang dimintanya dengan
masih menunduk. “Iya kak,ada apa?”bisikku dengan dada yang yang berdetak lebih
cepat dari biasanya.Kemudian melirik Marcell dan menunduk lagi. “Aku mau minta
maaf,Ras…”katanya yang tiba-tiba bangkit dan memelukku. Aku terperangah saat
kak Luna berkata berkata seperti itu dan memeulukku. “Aku minta maaf,Ras. Untuk
semuanya. Mungkin kamu ngak akan pernah memaafkan aku tapi….” “Kak..ini ada
apa?” “Ras,aku sudah mengambil Marcell dari kamu,aku ngak tau kalau ternyata
Marcell itu milikmu…” katanya dengan nada sedih. Aku terdiam mendengar
perkataannya. Meski rasa hatiku tak karuan dan ingin menangis sekerasnya
namun,aku tak mau kak Luna tau perasaanku yang sebenarnya terhadap
Marcell. “Sudahlah kak,itu adalah masa
lalu yang tak perlu di ingat-ingat kembali,tapi saat ini..sekarang ini..Marcell
adalah milik kakak..lagian aku sudah tidak mencitai Marcell lagi..”kataku
mencoba menenangkan kak Luna dan tersenyum manis setelah melepas pelukannya.
“Satu hal yang ingin aku klarifikasi sama kakak,sebelum kakak salah paham. Aku
dan Marcell hanya ingin menyelesaikan malasah kita yang belum kelar…waktu itu
dia pergi tanpa bilang-bilang..dan aku kaget waktu ketemu sama Marcell
dirumah…tapi jujur kak,aku tidak ada niatan untuk mengambil Marcell lagi dari
kakak,lagian kakak akan segera menikah sama Marcell dan lambat laun,Hendy juga
akan melamar aku.. jadi sangat kecil kemungkinanku untuk bersama Marcell…bukan
begitu,Cell…”kataku dengan manis sambil memandang Marcell. Marcell tidak
menjawab,aku mengalihkan pandanganku untuk menahan air mata yang mendesak-desak
ingin keluar. “Jadi kakak ngak usah takut lagi ya,Marcell seutuhnya milik
kakak…”kataku lagi sambil menyatukan tangan kak Luna dan Marcell.
Aku
hanya mampu memandang sedih saat tangan mereka berdua menyatu. Rona bahagia
terpancar dari wajah kak Luna,tapi tidak dengan Marcell. “Apapun yang
terjadi,kalian adalah pasangan yang sangat cocok. Aku berdoa buat kalian supaya
kalian bahagia….”kataku penuh senyum. "Hms....kalian tunggu disini
ya...aku mau keluar sebentar..."pamit Marcell sambil menghela nafas untuk
menhalihkan pembicaraan. Mungkin ia tau bagaimana bagaimana kesedihanku yang
takmterungkapkan itu. Aku mengangguk pelan dengannsedikitvsenyum yang
dipaksakan ke arahnya. "Jangan lama-lama ya,sayang..aku butuh kamu
disini"ucap kak Luna pelan sambil tersenyum. Marcell tak menjawab,hanya
mengangguk pelan. Sekepergian Marcell,tinggal aku berdua dengan kak Luna. Aku binggung
harus mengatakan apa? Aku hanya ingin segera keluar dari sini dan menangis
sekeras-kerasnya hanya untuk melegakan hatiku. "Ras, aku minta maaf
ya,atas kelakuan Febri..."katanya yang memulai pembicaraan.
"Ahh...hms...ngak apa-apa kak. Semua hanya salah paham...Febri kan ngak
tau apa yang sebenarnya terjadi..ya sudahlah kak,ngak usah dibahas lagi. Toch
semua sudah jelas dan ngak ada lagi yang harus dicurigai..." jelasku. Kak
Luna diam setelah mendengar jawabanku. "Kamu yakin??" "Yakin
apa,Kak?" "Yakin sudah merelakan Marcell..??" Deg...aku diam
dengan pertanyaan menjebak itu. "Iya..."jawabku kecil,namun
pandanganku tak tertuju pada pada kak Luna. Aku takut mataku tak dapat menahan
bendungan air yang ingin keluar. "Ras...kamu..." "Kak,dengarkan
aku! Aku sudah melupakan Marcell dan ngak akan pernah terfikir olehku bahwa aku
akan kembali padany. Kalaupun ada,sudah kulakukan sejak awal pertemuanku
dengannya. Tapi hingga detik ini,semua itu tak kulakukan. Karenapa apa? Karena
aku sudah membencinya, karena dulu ia sudah meninggalkanku begitu saja tanpa
ada penjelasan dan kata-kata putus. Itu yang membuat aku sakit. Jadi kalau
kakak menanyakan padaku,apa kah aku yakin sudah melepasnya,aku menjawab dengan
tegas tidak! Tidak ada kesempatan kedua buat aku dan Marcell. Agr kakak
tau,bahwa sebenarnya,aku membencinya dan apa
yang kakak lihat antara aku dengan Marcell hanya untuk menyelesaikan
urusan kami yang lalu dan ngak da hubungannya dengan masa kini. Saat ini antara
aku dan Marcell sudah berubah. Jadi kakak tak usah khawatir akan hal
itu"jawabku tegas yang membuat kak Luna sedikit kaget melihat sikapku.
"Maaf, Ras...aku ngak bermaksud untik..." "ngak apa-apa kak. Aku
yang minta maaf.Ngak seharusnya aku berkata seperti itu" ucapku lemas.
Kami hanya terdiam untuk waktu yang lama. Hanyut dalam perasaan masing-masing.
"Kak..maaf,aku
ngak bisa lama-lama disini..." "Kamu ngak nunggu mami dulu?mami
bentar lagi juga dateng.." "Ngak usah dech...lagian aku juga mau
pamit. Lusa aku balik ke denpasar. Jadi mungkin aku ngak bisa datang lagi,
soalnya aku ikut penerbangan pagi.." "Loh kok mendadak gitu?"
"Iya kak,baru tadi pqgi aku ditelpon kantor pusat. Sudah ada penggantiku
disini.." "Ohhh begitu. Kalau gitu,biar Febri yang antar kamu ke
bandara.." "Ahh ngak usah, sudah ada yang akan mengantar
aku.."tolakku. "Ohh begitu..ya sudahlah kalau begitu. Kamu hati-hati
ya, dan jangan lupa datang saat pernikahanku ya.."pasannya. Aku tersenyum
kecil,memeluknya dan segera pergi tanpa menunggu pamit pada Marcell.
Keluar
dari kamar kak Luna,barulah air mataku keluar denhan derasnya. Aku bersender
pada tembok dan beberapa kali mengusap air mataku. "Ras..."panggil seseorang yang
membuatku kaget. Cepat-cepat aku melap air mataku dengan tissu. "Cell..."bisikku.
"Kak Luna udah nunggiin kamu dari tadi..."ucapku bohong. Tapi Marcell
malah memelukku. "Kita kekantin sebentar mau?" "Ajaknya. Aku
memgangguk pelan. Setibanya dikantin,akunduduk berdampingan dengan Marcell.
"Ras,menangislah..aku tau kamu pengen nangis kan????" Ucapnya tiba-tiba
dengan penuh kelembutan.
Tanpa banyak kata aku memeluknya, aku
menangis keras di dadanya. Menangis sedih,meluapkan isi hatiku yang tak
tertahankan sejak tadi. Marcell mengelus-elus rambutku sambil menciumi
keningku. "Aku minta maaf ya,Ras"bisiknya. Aku menggeleng diantara isak
tangisku. Ia pun tak mengatakan apap-apa lagi. Hanya ini yang aku butuhkan saat
ini. Bisa berada dipelukanya saja, sudah cukup menenangkan hati untuk saat ini.
Marcell
mengusap mataku yang sembab. "Minum dulu,Ras"katanya sambil memberiku
sebotol air mineral.Aku meminumnya, memandangnya sejenak lalu tersenyum dengan
dipaksakan. "Maaf...aku jelek ya kalau lagi kayak gini..."tawaku. Dia
membalasnyabdengan tersenyum. "Ngak...buatku,kamu tetap cantik"
"Makasih ya,Cell…” “Maafin aku ya,Ras..aku ngak punya kekuatasn untuk…”
“Udah ngak usah ngomong kayak gitu lagi,ntar aku nangis lagi nich…” Marcell
tersenyum kecil. “Oh ya,Cell…aku mau pamit,lusa aku kembali ke Denpasar. Sudah
ada pengganti ku disini. Aku berangkat dengan penerbangan pertama…” “Kok
mendadak?”tanyanya kaget.“Iya,aku juga baru dikasih tau tadi pagi…Paling ngak
aku lega,Cell…aku ngak akan ketemu kamu lagi dan kamu bisa melanjutkan hidup
dengan kak Luna tanpa ada bayang-bayangku lagi…aku seneng,Cell…akhirnya kalian
bisa bahagia lagi” kataku pura-pura senang,meski kenyataanya aku sedih sekali.
Marcell memelukku erat. “Aku akan baik-baik saja,Cell…”kataku lagi. Marcell
melepas pelukannya dan memandangku sedih. “I’m fine..”jawabku penuh senyum
hanya untuk menghibur saja. “Ya udah,aku pamit ya. Mungkin besok aku ngak
kesini. Aku mau packing-packing. Sekarang kamu temenin kak Luna gih. Dia butuh
kamu,dia cinta mati sama kamu,Cell”kataku lagi dan segera pergi tanpa banyak
kata-kata. Semakin aku disana,makin aku tak dapat mengendalikan diriku. “Aku
antar kamu sampai dapat takxi..” ucapnya sambil menggandeng aku. Aku meronta.
“Ngak usah,Cell…aku bisa sendiri. Kak Luna butuh kamu,jangan buat hatinya
hancur lagi. Terlebih bila dia tau kamu bersamaku..sudahlah,Cell. Kamu lebih
baik pergi. Aku ngak apa-apa. Aku kuat..”aku membujuk Marcell agar tetap
tinggal sedangkan aku segera pergi tanpa berani menoleh kebelakang. Aku ngak
mau dia melihatku menangis lagi.
Dengan
tertatih-tatih aku membawa dua koper besarku dan sebuah tas turun dari lantai
dua kamar kosku. Aku sudah pamitan dengan pemilik kost bahwa hari ini aku
berangkat pagi-pagi. Hanya tinggal menunggu takxi yang baru ku telpone. Jam
baru menunjukan pukul empat lebih lima belas menit. Masih ada waktu sampai jam
lima untuk tiba dibandara. Karena penerbangan pertama ke Denpasar adlah pukul
enam pagi. Sejak semalam Hendy tak habis-habisnya menghubungiku. Rasa girang
yang teramat sangat ditujukan untuk menyambut kedatanganku. Aku mempercepat
langkahku untuk turun saat aku mendengar suara mobil mendekati rumah kostku ini.
Aku mengerutkan keningku saat aku melihat mobil Marcell didepan kostku dan bukan takxi yang kupesan.
“Morning,Ras…”sapanya
ramah sambil keluar dari mobil dan membantuku menaikan koper-koperku kedalam
mobilnya. “Cell…aku….” “Sudahlah,Ras…aku yang antar kamu ke bandara…”
“Tapi…bagaimana dengan takxiku??” “Tinggal cancel saja. Sudah ngak usah banyak
perlawanan. Aku mau nganterin kamu dan kamu ngak boleh protes…”
“Tapi,Cell…gimana kalau….” “Ras,dengerin aku..Luna ngak akan tau aku
mengantarmu kesini. Dan jangan membantah.Hanya untuk terakhir
kalinya,Ras..jangan bertengkar lagi…”pintanya sambil menarik tanganku. Aku diam
dan mengikutinya yang membukakan pintu penumpang.
“Kenapa
kamu harus lakukan hal seperti ini sich,Cell???” aku membuka pembicaraan setelah
lama terdiam. “Karena sayang,karena cinta yang tak bisa memiliki..sampai
kapanpun akan selalu seperti itu. Jangan paksa aku lagi,Ras..”jawabnya
diplomatis dengan pandangan yang tetap lurus. Aku diam,meliriknya dan linangan
air mataku jatuh lagi. Tapi cepat-cepat ku hapus. “Ini untuk yang terakhir
kalinya ya,Cell…Setelah kamu menikah dengan kak Luna,kamu ngak boleh gini lagi
meski kamu ketemu aku lagi…oke,Cell…ini perjanjian antara kita perdua. Harus
membahagiakan pasangan masing-masing…”kataku penuh semangat,hanya untuk
menghibur diriku saja. Marcell diam saja,tak menjawab apa-apa. Betapa tragisnya
kisahku dengan Marcell. Cinta yang tak bisa memiliki itu saling berkaitan dan
rumit. Tak ada celah dan kesempatan lagi untuk bisa bersama.
Suasana
bandara Juanda belum terlalu ramai,masih jarang karena masih terlalu pagi untuk
menjalankan aktifitas. Hanya segelintir orang saja yang melakukan penerbangan
sepagi ini. Marcell membantuku membawa koper-koperku dengan troli sampai
diruang tunggu. “Cell,makasih ya..”ucapku sebelum aku mengambil alih troliku.
Marcell memelukku tiba-tiba. Aku menghela nafas panjang. Aku menenangankan
diriku agar tidak menangis. “Makasih buat semuanya ya…aku harus berangkat dan
aku titip kak Luna…”jawabku sambil mengelus-elus punggungnya. “Jaga diri
ya,Ras…sampai kapanpun cintaku hanya untukmu..maafkan aku atas ketidak
mampuanku melawan kondisi ini…” Aku tersenyum menahan air mataku.
Aku
segera membalikan badanku dan masuk untuk check ini. Lagi-lagi aku tak
membalikan badanku,aku takut air mataku jatuh lagi. Setelah melakukan check
ini,aku menunggu diruang tunggu,menahan segala rasa yang akan ku tinggalkan di
kota ini. Berkali-kali aku me-reject ponselku saat Marcell menelponku. Rasa
sakit itu kini mencabik-cabik aku dan rasanya aku tak kuat lagi menahannya.
Hampir jatuh dan terjerembab lagi,mencoba untuk bertahan hanya untuk seorang
pria yang menantiku dipulau sebrang sana.
Pukul
enam waktu Indonesia barat,pesawat komersial tujuan Denpasar pun berangkat
dengan menyisakan sejuta kesedihan yang telah kualami. Rasanya aku enggan untuk
datang kembali.
Matahari
sedikit demi sedikit mulai berterik dengan indahnya,saat pesawat yang ku
tumpangi telah mendarat di bandara Ngurah Rai. Aku keluar dari perut pesawat
dengan sambutan ramah udara pagi dan basahnya tanah bali akibat hujan. Setelah
menanti bagasiku,aku melangkahkan kakiku dengan lemah menuju pintu keluar.
Bandara sudah ramai dan aku harus celingukan mencari sesosok pria yang telah
menantiku sedari tadi.
“Taa……”teriak
seseorang saat aku baru keluar dari pintu kaca. Aku tersenyum lebar.
Meninggalkan trolyku dan berlari kearah Hendy. “Ciiinnn…aku kangen…”teriakku
sambil berhamburan dan setelah dekat,ku peluk tubuh tegapnya dan menangis
kecil. Linangan itu,bukan karena rasa rinduku yang tak terungkapkan tapi karena
cinta yang tak dapat ku miliki dari seorang Marcell. Meski kini aku harus
benar-benar merelakan semuanya. Berpasrah dan kembali menjalani hidupku bersama
Hendy,setelah aku bertemu dengan Marcell ataupun sebelum aku bertemu dia lagi.
Akan menjadi sebuah rahasia yang tak akan terungkapakan tentang perasaan
cintaku pada seorang Marcell.
TAMAT
Pulau Misol no 78 Denpasar 290813 5.03pm
By Ochi Saraswati
Cerita ini hanya fiktif belaka,apabila ada kesamaan nama
tokoh,tempat dan kejadian itu hanya kebetulan semata.





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar